Selasa, 21 Juli 2009 | 14:38 WIB
*KOMPAS.com* - Bila tak ada gangguan sistem syaraf pusat, bayi akan berjalan dengan sendirinya. Meski begitu, stimulasi tetap diperlukan agar bayi mampu berjalan tegak dan cekatan.
Hal ini ditegaskan lagi oleh psikolog Gisella Tani Pratiwi, M.Psi, yang mengatakan, “Pada dasarnya bayi tidak perlu diajarkan untuk menguasai kemampuan motorik kasar seperti berjalan karena mereka akan berjalan dengan sendirinya. Tapi dengan catatan sistem syaraf pusat, otot, dan tulang telah matang, dan mereka mendapatkan ruang dan kebebasan untuk bergerak atau/bereksplorasi.” Bila semua syarat di atas terpenuhi, Gisella yakin, bayi mampu menstimulasi dirinya sendiri untuk bisa mencapai tahap demi tahap jenjang perkembangan motorik kasar.
Meski demikian, Gisella tak menampik bahwa bahwa kemampuan berjalan bayi tak bisa dilepaskan dari perkembangan kemampuan lainnya. “Kemampuan berjalan bisa diraih seorang bayi atau anak karena telah menguasai kemampuan lain sebelumnya seperti kemampuan mengangkat kepala, kematangan tulang penyangga, kemampuan menjaga keseimbangan, dan kemampuan duduk sendiri. Maka dari itu orangtua sebaiknya memerhatikan perkembangan bayi secara menyeluruh, tidak hanya terfokus pada satu hal
saja dan memberikan stimulasi sesuai dengan tahapan perkembangannya ini.”
Anda memiliki berbagai pertanyaan lain tentang kemampuan berjalan pada anak? Hal-hal berikut mungkin dapat menjawabnya.
*Meskipun pada saatnya nanti si bayi bisa jalan sendiri, kenapa tetap disarankan untuk tetap menstimulasi agar perkembangan motorik kasarnya optimal?
*Dengan menstimulasi perkembangan motorik kasar bayi, maka kemampuan berjalan bayi akan berkembang semakin optimal. Dengan distimulasi, ditambah memberikan keleluasaan bergerak, ia akan semakin “ahli”’ dalam bergerak. Bayi akan semakin mampu mengenali tempat-tempat yang berbahaya seperti lantai yang tidak rata, tangga, jalan yang menanjak, dan sebagainya. Juga semakin terlatih untuk menempatkan kaki-kakinya agar tidak mudah terjatuh. Dia juga akan semakin terlatih, tahu jika bahaya yang ada di sekitarnya.
*Apakah semua bayi akan menapaki jenjang perkembangan motorik kasar?
*Secara umum, jika bayi mendapat gizi yang baik, mendapatkan kasih sayang yang cukup, memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi ruang gerak, serta memiliki kesempatan untuk melatih kemampuan motoriknya, maka perkembangan motorik bayi tidak akan mengalami keterlambatan. Tapi jika sebaliknya, maka perkembangan anak akan mengalami keterlambatan.
*Kapan normalnya anak bisa berjalan?
*Kebanyakan anak dapat melakukan langkah pertamanya ketika berusia 11 – 14 bulan. Namun harus diingat, perkembangan anak amat bervariasi. Ada anak yang bisa berjalan ketika berusia 8 bulan, ada yang baru bisa berjalan ketika berusia 17 bulan.
*Bagaimana bila di usia 17 bulan belum bisa berjalan juga?
*Jika ada anak belum bisa berjalan saat berusia 17 bulan ke atas, anak tidak juga berjalan setelah mengalami pelatihan khusus selama beberapa bulan, atau anak berjalan dengan cara lain dan bukannya menggunakan jari-jari kaki, kita harus segera mengonsultasikannya dengan dokter anak untuk dirujuk pada ahli ortopedi atau ahli syaraf. Dikhawatirkan ada hal-hal lain dengan latar belakang medis yang harus ditangani terlebih dulu. Orangtua juga perlu mengetahui, dalam perkembangan motorik kasar, jika anak memiliki berat badan yang berlebih atau lahir prematur, bayi tersebut cenderung memiliki keterlambatan dalam perkembangan motorik kasarnya.
*Bagaimana cara menstimulasi motorik kasar kaki bayi?*
Stimulasi dilakukan untuk membantu anak mengembangkan kemampuan perkembangannya. Maka stimulasi sebaiknya dilakukan sesuai dengan tahap perkembangan anak dan kemampuan anak. Stimulasi juga harus dilakukan dengan dasar pandangan bahwa setiap anak memiliki dinamika perkembangan yang unik serta menyeluruh. Arti menyeluruh adalah masing-masing aspek perkembangan saling berkaitan satu sama lain. Seperti jawaban saya sebelumnya, sebelum berjalan bayi telah melalui tahap penguasaan
keahlian lainnya. Maka stimulasi yang diberikan pun sebaiknya sesuai dengan tahap perkembangan masing-masing anak. Stimulasi yang diberikan lebih awal, jika tidak diberikan dalam cara yang memaksa dan menyakiti anak, boleh-boleh saja dilakukan karena tidak akan mengakibatkan masalah bagi anak.
*Perlukah alat bantu untuk menstimulasi motorik kasar bayi?
*Dalam menstimulasi, hal pokok yang harus diperhatikan adalah peran orangtua mencari berbagai cara kreatif untuk menstimulasi kemampuan berjalan. Aktivitas itu dapat dilakukan dengan mainan atau alat bantu sederhana lain. Pastinya alat bantu apa pun sebaiknya digunakan dalam pengawasan orang tua atau pengasuh. Hal lain yang perlu diperhatikan demi keselamatan anak adalah tetap menjaga anak berjauhan dari benda-benda panas, benda-benda yang bertali atau berkabel, serta berjauhan dari sumber-sumber air. Penggunaan /babywalker/ , dari berbagai penelitian sangat tidak disarankan untuk digunakan dalam membantu anak berjalan. Aspek keamanan dalam penggunaan /babywalker/ sangat rendah.
Artinya dengan mudah bayi dapat terjatuh dari tangga, terjepit tangannya, mengalami luka kepala, bahkan kematian ketika menggunakan /babywalker/ .
*Jika untuk bayi gemuk, bagaimana menstimulasi motorik kasarnya?
*Menurut penelitian, ditemukan korelasi antara keterlambatan perkembangan motorik dengan kondisi bayi yang tergolong gemuk. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah faktor kegemukan adalah satu-satunya penyebab keterlambatan perkembangan motorik pada bayi yang gemuk. Untuk stimulasi yang diberikan tidak jauh beda seperti yang dilakukan pada bayi berberat badan normal lainnya. Hanya mungkin dilakukan lebih intens dan lebih sabar. Namun, yang paling penting, kondisi bayi yang gemuk ini perlu juga dikonsultasikan secara khusus dengan dokter karena selain menghambat stimulasinya, kegemukan juga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan lain.
Tampilkan postingan dengan label bayi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bayi. Tampilkan semua postingan
Kamis, Juli 23, 2009
Selasa, November 04, 2008
10 misteri bayi— kini terpecahkan!
Abel (18 bulan) tiba-tiba bersorak, “Yeah!” Tidak jelas mengapa ia bersorak seperti itu. Apakah untuk acara TV yang sedang asyik ditontonnya atau untuk menyambut sang mama yang baru pulang bekerja. “Itu tidak penting. Yang pasti nih, saya ikut-ikutan bersorak. Abel pun terkikik-kikik sampai bahunya terguncang-guncang. Entah mengapa waktu itu ia memamerkan gaya tertawa yang agak…. aneh,” tutur Ria Suryadi, mama satu anak yang tinggal di Perumahan Green Garden, Jakarta Barat.
Tiap harinya, ada saja polah baru Abel. Sekarang tertawa terkikik-kikik, padahal kemarin dia menangis tersedu-sedu dan kelihatan sedih sekali. Dan semua itu dilakukannya untuk menarik perhatian mama tercinta. Suami Ria sampai terkagum-kagum melihat ulah si kecil, bahkan berulang kali bertanya, “Siapa sih, yang ngajari dia tertawa seperti itu?” Atau kadang-kadang terselip nada bangga dari ucapannya, “Jangan-jangan ia punya bakat akting.”
Dulu, Ria cuma mengangkat bahu melihat polah Abel yang suka macam-macam. Tapi setelah curhat dengan beberapa sahabat yang punya anak lebih kecil dari Abel – plus mereka mengalami hal serupa – Ria jadi mengerti kalau sebagian besar tahapan tumbuh kembang tidak muncul begitu saja. Ternyata anak melatih dirinya setiap hari – dan dalam proses berlatih itu mungkin saja beraksi dengan cara yang mengejutkan, membingungkan, atau bahkan mengkhawatirkan.
Butuh bukti? Simak deh, cerita seru sahabat-sahabat saya tentang anak-anaknya. Plus simak juga penjelasan dari pakar perkembangan seputar apa yang terjadi pada bayi-bayi mereka.
1. “Bayi saya tidak pernah merangkak.”
“Tidak seperti kedua kakaknya, Dea (sembilan bulan) tidak melalui tahapan merangkak. Setelah mahir duduk, ia langsung berdiri dan merambat pada benda-benda di sekitarnya untuk mengambil sesuatu. Normal nggak, sih?” tanya Lani Wijaya, mama tiga anak yang tinggal di Petojo, Jakarta Pusat.
Pemecahan misteri: “Merangkak adalah keterampilan yang sifatnya teknis, dan tak ada cara paling benar untuk melakukannya,” kata Alison Gopnik, Ph.D., profesor psikologi di University of California, Berkeley, sekaligus penulis The Scientist in the Crib. “Beberapa bayi merayap di atas perutnya; sedangkan lainnya merangkak mundur. Sebagian lagi malah tidak pernah merangkak – dari duduk langsung berjalan.”
Gopnik menambahkan, “Bayi yang bobotnya lebih berat butuh waktu lebih lama untuk berlatih merangkak ketimbang bayi yang lebih kurus. Ini berarti bentuk tubuh bisa mempengaruhi gaya merangkak si kecil.”
2. “Reaksi si kecil suka berlebihan.”
“Pertama kali diajak ke Ancol, Dino (satu tahun dua bulan) senang sekali. Dengan antusias, ia berjalan di area jogging track yang ada di pinggir pantai. Tapi, begitu kami pindah ke area yang berpasir, ia langsung mogok jalan. Selain kelihatan ngeri, geli, dan jijik; Dino minta digendong dan tak mau sedetikpun bermain di pasir,” cerita Deviana, mama tiga anak dan warga Grogol, Jakarta Barat. “Rencananya sih, saya ingin memperkenalkan suatu pengalaman yang baru. Terbayang betapa gembiranya si kecil bermain di atas pasir yang lembut. Tapi ternyata.…”
Pemecahan misteri: Anak sering bereaksi berlebihan begitu menemukan sesuatu yang kontras. Tapi, itu juga merupakan pertanda baik. “Reaksi tersebut adalah sinyal kalau bayi semakin matang dan mampu membedakan sesuatu yang benar-benar lain,” tutur Stefanie Powers, pakar tumbuh kembang anak di Zero to Three, Washington, D.C. Bisa jadi, bayi Anda untuk pertama kalinya akan memperhatikan hal kontras yang ada di atas lantai, sesuai jarak pandangnya.
3. “Apakah sudah benar-benar bisa berteman?”
“Suatu Minggu, saya ajak Andin (satu tahun lima bulan) ke rumah Ricky, sepupunya yang sebaya, biar bisa main bersama. Tapi yang terjadi, Ricky malah tak mau lepas dari gendongan mamanya. Dan Andin? Ia malah lebih asyik memperhatikan botol jus yang dikocok-kocok mamanya Ricky. Bahkan, ia memandang dengan penuh takjub,” cerita Cynthia Djordy, mama dua anak yang bermukim di perumahan Jaka Sampurna, Bekasi Selatan. Gagal deh, misi Cynthia untuk mengajarkan Andin bersosialisasi.
Pemecahan misteri: “Selama ini, bayi-bayi dianggap tidak pernah memperhatikan anak lain,” kata Powers. Juga, tambahnya, ada daya tarik tersendiri dari gerakan cepat seseorang yang setinggi jarak pandangnya. “Bayi-bayi biasanya tertarik pada anak-anak yang duduk di lantai bersamanya dan suka bermain, serta tidak suka duduk diam di kursi seperti halnya orang dewasa.”
4. “Kok tak ada capeknya?”
“Setelah mahir duduk, Mandy (10 bulan) rajin memamerkan kemampuan berdirinya pada seluruh anggota keluarga. Dari posisi duduk, ia lalu berdiri dan bergoyang-goyang sebentar sambil memandang ke arah kami dengan bangga. Lucunya, hal itu tidak cukup dilakukan sekali saja, melainkan ‘harus’ berkali-kali. Saya tak habis pikir. ‘Apa nggak capek, tuh?’” tutur Lily Setyani, mama tiga anak yang tinggal di Green Vile, Jakarta Barat.
Pemecahan misteri: “Bayi belajar melalui latihan,” ujar Lise Eliot, Ph.D., penulis What’s Going On in There? How the Brain and Mind Develop in the First Five Years of Life. Mengulangi suatu tugas sampai berkali-kali amat besar manfaatnya bagi si kecil: Hal itu bisa memperkuat otot-otot dan membangun ‘jalur’ baru dalam otak, sehingga ia makin piawai saat melakukan berbagai gerakan. Semua itu membuat keterampilan motoriknya kian oke.
5. “Biarpun ngantuk, tetap saja tak mau tidur.”
“Begitu ngantuk menyerang, Ferren (satu tahun tiga bulan) suka ngadat. Ia mulai cari gara-gara dengan merengek, mengamuk atau membanting-banting mainan. Padahal, sebentar-sebentar mulut kecilnya menguap. Sebenarnya saya sudah tahu kalau Ferren sudah mengantuk berat. Tapi, jika saya mengajaknya ke kamar tidur, ia langsung meronta-ronta dan tidak mau dininabobokan. Ia berjuang mati-matian menahan rasa kantuk. Kalau ngantuk, kenapa ia malah sulit diajak tidur?” tanya Indriani Gunadi, mama satu anak yang tinggal di Menteng, Jakarta Pusat.
Pemecahan misteri: “Semakin muda usia bayi, semakin sulit bagi mereka untuk beralih dari satu kondisi yang membangkitkan semangatnya ke kondisi lain,” kata Gopnik. Sementara orang dewasa bisa secara bertahap mengikuti kantuknya, para bayi justru beralih dari suasana terjaga dan gembira ke kondisi super capek dalam sekejap mata. Perubahan mendadak ini membuat mereka butuh bujukan orang dewasa untuk tenang lagi.
6. “Ngomong apa sih?”
Kayla (sebelas bulan) sering mengeluarkan suara aneh yang diikuti ekspresi tertentu. Kadang dia berpura-pura batuk. Di lain waktu ia malah ‘menggeram’, yang disusul dengan menunjuk sebuah obyek sambil bergumam “Pa-pah!” Tadinya, saya kira ia ingin memanggil papanya. Ketika kami menunjuk ke papanya, dia malah cuek saja,” cerita Joanna Gunawan, mama dua anak yang bermukim di Panglima Polim, Jakarta Selatan.
Pemecahan misteri: Suara-suara ini adalah satu bentuk dari permainan vokal, yang merupakan bagian dari proses belajar bicara. “Awalnya bayi akan membuat suara semacam ini tanpa disengaja, namun bila orang tuanya terus mendorong, ia akan mencoba dan mencoba lagi,” kata Powers. Semakin banyak jenis suara yang dilontarkan, semakin baik – karena itu adalah persiapan untuk merangkai vokal dan konsonan menjadi suatu kata.
Bahkan cara Kayla menggerakkan tangan dan mengucapkan “Pa-pah!”adalah tahapan tumbuh kembang. “Awalnya, saat berinteraksi dengan Anda, bayi cukup puas dengan tersenyum dan bergumam. Lalu, sekitar usia sembilan bulan, ia mulai ingin tahu seputar apa yang Anda rasakan tentang sesuatu atau orang lain. Ini merupakan langkah untuk belajar bersosialisasi,” Gopnik bertutur. Begitu anak menunjuk-nunjuk dan mengeluarkan suara, sebenarnya ia memberitahu Anda bahwa ia menyadari adanya sesuatu, dan meminta Anda berbagi pendapat tentang hal itu.
7. “Tangannya suka iseng.”
“Saya sering memakai baju dengan belahan di tengah. Tapi anak saya, Della (10 bulan), selalu berusaha merapatkan belahan tersebut. Padahal, ia sedang asyik menyusu botol di pangkuan saya. Mula-mula saya bisa mengalihkan keisengannya dengan menyingkirkan tangannya. Namun, tak lama kemudian tangannya kembali ‘beraksi’. Bete, deh,” cerita Dewi Handayani, mama dua anak, warga Tebet, Jakarta Selatan.
Pemecahan misteri: Anda tahu persis kalau banyak mama secara alami bisa melakukan seabrek tugas sekaligus? Nah, begitu pula dengan beberapa anak. Bayi yang gelisah mungkin butuh aktivitas lain untuk menghibur dirinya selagi menyusu. Jika anak makin sulit dialihkan perhatiannya, ini sinyal kalau pikirannya berkembang pesat, kata Eliot. Lama kelamaan anak akan menyadari bahwa sesuatu akan terus ada, sekalipun tidak terlihat dengan kedua matanya.
8. “Ia kagum sekali dengan tangannya.”
“Bima (enam bulan) senang sekali bermain-main dengan tangannya. Kadang ia melambai-lambai, kadang menutup dan membuka telapak tangan. Ekspresinya suka agak bingung. Bisa jadi dia berpikir, ‘Kok bisa ya, tangan saya membuat gerakan seperti ini?’” cerita Sekar Ningrum, mama satu anak yang tinggal di Jelambar, Jakarta Barat.
Pemecahan misteri: Tepat sekali, seperti itulah yang dipikirkan Bima! “Dia jadi lebih pandai ’mengendalikan’ gerakan tangannya, namun tidak selalu menyadari bahwa dirinyalah yang membuat tungkai dan lengannya bergerak,” kata Powers. “Makanya dia terus menatap tangannya sambil berpikir, ‘Maksud kamu tangan ini tidak bergerak sendiri?’”
9. “Apa yang lucu sih?”
“Cici (tujuh bulan) bisa tertawa terbahak-bahak melihat saya memakai topi besar. Atau tawanya tiba-tiba meledak saat menyaksikan ayahnya naik kursi untuk membetulkan lampu. Apa lucunya ya?” cerita Tiara Ridwan, mama tiga anak yang tinggal di Tomang, Jakarta Barat.
Pemecahan misteri: “Hal yang tak terduga-duga bisa menjadi lucu,” kata Eliot. Cici tahu siapa yang ada di balik topi besar, sehingga menganggapnya sedang melakukan penyamaran yang menggelikan. Dan soal ayah yang naik kursi, mungkin nih, itu bukan hal yang biasa dilakukan ayah. Jadi amat menyenangkannya.
10. “Begitu kipas angin berputar, matanya tidak berkedip.”
“Pertama kali melihat kipas angin di langit-langit berputar, Raya (satu tahun) langsung memperlihatkan ekspresi ngeri. Walau begitu, matanya terus menatap kipas angin itu,” cerita Anneke S., mama dari dua anak yang tinggal di Batu Tulis, Jakarta Pusat.
Pemecahan misteri: “Bayi selalu terpesona pada sesuatu yang bergerak, dan dari perspektif evolusi hal itu bisa dimengerti,” kata Eliot. “Otak kita dirancang untuk keperluan itu – kita mencari predator alias pemangsa, atau hewan buruan. Tak heran bila si kecil (si pemangsa? hewan buruan?) tidak mau melepaskan pandangan dari kipas angin.”
Tiap harinya, ada saja polah baru Abel. Sekarang tertawa terkikik-kikik, padahal kemarin dia menangis tersedu-sedu dan kelihatan sedih sekali. Dan semua itu dilakukannya untuk menarik perhatian mama tercinta. Suami Ria sampai terkagum-kagum melihat ulah si kecil, bahkan berulang kali bertanya, “Siapa sih, yang ngajari dia tertawa seperti itu?” Atau kadang-kadang terselip nada bangga dari ucapannya, “Jangan-jangan ia punya bakat akting.”
Dulu, Ria cuma mengangkat bahu melihat polah Abel yang suka macam-macam. Tapi setelah curhat dengan beberapa sahabat yang punya anak lebih kecil dari Abel – plus mereka mengalami hal serupa – Ria jadi mengerti kalau sebagian besar tahapan tumbuh kembang tidak muncul begitu saja. Ternyata anak melatih dirinya setiap hari – dan dalam proses berlatih itu mungkin saja beraksi dengan cara yang mengejutkan, membingungkan, atau bahkan mengkhawatirkan.
Butuh bukti? Simak deh, cerita seru sahabat-sahabat saya tentang anak-anaknya. Plus simak juga penjelasan dari pakar perkembangan seputar apa yang terjadi pada bayi-bayi mereka.
1. “Bayi saya tidak pernah merangkak.”
“Tidak seperti kedua kakaknya, Dea (sembilan bulan) tidak melalui tahapan merangkak. Setelah mahir duduk, ia langsung berdiri dan merambat pada benda-benda di sekitarnya untuk mengambil sesuatu. Normal nggak, sih?” tanya Lani Wijaya, mama tiga anak yang tinggal di Petojo, Jakarta Pusat.
Pemecahan misteri: “Merangkak adalah keterampilan yang sifatnya teknis, dan tak ada cara paling benar untuk melakukannya,” kata Alison Gopnik, Ph.D., profesor psikologi di University of California, Berkeley, sekaligus penulis The Scientist in the Crib. “Beberapa bayi merayap di atas perutnya; sedangkan lainnya merangkak mundur. Sebagian lagi malah tidak pernah merangkak – dari duduk langsung berjalan.”
Gopnik menambahkan, “Bayi yang bobotnya lebih berat butuh waktu lebih lama untuk berlatih merangkak ketimbang bayi yang lebih kurus. Ini berarti bentuk tubuh bisa mempengaruhi gaya merangkak si kecil.”
2. “Reaksi si kecil suka berlebihan.”
“Pertama kali diajak ke Ancol, Dino (satu tahun dua bulan) senang sekali. Dengan antusias, ia berjalan di area jogging track yang ada di pinggir pantai. Tapi, begitu kami pindah ke area yang berpasir, ia langsung mogok jalan. Selain kelihatan ngeri, geli, dan jijik; Dino minta digendong dan tak mau sedetikpun bermain di pasir,” cerita Deviana, mama tiga anak dan warga Grogol, Jakarta Barat. “Rencananya sih, saya ingin memperkenalkan suatu pengalaman yang baru. Terbayang betapa gembiranya si kecil bermain di atas pasir yang lembut. Tapi ternyata.…”
Pemecahan misteri: Anak sering bereaksi berlebihan begitu menemukan sesuatu yang kontras. Tapi, itu juga merupakan pertanda baik. “Reaksi tersebut adalah sinyal kalau bayi semakin matang dan mampu membedakan sesuatu yang benar-benar lain,” tutur Stefanie Powers, pakar tumbuh kembang anak di Zero to Three, Washington, D.C. Bisa jadi, bayi Anda untuk pertama kalinya akan memperhatikan hal kontras yang ada di atas lantai, sesuai jarak pandangnya.
3. “Apakah sudah benar-benar bisa berteman?”
“Suatu Minggu, saya ajak Andin (satu tahun lima bulan) ke rumah Ricky, sepupunya yang sebaya, biar bisa main bersama. Tapi yang terjadi, Ricky malah tak mau lepas dari gendongan mamanya. Dan Andin? Ia malah lebih asyik memperhatikan botol jus yang dikocok-kocok mamanya Ricky. Bahkan, ia memandang dengan penuh takjub,” cerita Cynthia Djordy, mama dua anak yang bermukim di perumahan Jaka Sampurna, Bekasi Selatan. Gagal deh, misi Cynthia untuk mengajarkan Andin bersosialisasi.
Pemecahan misteri: “Selama ini, bayi-bayi dianggap tidak pernah memperhatikan anak lain,” kata Powers. Juga, tambahnya, ada daya tarik tersendiri dari gerakan cepat seseorang yang setinggi jarak pandangnya. “Bayi-bayi biasanya tertarik pada anak-anak yang duduk di lantai bersamanya dan suka bermain, serta tidak suka duduk diam di kursi seperti halnya orang dewasa.”
4. “Kok tak ada capeknya?”
“Setelah mahir duduk, Mandy (10 bulan) rajin memamerkan kemampuan berdirinya pada seluruh anggota keluarga. Dari posisi duduk, ia lalu berdiri dan bergoyang-goyang sebentar sambil memandang ke arah kami dengan bangga. Lucunya, hal itu tidak cukup dilakukan sekali saja, melainkan ‘harus’ berkali-kali. Saya tak habis pikir. ‘Apa nggak capek, tuh?’” tutur Lily Setyani, mama tiga anak yang tinggal di Green Vile, Jakarta Barat.
Pemecahan misteri: “Bayi belajar melalui latihan,” ujar Lise Eliot, Ph.D., penulis What’s Going On in There? How the Brain and Mind Develop in the First Five Years of Life. Mengulangi suatu tugas sampai berkali-kali amat besar manfaatnya bagi si kecil: Hal itu bisa memperkuat otot-otot dan membangun ‘jalur’ baru dalam otak, sehingga ia makin piawai saat melakukan berbagai gerakan. Semua itu membuat keterampilan motoriknya kian oke.
5. “Biarpun ngantuk, tetap saja tak mau tidur.”
“Begitu ngantuk menyerang, Ferren (satu tahun tiga bulan) suka ngadat. Ia mulai cari gara-gara dengan merengek, mengamuk atau membanting-banting mainan. Padahal, sebentar-sebentar mulut kecilnya menguap. Sebenarnya saya sudah tahu kalau Ferren sudah mengantuk berat. Tapi, jika saya mengajaknya ke kamar tidur, ia langsung meronta-ronta dan tidak mau dininabobokan. Ia berjuang mati-matian menahan rasa kantuk. Kalau ngantuk, kenapa ia malah sulit diajak tidur?” tanya Indriani Gunadi, mama satu anak yang tinggal di Menteng, Jakarta Pusat.
Pemecahan misteri: “Semakin muda usia bayi, semakin sulit bagi mereka untuk beralih dari satu kondisi yang membangkitkan semangatnya ke kondisi lain,” kata Gopnik. Sementara orang dewasa bisa secara bertahap mengikuti kantuknya, para bayi justru beralih dari suasana terjaga dan gembira ke kondisi super capek dalam sekejap mata. Perubahan mendadak ini membuat mereka butuh bujukan orang dewasa untuk tenang lagi.
6. “Ngomong apa sih?”
Kayla (sebelas bulan) sering mengeluarkan suara aneh yang diikuti ekspresi tertentu. Kadang dia berpura-pura batuk. Di lain waktu ia malah ‘menggeram’, yang disusul dengan menunjuk sebuah obyek sambil bergumam “Pa-pah!” Tadinya, saya kira ia ingin memanggil papanya. Ketika kami menunjuk ke papanya, dia malah cuek saja,” cerita Joanna Gunawan, mama dua anak yang bermukim di Panglima Polim, Jakarta Selatan.
Pemecahan misteri: Suara-suara ini adalah satu bentuk dari permainan vokal, yang merupakan bagian dari proses belajar bicara. “Awalnya bayi akan membuat suara semacam ini tanpa disengaja, namun bila orang tuanya terus mendorong, ia akan mencoba dan mencoba lagi,” kata Powers. Semakin banyak jenis suara yang dilontarkan, semakin baik – karena itu adalah persiapan untuk merangkai vokal dan konsonan menjadi suatu kata.
Bahkan cara Kayla menggerakkan tangan dan mengucapkan “Pa-pah!”adalah tahapan tumbuh kembang. “Awalnya, saat berinteraksi dengan Anda, bayi cukup puas dengan tersenyum dan bergumam. Lalu, sekitar usia sembilan bulan, ia mulai ingin tahu seputar apa yang Anda rasakan tentang sesuatu atau orang lain. Ini merupakan langkah untuk belajar bersosialisasi,” Gopnik bertutur. Begitu anak menunjuk-nunjuk dan mengeluarkan suara, sebenarnya ia memberitahu Anda bahwa ia menyadari adanya sesuatu, dan meminta Anda berbagi pendapat tentang hal itu.
7. “Tangannya suka iseng.”
“Saya sering memakai baju dengan belahan di tengah. Tapi anak saya, Della (10 bulan), selalu berusaha merapatkan belahan tersebut. Padahal, ia sedang asyik menyusu botol di pangkuan saya. Mula-mula saya bisa mengalihkan keisengannya dengan menyingkirkan tangannya. Namun, tak lama kemudian tangannya kembali ‘beraksi’. Bete, deh,” cerita Dewi Handayani, mama dua anak, warga Tebet, Jakarta Selatan.
Pemecahan misteri: Anda tahu persis kalau banyak mama secara alami bisa melakukan seabrek tugas sekaligus? Nah, begitu pula dengan beberapa anak. Bayi yang gelisah mungkin butuh aktivitas lain untuk menghibur dirinya selagi menyusu. Jika anak makin sulit dialihkan perhatiannya, ini sinyal kalau pikirannya berkembang pesat, kata Eliot. Lama kelamaan anak akan menyadari bahwa sesuatu akan terus ada, sekalipun tidak terlihat dengan kedua matanya.
8. “Ia kagum sekali dengan tangannya.”
“Bima (enam bulan) senang sekali bermain-main dengan tangannya. Kadang ia melambai-lambai, kadang menutup dan membuka telapak tangan. Ekspresinya suka agak bingung. Bisa jadi dia berpikir, ‘Kok bisa ya, tangan saya membuat gerakan seperti ini?’” cerita Sekar Ningrum, mama satu anak yang tinggal di Jelambar, Jakarta Barat.
Pemecahan misteri: Tepat sekali, seperti itulah yang dipikirkan Bima! “Dia jadi lebih pandai ’mengendalikan’ gerakan tangannya, namun tidak selalu menyadari bahwa dirinyalah yang membuat tungkai dan lengannya bergerak,” kata Powers. “Makanya dia terus menatap tangannya sambil berpikir, ‘Maksud kamu tangan ini tidak bergerak sendiri?’”
9. “Apa yang lucu sih?”
“Cici (tujuh bulan) bisa tertawa terbahak-bahak melihat saya memakai topi besar. Atau tawanya tiba-tiba meledak saat menyaksikan ayahnya naik kursi untuk membetulkan lampu. Apa lucunya ya?” cerita Tiara Ridwan, mama tiga anak yang tinggal di Tomang, Jakarta Barat.
Pemecahan misteri: “Hal yang tak terduga-duga bisa menjadi lucu,” kata Eliot. Cici tahu siapa yang ada di balik topi besar, sehingga menganggapnya sedang melakukan penyamaran yang menggelikan. Dan soal ayah yang naik kursi, mungkin nih, itu bukan hal yang biasa dilakukan ayah. Jadi amat menyenangkannya.
10. “Begitu kipas angin berputar, matanya tidak berkedip.”
“Pertama kali melihat kipas angin di langit-langit berputar, Raya (satu tahun) langsung memperlihatkan ekspresi ngeri. Walau begitu, matanya terus menatap kipas angin itu,” cerita Anneke S., mama dari dua anak yang tinggal di Batu Tulis, Jakarta Pusat.
Pemecahan misteri: “Bayi selalu terpesona pada sesuatu yang bergerak, dan dari perspektif evolusi hal itu bisa dimengerti,” kata Eliot. “Otak kita dirancang untuk keperluan itu – kita mencari predator alias pemangsa, atau hewan buruan. Tak heran bila si kecil (si pemangsa? hewan buruan?) tidak mau melepaskan pandangan dari kipas angin.”
Label:
bayi
Cerdas Motorik Lewat Bermain
Bayi sangat menikmati permainan bersama ayah dan bundanya. Kecerdasan motoriknya pun berkembang pesat.
Anda berdua pasti ingin memberikan stimulasi yang tepat agar segenap potensi kecerdasan si kecil berkembang optimal. Caranya? Tak perlu repot. Sering-seringlah mengajak si kecil bermain.
Ya, bermain memang sangat membantu si kecil mengembangkan segala potensinya. Termasuk, keterampilan motoriknya, baik itu motorik halus maupun motorik kasar. Asyik ‘kan... sambil bermain, Anda bisa mengasah kecerdasan kinestetik si kecil.
* Lahir – 2 bulan
Anda mungkin belum bisa memberikan benda apa pun untuk dimainkan si kecil. Maklumlah, dia kan masih dalam masa penyesuaian diri dengan lingkungan baru.
Gerakannya saat ini sebagian besar masih berupa gerak refleks (refleks mengisap, menggenggam, dan sebagainya). Untuk Anda tahu, otot-otot bayi berusia 1–2 bulan masih lemah dan belum berfungsi dengan baik.
Permainan yang dianjurkan:
Ajak bayi Anda melakukan permainan yang tidak menuntut aktivitas gerak. Anda bisa memasang poster gambar hitam-putih, mainan warna-warni yang digantung di boksnya, meniup wajahnya dengan sedotan, atau memperdengarkan musik sambil berdansa bersama si kecil dalam dekapan Anda.
Usia 3-4 bulan
Jika dalam 2 bulan pertama gerakan bayi masih dikuasai berbagai refleks, kini ia mulai dapat menggerak-gerakkan tubuhnya atas kemauan sendiri. Otot lehernya pun sudah lebih kuat, sehingga bayi dapat berbaring telentang dengan memandang lurus ke depan. Ia bahkan sudah kuat ditengkurapkan.
Lengan dan kakinya pun sudah lebih bebas bergerak sejalan dengan kemampuannya menggerak-gerakkan kepalanya. Pada masa ini, yang terpenting adalah kemampuan mengangkat tangan ke depan wajahnya lalu mengamati jemarinya sendiri.
Jari-jemarinya pun kini dapat ia gerak-gerakkan. Jika Anda memperlihatkan mainan berwarna cerah, si kecil akan berusaha menggapainya dengan penuh semangat. Jika ia berhasil meraihnya, si kecil pun akan menggenggam dan memindahkannya dari satu tangan ke tangan yang lain.
Seiring dengan berkembangnya gerakan tangan dan lengan bayi, gerakan kakinya juga meningkat pada bulan ini. Selain itu, ia pun dapat menggerakkan seluruh tubuhnya.
Permainan yang dianjurkan:
* Anda dapat menggantung benda-benda yang ringan, seperti balon atau kertas di atas boksnya (dekat kaki bayi). Biarkan kakinya menendang-nendang benda-benda tersebut. Lambat laun, ia akan menyadari bahwa tendangannyalah yang menyebabkan benda itu bergerak.
* Untuk keterampilan tangannya, gantunglah mainan yang bisa diraihnya. Usahakan mainan tersebut terikat dengan baik, sehingga tidak bergerak bila disentuh olehnya.
* Cobalah lakukan “pijat”, berupa sentuhan lembut namun mantap. Selain merupakan ekspresi kasih sayang Anda, kegiatan ini bermanfaat untuk memberikan rangsangan taktil (berkaitan dengan sentuhan dan rabaan) yang sangat bermanfaat. Misalnya, membuat anak lebih waspada, tenang, dan merasa nyaman, serta melancarkan peredaran darah.
* Beberapa gerakan olah tubuh, seperti:
- Arm strecth (meregangkan lengan) dengan cara mengangkat satu tangan bayi ke atas secara bergantian saat ia dalam posisi telentang.
- Telentangkan si kecil lalu gerakan kedua kakinya seperti dia mengayuh sepeda. Gerakan ini untuk melatih otot-otot kakinya.
- Dari posisi telentang, coba Anda angkat tubuhnya dengan menarik kedua tangannya (khusus bagi bayi yang otot lehernya sudah kuat). Pura-puranya, si kecil sedang sit-up!
· Usia 5-7 bulan
Otot-otot tangan dan kaki si kecil kini kian kuat. Ia makin aktif menggunakan kedua kakinya untuk menendang, menggeser, atau mendorong. Otot leher dan punggungnya pun kini lebih kuat. Ia dapat membalikkan, menggulingkan, bahkan menggeser badannya. Akhirnya, ia dapat duduk sendiri tanpa bantuan orang lain di usia sekitar 7 bulan.
Kepandaian lainnya adalah kemampuannya menggenggam barang. Setelah pandai menggenggam, ia akan menikmati aktivitas menjatuhkan dan melempar benda-benda. Lalu di usia sekitar 7 bulan, si kecil dapat menggunakan jari dan ibu jari bersama-sama untuk sebuah tujuan, misalnya mengambil mainan.
Di usia 6-7 bulan, gigi-geligi bayi mulai tumbuh. Biasanya, si kecil merasa gatal pada gusinya dan selalu ingin menggigit sesuatu. Ia senang memasukkan segala sesuatu ke dalam mulutnya. Apa pun yang Anda berikan padanya akan dimasukkan ke dalam mulutnya dalam rangka memenuhi rasa ingin tahunya.
Permainan yang dianjurkan:
* Berikan benda dari arah yang berbeda sehingga ia harus “bekerja keras“ untuk menggapainya. Anda dapat memberikan botol plastik, atau mainan dari plastik yang bentuknya panjang.
* Berhubung si kecil sekarang senang “melempar“ benda-benda, cobalah memberinya benda-benda ringan yang bisa dilemparnya, seperti boneka, botol plastik, bola atau bantal.
* Karena sekarang ia senang memasukkan benda ke dalam mulutnya, berilah teether atau handuk kecil bersih untuk digigitnya.
* Si kecil pasti senang jika diajak berdansa bersama, atau ajak ia bouncing (melompat-lompat) di atas pangkuan Anda.
* Duduklah di sampingnya, sehingga ia akan terangsang untuk berguling mendekat ke arah Anda, atau letakkan mainan favoritnya di dekatnya.
* Main gerobak tangan (wheelbarrow). Caranya, dengan posisi bayi telungkup, pegang panggulnya, dan secara perlahan angkat tubuhnya. Ini adalah latihan yang baik untuk jungkir balik.
Usia 8-10 bulan
Masuk usia 8 bulan, kemampuan motorik bayi sudah makin berkembang. Ia dapat berputar, dan memindahkan mainan dari satu tangan ke tangan yang lain. Ia pun senang memukul-mukul benda dengan menggunakan kedua tangannya.
Kepandaian lain yang berkembang mulai usia 8 bulan ini adalah merangkak maju dan mundur. Bayi makin pandai berubah posisi, dari telungkup atau telentang kemudian akan mencoba merangkak. Lalu, karena otot leher, kaki dan tangannya sudah makin kuat, ia pun kian percaya diri. Dari posisi duduk, kini si kecil dapat bangkit dengan berpegangan pada benda lain (biasanya perabot rumah tangga seperti meja atau kursi).
Bagaimana dengan kedua tangannya? Wah, makin sibuk! Jika tangan yang satu menggenggam objek dan Anda memberikan objek lain, maka ia akan menggenggam benda kedua tanpa melepaskan benda pertama. Ia pun sudah pandai memberikan benda kepada orang lain tanpa bersungguh-sungguh ingin memberikannya. Jika diberi biskuit, si kecil bisa memegangnya sendiri, menggigit, dan mengunyahnya. Selain itu, ia senang memasukkan jari-jemarinya ke lubang kecil yang terbuka.
Permainan yang dianjurkan:
* Ayah atau bunda, duduklah agak jauh dari si kecil sambil memangku boneka kesayangannya. Goda agar ia datang ke pangkuan Anda. Biarkan ia merangkak untuk menjangkaunya. Ini bagus untuk melatihnya merangkak.
* Cobalah bermain merangkak bersama. Pura-puranya, Anda sedang berlomba dengannya untuk mengambil mainan.
* Berikan mainan, dan biarkan ia menggenggamnya. Lalu, pura-puralah untuk memintanya.
* Berikan beberapa mainan yang bisa dipukul-pukul, seperti balok-balok plastik atau gelas plastik.
Usia 11–12 bulan
Wow, kini bayi Anda makin gagah! Ia sudah bisa mengontrol otot punggung dan bahu sehingga bisa duduk tegak. Dengan menggunakan kekuatan otot dan lengannya, si kecil dapat menarik tubuhnya ke posisi berdiri, kemudian menurunkannya dengan cara berpegangan pada perabot rumah.
Kini, si kecil mampu berdiri dan berjalan merambat sambil berpegangan pada meja atau kursi yang kuat menyangga berat badannya. Ia juga sudah bisa mengangkat tubuhnya untuk berdiri sambil berpegangan, kemudian perlahan melepaskan pegangan dalam beberapa detik, lalu buk... ia jatuh terduduk karena keseimbangannya belum sempurna.
Perlahan tapi pasti, ketika ia sudah dapat berdiri sendiri, si kecil akan mencoba berjalan beberapa langkah, dan kemudian jatuh terduduk. Biarkan saja. Ketika merasa sudah siap, ia akan berjalan dengan mantap. Umumnya, bayi sudah dapat berjalan di saat usianya menginjak setahun.
Bagaimana dengan keterampilan tangannya? Hmmm... si kecil lagi senang memasukkan dan mengeluarkan balok-balok dari kotak. Ia juga senang memegang dengan ibu jari dan telunjuk untuk mengambil objek-objek kecil atau serpihan makanan.
Permainan yang dianjurkan:
* Letakkan mainan favoritnya di atas kursi yang agak tinggi, lalu biarkan ia berusaha mengambil mainan itu sendiri. Pastikan perabot kursi tersebut dapat menyangga berat badannya.
* Sediakan beberapa container atau kotak dan benda-benda yang cocok ukurannya untuk dimasukkan ke dalamnya, seperti kaus kaki, serbet, kartu mainan, dan balok-balok dari plastik. Biarkan ia memasukkan benda-benda itu ke dalam container untuk kemudian mengeluarkannya lagi.
* Sediakan potongan wortel atau apel (ingat, potongannya jangan terlalu kecil agar si kecil tidak tersedak), lalu sodorkan pada bayi Anda. Lihat apakah ia akan mengambil makanan tersebut dengan ibu jari dan telunjuknya. Mungkin, Anda akan menikmati keseriusan si kecil yang menggemaskan.
Nah, selamat bermain bersama si kecil! Namun penting diingat, seberapa besar pun yang Anda lakukan, Anda tidak dapat membuat si kecil mencapai tahap-tahap perkembangan lebih cepat dari rentang usia normalnya. Jadi, sebaiknya yang Anda lakukan adalah membantu agar si kecil tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin.
Laila Andaryani Hadis
Anda berdua pasti ingin memberikan stimulasi yang tepat agar segenap potensi kecerdasan si kecil berkembang optimal. Caranya? Tak perlu repot. Sering-seringlah mengajak si kecil bermain.
Ya, bermain memang sangat membantu si kecil mengembangkan segala potensinya. Termasuk, keterampilan motoriknya, baik itu motorik halus maupun motorik kasar. Asyik ‘kan... sambil bermain, Anda bisa mengasah kecerdasan kinestetik si kecil.
* Lahir – 2 bulan
Anda mungkin belum bisa memberikan benda apa pun untuk dimainkan si kecil. Maklumlah, dia kan masih dalam masa penyesuaian diri dengan lingkungan baru.
Gerakannya saat ini sebagian besar masih berupa gerak refleks (refleks mengisap, menggenggam, dan sebagainya). Untuk Anda tahu, otot-otot bayi berusia 1–2 bulan masih lemah dan belum berfungsi dengan baik.
Permainan yang dianjurkan:
Ajak bayi Anda melakukan permainan yang tidak menuntut aktivitas gerak. Anda bisa memasang poster gambar hitam-putih, mainan warna-warni yang digantung di boksnya, meniup wajahnya dengan sedotan, atau memperdengarkan musik sambil berdansa bersama si kecil dalam dekapan Anda.
Usia 3-4 bulan
Jika dalam 2 bulan pertama gerakan bayi masih dikuasai berbagai refleks, kini ia mulai dapat menggerak-gerakkan tubuhnya atas kemauan sendiri. Otot lehernya pun sudah lebih kuat, sehingga bayi dapat berbaring telentang dengan memandang lurus ke depan. Ia bahkan sudah kuat ditengkurapkan.
Lengan dan kakinya pun sudah lebih bebas bergerak sejalan dengan kemampuannya menggerak-gerakkan kepalanya. Pada masa ini, yang terpenting adalah kemampuan mengangkat tangan ke depan wajahnya lalu mengamati jemarinya sendiri.
Jari-jemarinya pun kini dapat ia gerak-gerakkan. Jika Anda memperlihatkan mainan berwarna cerah, si kecil akan berusaha menggapainya dengan penuh semangat. Jika ia berhasil meraihnya, si kecil pun akan menggenggam dan memindahkannya dari satu tangan ke tangan yang lain.
Seiring dengan berkembangnya gerakan tangan dan lengan bayi, gerakan kakinya juga meningkat pada bulan ini. Selain itu, ia pun dapat menggerakkan seluruh tubuhnya.
Permainan yang dianjurkan:
* Anda dapat menggantung benda-benda yang ringan, seperti balon atau kertas di atas boksnya (dekat kaki bayi). Biarkan kakinya menendang-nendang benda-benda tersebut. Lambat laun, ia akan menyadari bahwa tendangannyalah yang menyebabkan benda itu bergerak.
* Untuk keterampilan tangannya, gantunglah mainan yang bisa diraihnya. Usahakan mainan tersebut terikat dengan baik, sehingga tidak bergerak bila disentuh olehnya.
* Cobalah lakukan “pijat”, berupa sentuhan lembut namun mantap. Selain merupakan ekspresi kasih sayang Anda, kegiatan ini bermanfaat untuk memberikan rangsangan taktil (berkaitan dengan sentuhan dan rabaan) yang sangat bermanfaat. Misalnya, membuat anak lebih waspada, tenang, dan merasa nyaman, serta melancarkan peredaran darah.
* Beberapa gerakan olah tubuh, seperti:
- Arm strecth (meregangkan lengan) dengan cara mengangkat satu tangan bayi ke atas secara bergantian saat ia dalam posisi telentang.
- Telentangkan si kecil lalu gerakan kedua kakinya seperti dia mengayuh sepeda. Gerakan ini untuk melatih otot-otot kakinya.
- Dari posisi telentang, coba Anda angkat tubuhnya dengan menarik kedua tangannya (khusus bagi bayi yang otot lehernya sudah kuat). Pura-puranya, si kecil sedang sit-up!
· Usia 5-7 bulan
Otot-otot tangan dan kaki si kecil kini kian kuat. Ia makin aktif menggunakan kedua kakinya untuk menendang, menggeser, atau mendorong. Otot leher dan punggungnya pun kini lebih kuat. Ia dapat membalikkan, menggulingkan, bahkan menggeser badannya. Akhirnya, ia dapat duduk sendiri tanpa bantuan orang lain di usia sekitar 7 bulan.
Kepandaian lainnya adalah kemampuannya menggenggam barang. Setelah pandai menggenggam, ia akan menikmati aktivitas menjatuhkan dan melempar benda-benda. Lalu di usia sekitar 7 bulan, si kecil dapat menggunakan jari dan ibu jari bersama-sama untuk sebuah tujuan, misalnya mengambil mainan.
Di usia 6-7 bulan, gigi-geligi bayi mulai tumbuh. Biasanya, si kecil merasa gatal pada gusinya dan selalu ingin menggigit sesuatu. Ia senang memasukkan segala sesuatu ke dalam mulutnya. Apa pun yang Anda berikan padanya akan dimasukkan ke dalam mulutnya dalam rangka memenuhi rasa ingin tahunya.
Permainan yang dianjurkan:
* Berikan benda dari arah yang berbeda sehingga ia harus “bekerja keras“ untuk menggapainya. Anda dapat memberikan botol plastik, atau mainan dari plastik yang bentuknya panjang.
* Berhubung si kecil sekarang senang “melempar“ benda-benda, cobalah memberinya benda-benda ringan yang bisa dilemparnya, seperti boneka, botol plastik, bola atau bantal.
* Karena sekarang ia senang memasukkan benda ke dalam mulutnya, berilah teether atau handuk kecil bersih untuk digigitnya.
* Si kecil pasti senang jika diajak berdansa bersama, atau ajak ia bouncing (melompat-lompat) di atas pangkuan Anda.
* Duduklah di sampingnya, sehingga ia akan terangsang untuk berguling mendekat ke arah Anda, atau letakkan mainan favoritnya di dekatnya.
* Main gerobak tangan (wheelbarrow). Caranya, dengan posisi bayi telungkup, pegang panggulnya, dan secara perlahan angkat tubuhnya. Ini adalah latihan yang baik untuk jungkir balik.
Usia 8-10 bulan
Masuk usia 8 bulan, kemampuan motorik bayi sudah makin berkembang. Ia dapat berputar, dan memindahkan mainan dari satu tangan ke tangan yang lain. Ia pun senang memukul-mukul benda dengan menggunakan kedua tangannya.
Kepandaian lain yang berkembang mulai usia 8 bulan ini adalah merangkak maju dan mundur. Bayi makin pandai berubah posisi, dari telungkup atau telentang kemudian akan mencoba merangkak. Lalu, karena otot leher, kaki dan tangannya sudah makin kuat, ia pun kian percaya diri. Dari posisi duduk, kini si kecil dapat bangkit dengan berpegangan pada benda lain (biasanya perabot rumah tangga seperti meja atau kursi).
Bagaimana dengan kedua tangannya? Wah, makin sibuk! Jika tangan yang satu menggenggam objek dan Anda memberikan objek lain, maka ia akan menggenggam benda kedua tanpa melepaskan benda pertama. Ia pun sudah pandai memberikan benda kepada orang lain tanpa bersungguh-sungguh ingin memberikannya. Jika diberi biskuit, si kecil bisa memegangnya sendiri, menggigit, dan mengunyahnya. Selain itu, ia senang memasukkan jari-jemarinya ke lubang kecil yang terbuka.
Permainan yang dianjurkan:
* Ayah atau bunda, duduklah agak jauh dari si kecil sambil memangku boneka kesayangannya. Goda agar ia datang ke pangkuan Anda. Biarkan ia merangkak untuk menjangkaunya. Ini bagus untuk melatihnya merangkak.
* Cobalah bermain merangkak bersama. Pura-puranya, Anda sedang berlomba dengannya untuk mengambil mainan.
* Berikan mainan, dan biarkan ia menggenggamnya. Lalu, pura-puralah untuk memintanya.
* Berikan beberapa mainan yang bisa dipukul-pukul, seperti balok-balok plastik atau gelas plastik.
Usia 11–12 bulan
Wow, kini bayi Anda makin gagah! Ia sudah bisa mengontrol otot punggung dan bahu sehingga bisa duduk tegak. Dengan menggunakan kekuatan otot dan lengannya, si kecil dapat menarik tubuhnya ke posisi berdiri, kemudian menurunkannya dengan cara berpegangan pada perabot rumah.
Kini, si kecil mampu berdiri dan berjalan merambat sambil berpegangan pada meja atau kursi yang kuat menyangga berat badannya. Ia juga sudah bisa mengangkat tubuhnya untuk berdiri sambil berpegangan, kemudian perlahan melepaskan pegangan dalam beberapa detik, lalu buk... ia jatuh terduduk karena keseimbangannya belum sempurna.
Perlahan tapi pasti, ketika ia sudah dapat berdiri sendiri, si kecil akan mencoba berjalan beberapa langkah, dan kemudian jatuh terduduk. Biarkan saja. Ketika merasa sudah siap, ia akan berjalan dengan mantap. Umumnya, bayi sudah dapat berjalan di saat usianya menginjak setahun.
Bagaimana dengan keterampilan tangannya? Hmmm... si kecil lagi senang memasukkan dan mengeluarkan balok-balok dari kotak. Ia juga senang memegang dengan ibu jari dan telunjuk untuk mengambil objek-objek kecil atau serpihan makanan.
Permainan yang dianjurkan:
* Letakkan mainan favoritnya di atas kursi yang agak tinggi, lalu biarkan ia berusaha mengambil mainan itu sendiri. Pastikan perabot kursi tersebut dapat menyangga berat badannya.
* Sediakan beberapa container atau kotak dan benda-benda yang cocok ukurannya untuk dimasukkan ke dalamnya, seperti kaus kaki, serbet, kartu mainan, dan balok-balok dari plastik. Biarkan ia memasukkan benda-benda itu ke dalam container untuk kemudian mengeluarkannya lagi.
* Sediakan potongan wortel atau apel (ingat, potongannya jangan terlalu kecil agar si kecil tidak tersedak), lalu sodorkan pada bayi Anda. Lihat apakah ia akan mengambil makanan tersebut dengan ibu jari dan telunjuknya. Mungkin, Anda akan menikmati keseriusan si kecil yang menggemaskan.
Nah, selamat bermain bersama si kecil! Namun penting diingat, seberapa besar pun yang Anda lakukan, Anda tidak dapat membuat si kecil mencapai tahap-tahap perkembangan lebih cepat dari rentang usia normalnya. Jadi, sebaiknya yang Anda lakukan adalah membantu agar si kecil tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin.
Laila Andaryani Hadis
Senin, September 22, 2008
Memahami Arti Tangisan Bayi

Menangis adalah cara bayi menyampaikan maksud dan keinginannya. Tangisan yang lembut dan pelan, bisa jadi adalah cara mereka untuk bilang, “Mama, aku ingin sesuatu…” sedangkan tangisan yang lebih keras adalah cara mereka mengatakan “Aku mau itu sekarang juga!”
Harvey Karp MD, penulis buku The Happiest Baby on the Block membagi gaya berkomunikasi para bayi dalam tiga tingkatan yaitu rengekan, tangisan dan jeritan. Ketiga gaya itu berhubungan juga dengan karakter si bayi. Ada yang anteng, dan hanya sedikit merengek bila ingin sesuatu, ada juga yang langsung menjerit keras-keras.
Alifa Nikorobin Azis, tujuh bulan, putri dari Margie Listi di Cipete, Jakarta Selatan, adalah tipe happy-go-lucky baby. “Dia hanya akan merengek sedikit bila ada yang salah,” cerita Margie tentang anak perempuannya. Menangkap keinginan bayi dengan pribadi easy going seperti Niko sesungguhnya lebih mudah. Umumnya mereka hanya merengek sedikit ketika ingin sesuatu, misalnya ketika lapar, dan baru akan menangis bila tak ada yang merespon keinginannya. Hal ini dibenarkan oleh Margi yang merasa mudah sekali mengatasi kerewelan Niko. “Bila saya tinggal terlalu lama di boksnya, Niko akan mengeluarkan suara rengekan. Untuk membujuknya, saya tinggal memutar mainan yang digantung di atas boksnya, maka Niko akan tenang kembali.”
Sebaliknya, bayi dengan pribadi yang fussy, lebih sulit ditebak apa maunya. Mereka akan langsung menjerit keras bila sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi. Raffa anak saya rupanya termasuk jenis seperti ini. Dia akan langsung menjerit keras bila merasakan sesuatu. Entah itu sekedar merasa lapar, bosan atau karena suatu hal yang lebih serius menimpanya. Membujuknya pun tidak bisa dengan satu jurus. Bila suatu hari kerewelannya bisa ditaklukkan dengan diajak bertepuk tangan, lain waktu metode itu belum tentu ampuh. Saat dia berusia sembilan bulan, saya menyaingi tangisannya yang keras dengan bernyanyi atau menunjukkan kepadanya apa yang menurut saya menarik. Biasanya konsentrasinya akan terpecah dan dia pun ‘melupakan’ tangisannya. Tapi lain waktu, saya harus siap dengan gaya yang berbeda karena bisa jadi, gaya mengecoh saya tadi sudah dianggapnya ‘basi’.
Menebak dan mengamati
Memang sulit menebak dengan pasti kenapa bayi kita jadi rewel. Seringkali tangisan mereka memang bukan sekedar pemberitahuan “Aku lapar” atau “Aku ngantuk”. Bisa saja itu terjadi karena sebab lain.
Ghaza, sekarang 2,5 tahun, putra dari Esya di Pancoran Jakarta Selatan, pernah memasuki masa-masa rewel bila hendak dipakaikan popok di usia sekitar sembilan bulan. Tadinya Esya sang ibu menganggap Ghaza tidak betah pakai popok. Namun setelah diamati, akhirnya ketahuan kalau ketidaksenangan Ghaza memakai popok adalah karena kebetulan dia juga sedang ingin pup. “Setelah itu, saya tak lagi memaksa setiap kali dia berontak untuk pakai popok. Saya akan menunggu sebentar sampai dia pup,” cerita Esya.
Grace Vita di Depok, ibu dari Tobias Kusuma Wibowo, 3,8 tahun, dan Erin Nika Wibowo, empat bulan, juga mengaku mengandalkan pengamatan dalam menangani kedua buah hatinya. "Suatu kali di taman bermain, tak seperti biasa, Tobi menangis tiada henti. Saya tahu, pasti ada yang salah dengan anak ini. Ketika saya dekati dan saya tanya, ternyata penyebabnya karena dia ingin pipis tapi malu mengatakan hal itu pada guru barunya.”
Mempelajari kebiasaan anak akan membuat Anda lebih mudah menebak apa yang dia inginkan. Itu penting karena kebiasaan yang berubah seringkali juga dapat menjadi penyebab kerewelannya. Karlina Dwiyana di Pondok Labu, suatu hari harus pulang terlambat karena lembur dan mendapati Dachrie suaminya, kelabakan mengatasi putri mereka Tara Humayra, 10 bulan. Tara rewel dan menangis. Berbagai cara yang dilakukan Dachrie tidak bisa membuat Mayra menjadi tenang. “Rupanya Mayra nggak suka tidur hanya berdua ayahnya, karena biasanya kami memang tidur bertiga,” tutur Karlina. “Setelah berada di tengah-tengah kami berdua, barulah Mayra menjadi tenang.”
Kebingungan juga pernah dialami Dyan Anggraini dari Mampang ketika putranya, Raihan, kini 10 bulan, baru berusia dua bulan. Dyan melahirkan Raihan di tempat ibunya di Kuningan, Jawa Barat. Ketika masa cutinya hampir berakhir, Dyan membawa kembali bayinya ke Jakarta dan sejak itulah, setiap malam mulai pukul sepuluh Raihan selalu menangis. “Dia selalu minta digendong dan tak mau ditaruh. Tangisannya baru berhenti menjelang subuh, mungkin karena sudah lelah menangis semalaman,” kisah Dyan.
Sebagai ibu baru, tentu saja Dyan khawatir setengah mati. Apa yang salah dengan Raihan, apakah dia sakit? Karena tampaknya Raihan biasa-biasa saja di siang hari. Tapi ketika dibawa ke dokter anak dan dicek, ternyata Raihan memang tidak kenapa-kenapa. Jadi, ketika sang dokter tahu bahwa Raihan baru saja menghuni rumah baru, dia berujar,” Mungkin itu penyesuaian dia dengan lingkungan barunya.” Dan memang, setelah berlangsung selama dua minggu, Raihan berhenti menangis begitu saja. “Wah, saya lega sekali. Dia berhenti menangis tepat ketika saya harus ngantor lagi. Pengertian sekali dia ya,” kata Dian sambil tertawa.
Tantangan Baru
Seiring dengan bertambahnya usia, kemampuan bayi Anda dalam berkomunikasi juga akan bertambah. Begitu pula kemampuan Anda memahami apa yang diinginkannya. Tanpa disadari, bayi Anda yang tadinya hanya bisa ah-uh-ah-uh sudah akan berdiri di hadapan Anda, dan dengan wajah cemberut protes berulangkali, “Kenapa nggak boleh?” Atau, dia akan berteriak lantang, “Pokoknya aku mau itu!” saat menginginkan sesuatu.
Bila masa itu tiba, cobalah untuk menarik napas dalam-dalam, dan berpikir positif. Fase yang berbeda telah siap menanti Anda. Itu berarti penanganan yang berbeda pula! Jadi, berdoalah agar kesabaran Anda kian bertambah dan bukannya makin berkurang. §Ù
Dian Bheno adalah ibu satu anak berusia empat tahun, tinggal di Condet, Jakarta Timur. Inspirasi dari artikel “What Your Baby’s Trying to Tell You” oleh Katherine Lee
Agar si kecil memahami Anda
Jangan dikira hanya Anda yang berjuang untuk mengerti apa keinginan si kecil. Mereka juga berusaha mengerti Anda lho. Agar cinta dan kenyamanan yang Anda tawarkan dapat mereka terima dengan baik, berkomunikasilah dengan cara ini:
Sentuhan. Membalut dengan bedong, memeluk, atau mengayun dia akan memberikan rasa aman.
Aroma. Bayi mengenali kita lewat aroma tubuh. Karena itu dekaplah mereka sesering mungkin. Aroma tubuh Anda akan membuat dia merasa nyaman.
Suara. Meninabobokan anak atau berbicara dengan nada tertentu dapat membuat bayi Anda tenang. Coba saja perhatikan, apakah bayi Anda tersenyum saat Anda bersenandung? Kalau ya, berarti Anda punya satu jurus ampuh yang bisa dipakai sewaktu-waktu.
Minggu, September 14, 2008
Kepribadian awal bayi Anda
Setelah usia 4 atau 5 bulan, kepribadian bayi Anda akan mulai terlihat. Anda akan mulai bisa menduga, apa yang bikin dia kesal atau terganggu. Nah, pilih karakteristik yang paling sesuai dengan temperamen dia (mungkin saja lebih dari satu). Setelah itu, cobalah tip Parenting untuk membuat dia (dan Anda!) lebih bahagia.
Pemalu/mudah takut
Karakter sifat utama: Sering tak mau dilepas dan mudah gelisah.
Tantangan: Bertemu orang baru, berada diantara banyak orang, da-dah ketika orangtuanya harus berangkat kerja.
Strategi menenangkan: Jangan paksa dia berinteraksi dengan orang lain. Tapi juga jangan terlalu mengisolasi dia dari orang lain. Dengan lembut perkenalkan dia pada situasi lingkungan sekeliling yang baru.
Mudah ngambek
Karakter sifat utama: Suka semaunya sendiri, sering menangis dan gampang kesal.
Tantangan:Mainan-mainan yang agak susah diutak-atik, beranjak dari permainan atau situasi yang asyik dan menyenangkan, perubahan dari suatu rutinitas.
Strategi menenangkan: Bayi dengan sifat seperti ini mudah marah, jadi cobalah lebih sabar. Akan membantu kalau Anda memberikan dia masa transisi di antara berbagai kegiatannya. Jangan biarkan dia menyentuh mainan atau buku di toko bila Anda tak membelinya. Disiplinlah pada rutinitas yang menenangkan.
Sensitif
Karakter sifat utama: Gampang resah dan rewel.
Tantangan: Pakaian yang tak nyaman, merasa terlalu panas atau terlalu dingin, lingkungan yang berisik, tempat yang terlalu terang.
Strategi menenangkan: Hindari kain-kain yang gatal seperti wool, dan gunting label pakaian yang bisa mengganggunya. Pilih tempat belanja terdekat kalau mengajak dia, karena bayi dengan sifat seperti ini mudah ngambek dan berapi-api.
Selalu ceria
Karakter sifat utama: Tidak rewel dan mudah tersenyum
Tantangan: Sedikit sekali. Tapi, bahkan anak yang paling manis pun bisa rewel.
Strategi menenangkan: Anda termasuk beruntung! Bayi seperti malaikat ini jarang sekali membutuhkan penanganan khusus.
Aktif
Karakter sifat utama: Maunya bergerak terus, tak mau diam.
Tantangan: Duduk diam selama beberapa waktu tertentu, sebut misalnya di restoran, duduk tenang di kursi makan.
Strategi menenangkan: Saat di mobil menempuh perjalanan yang lumayan jauh, sering-seringlah berhenti agar dia bisa bebas dari tempat duduknya. Sediakan mainan seperti bola-bola yang bisa melambung dan peralatan olah raga yang jumlahnya cukup, untuk mengimbangi energinya yang seolah tak terbatas.
Pemalu/mudah takut
Karakter sifat utama: Sering tak mau dilepas dan mudah gelisah.
Tantangan: Bertemu orang baru, berada diantara banyak orang, da-dah ketika orangtuanya harus berangkat kerja.
Strategi menenangkan: Jangan paksa dia berinteraksi dengan orang lain. Tapi juga jangan terlalu mengisolasi dia dari orang lain. Dengan lembut perkenalkan dia pada situasi lingkungan sekeliling yang baru.
Mudah ngambek
Karakter sifat utama: Suka semaunya sendiri, sering menangis dan gampang kesal.
Tantangan:Mainan-mainan yang agak susah diutak-atik, beranjak dari permainan atau situasi yang asyik dan menyenangkan, perubahan dari suatu rutinitas.
Strategi menenangkan: Bayi dengan sifat seperti ini mudah marah, jadi cobalah lebih sabar. Akan membantu kalau Anda memberikan dia masa transisi di antara berbagai kegiatannya. Jangan biarkan dia menyentuh mainan atau buku di toko bila Anda tak membelinya. Disiplinlah pada rutinitas yang menenangkan.
Sensitif
Karakter sifat utama: Gampang resah dan rewel.
Tantangan: Pakaian yang tak nyaman, merasa terlalu panas atau terlalu dingin, lingkungan yang berisik, tempat yang terlalu terang.
Strategi menenangkan: Hindari kain-kain yang gatal seperti wool, dan gunting label pakaian yang bisa mengganggunya. Pilih tempat belanja terdekat kalau mengajak dia, karena bayi dengan sifat seperti ini mudah ngambek dan berapi-api.
Selalu ceria
Karakter sifat utama: Tidak rewel dan mudah tersenyum
Tantangan: Sedikit sekali. Tapi, bahkan anak yang paling manis pun bisa rewel.
Strategi menenangkan: Anda termasuk beruntung! Bayi seperti malaikat ini jarang sekali membutuhkan penanganan khusus.
Aktif
Karakter sifat utama: Maunya bergerak terus, tak mau diam.
Tantangan: Duduk diam selama beberapa waktu tertentu, sebut misalnya di restoran, duduk tenang di kursi makan.
Strategi menenangkan: Saat di mobil menempuh perjalanan yang lumayan jauh, sering-seringlah berhenti agar dia bisa bebas dari tempat duduknya. Sediakan mainan seperti bola-bola yang bisa melambung dan peralatan olah raga yang jumlahnya cukup, untuk mengimbangi energinya yang seolah tak terbatas.
Cling! Gigiku Sehat dan Cemerlang
Ingin gigi si kecil sehat dan cemerlang? Keterlibatan Anda sejak dini sangat berperan.
Merawat gigi bayi memang gampang-gampang susah. Baru mau muncul saja, biasanya bayi sudah rewel. Kalau kita tak tahu penyebabnya, bisa jadi bingung menghadapinya. Tapi, urusan gigi si kecil tak sebatas meredam kerewelannya. Anda juga perlu merawat gigi dan gusinya sejak dini.
Awal munculnya bervariasi
Kapan gigi pertama si kecil akan muncul, memang tak ada patokan pasti. Rata-rata, pada mulai umur 6 bulan, gigi bayi sudah mulai kelihatan. Tapi, bisa saja ketika baru lahir, di gusinya sudah tampak garis putih tanda hampir munculnya gigi pertama. Atau malahan, setelah ulang tahun pertamanya lewat, gusinya masih ‘bersih’; belum ada tanda-tanda giginya akan muncul.
Di Indonesia, gigi anak-anak umumnya baru lengkap pada usia 3–3,5 tahun. Gigi-geligi yang disebut gigi susu tersebut, akan tanggal satu demi satu, untuk kemudian digantikan dengan gigi tetap. Jumlahnya sekitar 20 buah, yaitu sepuluh di atas dan sepuluh lagi di bawah.
Asal tahu saja, gigi susu mempunyai fungsi istimewa yang tidak dimiliki gigi tetap. Yaitu, sebagai penuntun penunjuk arah tumbuhnya gigi tetap agar kelak tumbuh pada tempat yang sesuai. Selain itu, gigi susu juga menjaga pertumbuhan lengkung rahang, sehingga susunan gigi jadi teratur.
Dari gigi susu ke gigi tetap
Pergantian gigi susu ke gigi tetap pertama kali dimulai kurang lebih pada usia 6 tahun, dan berakhir pada usia kurang lebih 12 tahun. Salah satu tanda gigi tetap akan tumbuh umumnya didahului oleh goyangnya gigi susu. Hal ini karena akar gigi susu jadi pendek akibat dorongan proses keluarnya gigi tetap (resorbsi). Pergantian tersebut memiliki pola tertentu; biasanya dimulai dari gigi seri tengah, depan, dan bawah.
Sementara terjadi pergantian gigi seri, terjadi juga pertumbuhan gigi geraham besar tetap pertama. Gigi geraham besar ini bukanlah gigi pengganti. Gigi ini langsung muncul pada deretan paling belakang gigi susu, baik pada rahang atas maupun rahang bawah.
Jadi, jangan keliru, ya! Gigi geraham besar pertama dan gigi geraham besar lainnya tumbuh tidak menggantikan gigi susu. Sedangkan gigi lainnya, seperti gigi seri (incisivus), taring (caninus) dan geraham kecil (premolar), akan tumbuh menggantikan gigi susu.
Kapan mulai sikat gigi?
Yang jelas, sebelum gigi susu tampak pun, perawatan gusi sudah harus dimulai, dan sebaiknya dilakukan secara rutin. Karena, jika tak hati-hati menjaga gusi dan gigi si kecil, bukan tak mungkin bisa muncul sindroma botol bayi (simak boks: Awas, Sindroma Botol Bayi!).
Beberapa hal berikut bisa menjadi bahan pertimbangan Anda saat merawat gusi dan gigi si kecil.
• Bersihkan gusi dengan kapas bertangkai (cotton buds), atau dengan membungkus telunjuk yang memakai sehelai saputangan tipis atau kain kassa steril yang dibasahi dengan air matang. Bisa juga menggunakan sikat gigi khusus yang tersedia, mulai dari sikat gigi berbentuk dot karet, sikat gigi bulu karet, atau sikat gigi sarung untuk dipakai pada jari telunjuk ibu.
• Jika gigi baru tumbuh 2 atau 4, bersihkan dengan kain.
• Jika gigi sudah tumbuh lebih dari 8, bersihkan dengan sikat gigi bayi yang mempunyai ujung kecil dan berbulu halus, dengan kode ukuran P20, atau yang berbulu karet.
• Awalnya, gunakan saja air matang untuk berkumur, tanpa pasta gigi. Jika dia sudah bisa berkumur dan membuang air kumurnya, baru gunakan pasta gigi yang mengandung fluorida. Usahakan flourida jangan sampai tertelan. Lebih baik gunakan pasta gigi anak-anak, dan berikan secukupnya.
• Libatkan anak setelah ia mampu memegang sikat gigi pada usia 18 –24 bulan. Duduk atau berdirilah bersama si kecil di depan kaca. Dari belakang si kecil, Anda bisa memegang sikat gigi dan menggosok giginya, sementara tangan yang sebelah lagi memegang badan atau dagu si kecil.
Satu hal yang perlu juga Anda lakukan adalah mengajak si kecil bicara selama kegiatan menyikat gigi berlangsung. Dia akan menikmati acara ritualnya ini dalam suasana yang menyenangkan. Lambat laun dia akan merasakan betapa pentingnya menyikat gigi setiap hari.
Atur strategi
Tidak sulit mengajarkan si kecil bagaimana menyikat gigi dengan benar. Beri contoh saja, berikut penjelasannya. Bila perlu, lakukanlah dengan bersenandung atau dengan kata-kata berirama.
Tunjukkan bagaimana:
• Menggosok dengan bentuk lingkaran-lingkaran kecil di gigi dan gusinya.
• Menggosok ke depan dan belakang di permukaan gigi yang biasa digunakan untuk menggigit.
• Menggosok seluruh sudut gigi, di bagian depan, bagian belakang, gusi, juga lidahnya.
Setelah beberapa detik, berilah kesempatan buat si kecil untuk mencobanya. Jika dia sudah selesai, berikan pujian. Anda dapat mengulanginya bilamana perlu. Siapkan waktu untuk menggosok gigi ini paling tidak dua menit.
Saatnya ke dokter gigi
Munculnya gigi-geligi si kecil, berarti Anda sudah mulai harus memperkenalkannya sosok dokter gigi. Tujuannya, agar ia terbiasa memeriksakan gigi sejak dini. Jadi, bawalah si kecil ke dokter gigi sekitar enam bulan setelah gigi pertamanya muncul. Atau, ketika si kecil berusia sekitar satu tahun.
Doker gigi akan menjelaskan lebih detil mengenai perawatan gigi si kecil. Apabila ada pertumbuhan gigi yang belum sempurna, biasanya dokter gigi juga akan membuatkan foto rontgent (X-ray) panoramic. Melalui foto ini, Anda dapat melihat pertumbuhan gigi dan rahangnya.
Dengan ke dokter gigi, si kecil juga diperkenalkan alat-alat untuk periksa gigi. Tak perlu khawatir si kecil menangis, karena untuk membersihkan giginya akan digunakan sikat gigi kecil (brush low speed).
Nah, selamat merawat gigi si kecil!
Retno Wahab Supriyadi
Konsultasi ilmiah: drg. Jusuf Kristanto, M.Kes, Kepala Litbang Jurusan Kesehatan Gigi, Politeknik Kesehatan Jakarta I, Departemen Kesehatan.
Merawat gigi bayi memang gampang-gampang susah. Baru mau muncul saja, biasanya bayi sudah rewel. Kalau kita tak tahu penyebabnya, bisa jadi bingung menghadapinya. Tapi, urusan gigi si kecil tak sebatas meredam kerewelannya. Anda juga perlu merawat gigi dan gusinya sejak dini.
Awal munculnya bervariasi
Kapan gigi pertama si kecil akan muncul, memang tak ada patokan pasti. Rata-rata, pada mulai umur 6 bulan, gigi bayi sudah mulai kelihatan. Tapi, bisa saja ketika baru lahir, di gusinya sudah tampak garis putih tanda hampir munculnya gigi pertama. Atau malahan, setelah ulang tahun pertamanya lewat, gusinya masih ‘bersih’; belum ada tanda-tanda giginya akan muncul.
Di Indonesia, gigi anak-anak umumnya baru lengkap pada usia 3–3,5 tahun. Gigi-geligi yang disebut gigi susu tersebut, akan tanggal satu demi satu, untuk kemudian digantikan dengan gigi tetap. Jumlahnya sekitar 20 buah, yaitu sepuluh di atas dan sepuluh lagi di bawah.
Asal tahu saja, gigi susu mempunyai fungsi istimewa yang tidak dimiliki gigi tetap. Yaitu, sebagai penuntun penunjuk arah tumbuhnya gigi tetap agar kelak tumbuh pada tempat yang sesuai. Selain itu, gigi susu juga menjaga pertumbuhan lengkung rahang, sehingga susunan gigi jadi teratur.
Dari gigi susu ke gigi tetap
Pergantian gigi susu ke gigi tetap pertama kali dimulai kurang lebih pada usia 6 tahun, dan berakhir pada usia kurang lebih 12 tahun. Salah satu tanda gigi tetap akan tumbuh umumnya didahului oleh goyangnya gigi susu. Hal ini karena akar gigi susu jadi pendek akibat dorongan proses keluarnya gigi tetap (resorbsi). Pergantian tersebut memiliki pola tertentu; biasanya dimulai dari gigi seri tengah, depan, dan bawah.
Sementara terjadi pergantian gigi seri, terjadi juga pertumbuhan gigi geraham besar tetap pertama. Gigi geraham besar ini bukanlah gigi pengganti. Gigi ini langsung muncul pada deretan paling belakang gigi susu, baik pada rahang atas maupun rahang bawah.
Jadi, jangan keliru, ya! Gigi geraham besar pertama dan gigi geraham besar lainnya tumbuh tidak menggantikan gigi susu. Sedangkan gigi lainnya, seperti gigi seri (incisivus), taring (caninus) dan geraham kecil (premolar), akan tumbuh menggantikan gigi susu.
Kapan mulai sikat gigi?
Yang jelas, sebelum gigi susu tampak pun, perawatan gusi sudah harus dimulai, dan sebaiknya dilakukan secara rutin. Karena, jika tak hati-hati menjaga gusi dan gigi si kecil, bukan tak mungkin bisa muncul sindroma botol bayi (simak boks: Awas, Sindroma Botol Bayi!).
Beberapa hal berikut bisa menjadi bahan pertimbangan Anda saat merawat gusi dan gigi si kecil.
• Bersihkan gusi dengan kapas bertangkai (cotton buds), atau dengan membungkus telunjuk yang memakai sehelai saputangan tipis atau kain kassa steril yang dibasahi dengan air matang. Bisa juga menggunakan sikat gigi khusus yang tersedia, mulai dari sikat gigi berbentuk dot karet, sikat gigi bulu karet, atau sikat gigi sarung untuk dipakai pada jari telunjuk ibu.
• Jika gigi baru tumbuh 2 atau 4, bersihkan dengan kain.
• Jika gigi sudah tumbuh lebih dari 8, bersihkan dengan sikat gigi bayi yang mempunyai ujung kecil dan berbulu halus, dengan kode ukuran P20, atau yang berbulu karet.
• Awalnya, gunakan saja air matang untuk berkumur, tanpa pasta gigi. Jika dia sudah bisa berkumur dan membuang air kumurnya, baru gunakan pasta gigi yang mengandung fluorida. Usahakan flourida jangan sampai tertelan. Lebih baik gunakan pasta gigi anak-anak, dan berikan secukupnya.
• Libatkan anak setelah ia mampu memegang sikat gigi pada usia 18 –24 bulan. Duduk atau berdirilah bersama si kecil di depan kaca. Dari belakang si kecil, Anda bisa memegang sikat gigi dan menggosok giginya, sementara tangan yang sebelah lagi memegang badan atau dagu si kecil.
Satu hal yang perlu juga Anda lakukan adalah mengajak si kecil bicara selama kegiatan menyikat gigi berlangsung. Dia akan menikmati acara ritualnya ini dalam suasana yang menyenangkan. Lambat laun dia akan merasakan betapa pentingnya menyikat gigi setiap hari.
Atur strategi
Tidak sulit mengajarkan si kecil bagaimana menyikat gigi dengan benar. Beri contoh saja, berikut penjelasannya. Bila perlu, lakukanlah dengan bersenandung atau dengan kata-kata berirama.
Tunjukkan bagaimana:
• Menggosok dengan bentuk lingkaran-lingkaran kecil di gigi dan gusinya.
• Menggosok ke depan dan belakang di permukaan gigi yang biasa digunakan untuk menggigit.
• Menggosok seluruh sudut gigi, di bagian depan, bagian belakang, gusi, juga lidahnya.
Setelah beberapa detik, berilah kesempatan buat si kecil untuk mencobanya. Jika dia sudah selesai, berikan pujian. Anda dapat mengulanginya bilamana perlu. Siapkan waktu untuk menggosok gigi ini paling tidak dua menit.
Saatnya ke dokter gigi
Munculnya gigi-geligi si kecil, berarti Anda sudah mulai harus memperkenalkannya sosok dokter gigi. Tujuannya, agar ia terbiasa memeriksakan gigi sejak dini. Jadi, bawalah si kecil ke dokter gigi sekitar enam bulan setelah gigi pertamanya muncul. Atau, ketika si kecil berusia sekitar satu tahun.
Doker gigi akan menjelaskan lebih detil mengenai perawatan gigi si kecil. Apabila ada pertumbuhan gigi yang belum sempurna, biasanya dokter gigi juga akan membuatkan foto rontgent (X-ray) panoramic. Melalui foto ini, Anda dapat melihat pertumbuhan gigi dan rahangnya.
Dengan ke dokter gigi, si kecil juga diperkenalkan alat-alat untuk periksa gigi. Tak perlu khawatir si kecil menangis, karena untuk membersihkan giginya akan digunakan sikat gigi kecil (brush low speed).
Nah, selamat merawat gigi si kecil!
Retno Wahab Supriyadi
Konsultasi ilmiah: drg. Jusuf Kristanto, M.Kes, Kepala Litbang Jurusan Kesehatan Gigi, Politeknik Kesehatan Jakarta I, Departemen Kesehatan.
Label:
bayi
Mama pun bisa salah
Kesalahan: Memakai sepatu dalam rumah
Bayi sering bermain di lantai dan karpet – dan sepatu Anda membawa kotoran, bahan kimia dan debu jalan. Belum lagi, bayi suka memasukkan benda-benda kecil yang mereka temukan ke dalam mulut.
Solusi pintar:
Beritahu tamu dengan sopan untuk melepaskan sepatu mereka sebelum memasuki rumah. Alternatif lain, Anda dapat menyediakan keset berkualitas tinggi di luar pintu masuk untuk mengibaskan sepatu mereka, juga keset yang lebih halus di dalam pintu masuk untuk merontokkan sisa-sisa debu.
Kesalahan: Mengira pengasuh anak memahami instruksi Anda.
Bersikaplah jelas. ”Karena kesibukan di kantor, saya pernah mempercayakan babysitter untuk membawa putri saya ke dokter dekat rumah. Ia tidak bilang antibiotika harus dihabiskan walau batuk si kecil sudah membaik. Alhasil, pemyembuhan anak saya tak tuntas,” cerita Putri Mahendra, mama Alya (3 tahun), yang bermukim di Kemanggisan, Jakarta Barat.
Solusi pintar:
Entah itu staf TPA, babysitter, atau ibu Anda sendiri, Anda perlu mencatat semua instruksi dalam bahasa sederhana, langsung dan akurat. ”Jangan mengatakan ’satu atau 2 pil’ atau ’berikan kalau ia terlihat sakit,’ karena pengasuh tidak bisa diharapkan untuk membuat keputusan,” kata Gloria Mayer, kepala Institute for Healthcare Advancement, di La Habra, California, yang mempelajari ilmu komunikasi medis. Suruh mereka membaca petunjuk Anda kembali untuk meyakinkan bahwa instruksi sudah benar.
Kesalahan: Mengobati gejala flu dengan obat bebas tanpa konsultasi ke dokter.
Sangat berbahaya: obat yang mengandung pseudoephedrine. ”Memang bayi lebih nyaman, tapi tidak sembuh secara tuntas. Juga, efek sampingnya tidak bisa diremehkan,” kata Steven Kairys, M.D., ketua Departemen Kesehatan Anak di Jersey Shore University Medical Center, Neptune, New Jersey. Menyebabkan komplikasi: hiperaktif ringan, tekanan darah tinggi dan detak jantung tidak teratur.
Solusi pintar:
Selalu berkonsultasi pada dokter sebelum memberi bayi obat apapun, termasuk acetaminophen khusus bayi pada si 3 bulan atau kurang (obat itu bisa ’meredakan’ demam, padahal demam butuh penanganan medis segera). Bagi bayi usia di atas 3 bulan, boleh-boleh saja Anda memberi acetaminophen khusus bayi tanpa konsultasi ke dokter untuk meredakan rasa tidak nyaman ketika baru tumbuh gigi, terbentur, dan flu. Anda bisa meredakan penyakit bayi dengan memberinya banyak cairan atau tetesan air garam untuk meredakan hidung tersumbat, menggunakan alat pelembab udara, dan menopang letak kepalanya saat tidur.
Kesalahan: Berbagi sendok atau ’membersihkan’ dot dengan mulut Anda.
Mama adalah sumber utama penyebar kuman pada gigi bayi. Jika Anda menghentikan perkembangan kuman pada mulut si kecil (bahkan sebelum tumbuh gigi) Anda bisa melindunginya dari masalah gigi. ”Apapun yang disertai ludah bisa menyebarkan bakteri,” kata Sally Cram, dokter gigi sekaligus jurubicara American Dental Association, Washington DC.
Solusi pintar:
Secara berkala periksakan gigi Anda, gosoklah gigi 2 kali sehari, bersihkan gigi dengan dental floss sehari sekali, dan gunakan obat kumur berfluoride. Atau, kunyahlah permen karet yang menggunakan pemanis xylitol. Semua ini akan mengurangi risiko penyebab kuman. Dan daripada memakai sendok bareng, pura-pura saja mencicipi makanan.
Kesalahan: Mengganti susu formula untuk menghentikan gumoh
Sering-sering ganti susu formula membuat dokter sulit mengidentifikasi masalah yang sesungguhnya, entah itu alergi susu, muntah, atau lainnya. Ketika disusui, si kecil gumoh dan menangis. Dokter menganjurkan untuk mengganti ASI dengan formula nabati untuk mengatasi alerginya. Tidak menolong sih, tapi dengan menghapuskan kemungkinan alergi, dokter membuat diagnosa yang tepat, yaitu kecenderungan mual dan muntah.
Solusi pintar:
Bekerjasamalah dengan dokter untuk menemukan penyebab masalah, terutama bila anak tidak bertambah berat badannya (atau makin kurus) atau bila ada darah pada kotorannya (bisa jadi ia alergi terhadap formula dari susu). Mungkin juga, Anda diminta untuk mengganti susunya. Untuk masalah muntah, pendekatan lain bisa dilakukan. Saat menyusu, bibir bayi harus menghisap penuh dot sehingga tidak ada udara yang masuk; Anda bisa bereksperimen dengan dot lain. Tegakkan bayi selama sekitar 1/2 jam setelah menyusu, berikan porsi sedikit tapi sering, sering-sering sendawakan bayi (juga di sela-sela menyusu), dan letakkan gulungan handuk di salah satu sisi ranjang agar ia tertidur dengan kepala meninggi. Kalau bayi sering muntah, jangan diletakkan di ayunan atau kursi goyang.
Kesalahan: Membungkus badan bayi untuk membuatnya hangat.
Beberapa hari setelah kelahirannya, suhu tubuh bayi relatif normal. Memakaikan ia pakaian berlapis-lapis bisa membuatnya dehidrasi dan kepanasan, kata Trina Austin, M.D., kepala Orange Coast Memorial Medical Center, di Fountain Valley, California. Selama tidur, suhu tubuh yang terlalu panas bisa mengganggu sistem pernapasannya, dan meningkatkan risiko SIDS (sindroma bayi mati mendadak).
Solusi pintar:
Baik di dalam atau di luar ruangan, ukurannya adalah diri Anda. Sebaiknya, nyalakan AC sedang-sedang saja, sehingga Anda juga tak perlu berselimut.
Kesalahan: Tidak menciptakan udara yang segar.
Paru-paru bayi yang masih kecil sangat peka terhadap sumber alergi, asap rokok, dan zat beracun dari cat atau perabot baru. Penyegar udara tidak menolong, karena melepaskan zat polutan yang menurut penelitian memicu diare, sakit telinga, dan gejala lain bagi sebagian bayi. Dan banyak ’pembersih udara’ elektronik tidak bisa membersihkan udara dengan sempurna.
Solusi pintar:
Membuka jendela kamar bayi setiap pagi selama beberapa menit agar terjadi pertukaran udara. Tanaman rumah (lily dan palem bambu) juga bisa membersihkan karbondioksida dan zat kimia. Lalu, semangkuk soda kue menyerap bau, dan bunga segar akan mengharumkan ruangan.
Kesalahan: Tidak mengukur suhu tubuh saat bayi tampak sakit.
Orangtua sering mengabaikan termometer dengan alasan, ”Ah, nggak terlalu panas, kok.” Tapi, gejala klinis demam adalah hal yang perlu Anda waspadai pada bayi baru lahir, kata Peter Tesler, M.D., kepala St. Luke’s Roosevelt Hospital di New York. Demam pada bayi di bawah usia 3 bulan bisa mengindikasikan adanya infeksi dan si kecil harus segera dibawa ke dokter.
Solusi pintar:
Bila bayi kelihatan sakit, ukur suhu tubuhnya dengan termometer yang dimasukkan ke anus. Termometer ini memberi hasil paling akurat sampai anak mampu menahan termometer di bawah lidahnya (biasanya sekitar usia 2 tahun).
Bayi sering bermain di lantai dan karpet – dan sepatu Anda membawa kotoran, bahan kimia dan debu jalan. Belum lagi, bayi suka memasukkan benda-benda kecil yang mereka temukan ke dalam mulut.
Solusi pintar:
Beritahu tamu dengan sopan untuk melepaskan sepatu mereka sebelum memasuki rumah. Alternatif lain, Anda dapat menyediakan keset berkualitas tinggi di luar pintu masuk untuk mengibaskan sepatu mereka, juga keset yang lebih halus di dalam pintu masuk untuk merontokkan sisa-sisa debu.
Kesalahan: Mengira pengasuh anak memahami instruksi Anda.
Bersikaplah jelas. ”Karena kesibukan di kantor, saya pernah mempercayakan babysitter untuk membawa putri saya ke dokter dekat rumah. Ia tidak bilang antibiotika harus dihabiskan walau batuk si kecil sudah membaik. Alhasil, pemyembuhan anak saya tak tuntas,” cerita Putri Mahendra, mama Alya (3 tahun), yang bermukim di Kemanggisan, Jakarta Barat.
Solusi pintar:
Entah itu staf TPA, babysitter, atau ibu Anda sendiri, Anda perlu mencatat semua instruksi dalam bahasa sederhana, langsung dan akurat. ”Jangan mengatakan ’satu atau 2 pil’ atau ’berikan kalau ia terlihat sakit,’ karena pengasuh tidak bisa diharapkan untuk membuat keputusan,” kata Gloria Mayer, kepala Institute for Healthcare Advancement, di La Habra, California, yang mempelajari ilmu komunikasi medis. Suruh mereka membaca petunjuk Anda kembali untuk meyakinkan bahwa instruksi sudah benar.
Kesalahan: Mengobati gejala flu dengan obat bebas tanpa konsultasi ke dokter.
Sangat berbahaya: obat yang mengandung pseudoephedrine. ”Memang bayi lebih nyaman, tapi tidak sembuh secara tuntas. Juga, efek sampingnya tidak bisa diremehkan,” kata Steven Kairys, M.D., ketua Departemen Kesehatan Anak di Jersey Shore University Medical Center, Neptune, New Jersey. Menyebabkan komplikasi: hiperaktif ringan, tekanan darah tinggi dan detak jantung tidak teratur.
Solusi pintar:
Selalu berkonsultasi pada dokter sebelum memberi bayi obat apapun, termasuk acetaminophen khusus bayi pada si 3 bulan atau kurang (obat itu bisa ’meredakan’ demam, padahal demam butuh penanganan medis segera). Bagi bayi usia di atas 3 bulan, boleh-boleh saja Anda memberi acetaminophen khusus bayi tanpa konsultasi ke dokter untuk meredakan rasa tidak nyaman ketika baru tumbuh gigi, terbentur, dan flu. Anda bisa meredakan penyakit bayi dengan memberinya banyak cairan atau tetesan air garam untuk meredakan hidung tersumbat, menggunakan alat pelembab udara, dan menopang letak kepalanya saat tidur.
Kesalahan: Berbagi sendok atau ’membersihkan’ dot dengan mulut Anda.
Mama adalah sumber utama penyebar kuman pada gigi bayi. Jika Anda menghentikan perkembangan kuman pada mulut si kecil (bahkan sebelum tumbuh gigi) Anda bisa melindunginya dari masalah gigi. ”Apapun yang disertai ludah bisa menyebarkan bakteri,” kata Sally Cram, dokter gigi sekaligus jurubicara American Dental Association, Washington DC.
Solusi pintar:
Secara berkala periksakan gigi Anda, gosoklah gigi 2 kali sehari, bersihkan gigi dengan dental floss sehari sekali, dan gunakan obat kumur berfluoride. Atau, kunyahlah permen karet yang menggunakan pemanis xylitol. Semua ini akan mengurangi risiko penyebab kuman. Dan daripada memakai sendok bareng, pura-pura saja mencicipi makanan.
Kesalahan: Mengganti susu formula untuk menghentikan gumoh
Sering-sering ganti susu formula membuat dokter sulit mengidentifikasi masalah yang sesungguhnya, entah itu alergi susu, muntah, atau lainnya. Ketika disusui, si kecil gumoh dan menangis. Dokter menganjurkan untuk mengganti ASI dengan formula nabati untuk mengatasi alerginya. Tidak menolong sih, tapi dengan menghapuskan kemungkinan alergi, dokter membuat diagnosa yang tepat, yaitu kecenderungan mual dan muntah.
Solusi pintar:
Bekerjasamalah dengan dokter untuk menemukan penyebab masalah, terutama bila anak tidak bertambah berat badannya (atau makin kurus) atau bila ada darah pada kotorannya (bisa jadi ia alergi terhadap formula dari susu). Mungkin juga, Anda diminta untuk mengganti susunya. Untuk masalah muntah, pendekatan lain bisa dilakukan. Saat menyusu, bibir bayi harus menghisap penuh dot sehingga tidak ada udara yang masuk; Anda bisa bereksperimen dengan dot lain. Tegakkan bayi selama sekitar 1/2 jam setelah menyusu, berikan porsi sedikit tapi sering, sering-sering sendawakan bayi (juga di sela-sela menyusu), dan letakkan gulungan handuk di salah satu sisi ranjang agar ia tertidur dengan kepala meninggi. Kalau bayi sering muntah, jangan diletakkan di ayunan atau kursi goyang.
Kesalahan: Membungkus badan bayi untuk membuatnya hangat.
Beberapa hari setelah kelahirannya, suhu tubuh bayi relatif normal. Memakaikan ia pakaian berlapis-lapis bisa membuatnya dehidrasi dan kepanasan, kata Trina Austin, M.D., kepala Orange Coast Memorial Medical Center, di Fountain Valley, California. Selama tidur, suhu tubuh yang terlalu panas bisa mengganggu sistem pernapasannya, dan meningkatkan risiko SIDS (sindroma bayi mati mendadak).
Solusi pintar:
Baik di dalam atau di luar ruangan, ukurannya adalah diri Anda. Sebaiknya, nyalakan AC sedang-sedang saja, sehingga Anda juga tak perlu berselimut.
Kesalahan: Tidak menciptakan udara yang segar.
Paru-paru bayi yang masih kecil sangat peka terhadap sumber alergi, asap rokok, dan zat beracun dari cat atau perabot baru. Penyegar udara tidak menolong, karena melepaskan zat polutan yang menurut penelitian memicu diare, sakit telinga, dan gejala lain bagi sebagian bayi. Dan banyak ’pembersih udara’ elektronik tidak bisa membersihkan udara dengan sempurna.
Solusi pintar:
Membuka jendela kamar bayi setiap pagi selama beberapa menit agar terjadi pertukaran udara. Tanaman rumah (lily dan palem bambu) juga bisa membersihkan karbondioksida dan zat kimia. Lalu, semangkuk soda kue menyerap bau, dan bunga segar akan mengharumkan ruangan.
Kesalahan: Tidak mengukur suhu tubuh saat bayi tampak sakit.
Orangtua sering mengabaikan termometer dengan alasan, ”Ah, nggak terlalu panas, kok.” Tapi, gejala klinis demam adalah hal yang perlu Anda waspadai pada bayi baru lahir, kata Peter Tesler, M.D., kepala St. Luke’s Roosevelt Hospital di New York. Demam pada bayi di bawah usia 3 bulan bisa mengindikasikan adanya infeksi dan si kecil harus segera dibawa ke dokter.
Solusi pintar:
Bila bayi kelihatan sakit, ukur suhu tubuhnya dengan termometer yang dimasukkan ke anus. Termometer ini memberi hasil paling akurat sampai anak mampu menahan termometer di bawah lidahnya (biasanya sekitar usia 2 tahun).
Label:
bayi
Merangkak, Berdiri, dan ... Berjalan

Sebuah Proses yang Luar Biasa!
Salah satu milestone perkembangan bayi yang memukau adalah saat-saat ia mulai merangkak. Dan, tanpa Anda sadari, tahu-tahu si kecil sudah bisa berjalan. Benarkah semuanya berlangsung kilat?
Berjalan adalah salah satu tonggak perkembangan motorik kasar yang penting bagi si kecil. Sementara Anda, sang orang tua, melihatnya sebagai momen yang membanggakan sekaligus mengharukan. Motorik kasar adalah bagian dari aktivitas motorik yang melibatkan otot-otot besar. Nah, otot-otot ini diperlukan ketika ia duduk, merangkak, dan juga berjalan.
Usia 7–8 bulan: mulai merangkak sampai coba-coba berdiri
Di usia ini, biasanya si kecil lagi senang-senangnya mengangkat dan menurunkan bokong serta punggungnya. Ia juga mulai memamerkan kekuatan kedua kaki mungilnya. Begitu ditaruh di atas pangkuan, ia akan meloncat-loncat gembira dan menggoyang-goyangkan kakinya.
Selain itu, bayi Anda juga akan memperlihatkan kepandaiannya merangkak. Aktivitas ini paling banyak mendapat sorotan dari para orang tua. Sesudah puas merangkak, kepiawaiannyapun akan bertambah lagi. Di usia 8 bulan, si kecil mulai bisa mengangkat tubuhnya ke posisi berdiri. Biasanya ia akan menumpukan kedua tangannya pada meja, kursi atau perabot rumahtangga apapun yang bisa menahan berat badannya. Nah, latihan berdiri ini bukannya tanpa arti. Sebetulnya, bayi Anda sedang melatih perkembangan otot-otot kakinya.
Usia 9–10 bulan: gencar merambat dan “berjalan”
Memasuki usia 9 bulan, kepandaian si kecil dalam berdiri terus berlanjut. Bedanya, ia tidak melulu berdiri dengan bertumpu pada aneka perabot rumahtangga saja, melainkan sudah mulai merambat. Ingin tahu bagaimana caranya ?
Secara perlahan, kedua tangan bayi Anda akan bergeser ke samping. Nah, gerakan ini akan diikuti oleh “langkah” kedua kakinya. Tak usah cemas,bila ia jatuh ia pasti akan segera bangun lagi. Jatuh bangun adalah proses yang sangat wajar dialami bayi ketika mengasah keterampilan berjalan. Makanya, keamanan di sekitarnya harus terjaga dengan baik.
Yang pasti, di usia ini, kepandaian si kecil dalam belajar berjalan makin oke. Jika Anda memegang kedua tangannya, ia akan menapak dan mulai melangkah. Lama kelamaan otot-ototnya semakin terlatih dan ia makin semangat untuk menjajal kemampuannya berjalan.
Walaupun kian giat berlatih jalan, sesekali ia masih suka merangkak. Nggak apa-apa kok, ia kan juga butuh ‘ refreshing’.
Usia 11–12 bulan: beraksinya si tukang jalan
Pada usia ini, si kecil belajar berdiri dengan “cara” baru lagi. Dengan meluruskan tungkainya dari duduk, lalu mengangkat tubuhnya dengan bertumpu pada kedua tangannya. Maklum saja, otot lengan dan bahunya kan sudah makin kuat. Ia terlihat sangat bahagia karena bisa bolak-balik duduk, berdiri, dan duduk lagi. Begitu seterusnya...
Meski begitu, kepandaian yang paling menonjol sejak usia 11 bulan adalah ia sudah mampu berdiri sendiri dalam waktu sekitar 2 detik, tanpa bantuan apapun. Ini terjadi karena ia sudah pintar menjaga keseimbangan tubuh.
Nah, kepandaian si kecil tidak stop sampai di sini saja. Ia mulai mencoba melangkah. Dan, butuh waktu baginya untuk maju 2–3 langkah. Meski begitu, ia akan terus dan terus mencoba sampai akhirnya yakin betul kalau ia tidak akan terjatuh.
Memang, sebagian besar bayi usia 12 bulan telah siap berjalan. Walau begitu, kadang-kadang masih sedikit limbung. Mirip-mirip pemabuk yang sedang sempoyongan. Lama kelamaan, ia akan berhasil juga berjalan dengan tegak.
Boleh dibilang, berjalan dianggap sebagai salah satu tonggak bersejarah dalam perkembangan fisik anak. Bahkan, berjalan adalah puncak dari aktivitas motorik kasar dan tentu saja amat mengasyikkan bagi si kecil.
Bukan ukuran yang matematis...
Meski ada patokan usia perkembangan ini-itu, Anda jangan lantas terlalu kaku. Misalnya, usia 12 bulan, bayi Anda sudah harus berjalan. Bagaimanapun, setiap tahap perkembangan anak bisa saja berbeda-beda. Bisa jadi, si kecil sudah pintar berjalan pada usia 11 bulan. Atau, malahan ia baru bisa berjalan di usia 13 bulan.
Walaupun begitu, ada batasan usia bagi perkembangan motorik kasar anak. Misalnya saja, bila si buah hati Anda tak kunjung berjalan lewat usia 1,5 tahun, Anda sudah harus mulai curiga. Bukan tak mungkin, ada gangguan dalam perkembangannya. Makanya, memantau perkembangan si kecil plus punya Kartu Menuju Sehat is a must . Kartu ini berguna untuk memantau perkembangan motorik si kecil. Perkembangan motorik kasarnya terlambat atau sudah sesuai jadwal? Jika terlambat, secepatnya kunjungi dokter yang khusus menangani tumbuh kembang anak.
Laila Andaryani Hadis
Label:
bayi
Digigit Nyamuk
Pasti bayi Anda akan merasa tidak nyaman setelah digigit nyamuk. Hati-hati, jangan sampai salah menanganinya.
Kasihan benar bayi yang digigit nyamuk. Selain kulitnya gatal, tidurnya pun jadi terganggu. Bila ia akhirnya menangis, Anda pasti bakal repot menenangkannya.
Gunakan bedak, tapi...
Umumnya, gigitan nyamuk tidak akan mencederai si kecil. Kecuali, bila yang menggigit adalah nyamuk penyebar penyakit, seperti Aedes aegypti dan Anopheles . Kedua nyamuk itu menyebabkan demam berdarah dan malaria.
Untuk menyiasati gigitan nyamuk tidaklah susah. Segera beri bedak pada bekas gigitan yang memerah. Sebaiknya, gunakan bedak yang mengandung senyawa mentol. Bedak ini akan memberi efek dingin, yang dapat mengurangi rasa gatal.
Perlu diingat, jangan terlalu banyak menggunakan bedak mentol. Cukup ditaburi di kulit yang digigit nyamuk saja. Bila bekas gigitan nyamuk banyak, sebaiknya segera bawa si kecil ke dokter. Kalau perlu, dokter akan memberinya obat antiradang.
Mencegah selalu lebih baik
Cegah nyamuk bertandang ke rumah Anda dengan selalu menjaga dan memperhatikan kebersihan lingkungan rumah. Misalnya saja, dengan tidak membiarkan air tergenang, dan menutup rapat-rapat tempat penampungan air. Selain itu, lakukan juga:
• Pasang kelambu di atas boks bayi, atau menutup si kecil dengan penutup yang bentuknya mirip tudung saji yang sekelilingnya dilapisi kelambu.
• Selimuti tubuh si kecil. Bisa juga, kenakan baju berlengan panjang dan celana panjang.
• Ciptakan kamar tidur bayi yang bebas nyamuk dengan menggunakan:
• Obat anti nyamuk semprot (minimal satu jam sebelum bayi tidur).
• Obat anti nyamuk listrik (minimal 5 meter dari boks bayi).
• Pasang kawat anti nyamuk pada setiap ventilasi kamar maupun ruangan lainnya.
Setelah melakukan berbagai pencegahan, tetap pantau kondisi si kecil, karena bukan tak mungkin ada nyamuk yang “lolos” dari upaya Anda tersebut.
Hindari Ini!
• Lotion /krim anti nyamuk yang dioleskan pada tubuh bayi. Karena, bahan-bahan yang terkandung di dalamnya dapat mengiritasi kulit bayi yang masih sensitif. Akibatnya, kulit si kecil jadi kering dan terasa perih.
• Minyak telon, minyak kayu putih, minyak tawon atau minyak jenis lain . Minyak tersebut umumnya memberikan efek hangat yang mungkin akan membuat si kecil malah semakin tidak nyaman.
• Obat nyamuk bakar . Selain menimbulkan risiko kebakaran, asapnya juga dapat mengganggu pernapasan.
Dewi Handajani
Kasihan benar bayi yang digigit nyamuk. Selain kulitnya gatal, tidurnya pun jadi terganggu. Bila ia akhirnya menangis, Anda pasti bakal repot menenangkannya.
Gunakan bedak, tapi...
Umumnya, gigitan nyamuk tidak akan mencederai si kecil. Kecuali, bila yang menggigit adalah nyamuk penyebar penyakit, seperti Aedes aegypti dan Anopheles . Kedua nyamuk itu menyebabkan demam berdarah dan malaria.
Untuk menyiasati gigitan nyamuk tidaklah susah. Segera beri bedak pada bekas gigitan yang memerah. Sebaiknya, gunakan bedak yang mengandung senyawa mentol. Bedak ini akan memberi efek dingin, yang dapat mengurangi rasa gatal.
Perlu diingat, jangan terlalu banyak menggunakan bedak mentol. Cukup ditaburi di kulit yang digigit nyamuk saja. Bila bekas gigitan nyamuk banyak, sebaiknya segera bawa si kecil ke dokter. Kalau perlu, dokter akan memberinya obat antiradang.
Mencegah selalu lebih baik
Cegah nyamuk bertandang ke rumah Anda dengan selalu menjaga dan memperhatikan kebersihan lingkungan rumah. Misalnya saja, dengan tidak membiarkan air tergenang, dan menutup rapat-rapat tempat penampungan air. Selain itu, lakukan juga:
• Pasang kelambu di atas boks bayi, atau menutup si kecil dengan penutup yang bentuknya mirip tudung saji yang sekelilingnya dilapisi kelambu.
• Selimuti tubuh si kecil. Bisa juga, kenakan baju berlengan panjang dan celana panjang.
• Ciptakan kamar tidur bayi yang bebas nyamuk dengan menggunakan:
• Obat anti nyamuk semprot (minimal satu jam sebelum bayi tidur).
• Obat anti nyamuk listrik (minimal 5 meter dari boks bayi).
• Pasang kawat anti nyamuk pada setiap ventilasi kamar maupun ruangan lainnya.
Setelah melakukan berbagai pencegahan, tetap pantau kondisi si kecil, karena bukan tak mungkin ada nyamuk yang “lolos” dari upaya Anda tersebut.
Hindari Ini!
• Lotion /krim anti nyamuk yang dioleskan pada tubuh bayi. Karena, bahan-bahan yang terkandung di dalamnya dapat mengiritasi kulit bayi yang masih sensitif. Akibatnya, kulit si kecil jadi kering dan terasa perih.
• Minyak telon, minyak kayu putih, minyak tawon atau minyak jenis lain . Minyak tersebut umumnya memberikan efek hangat yang mungkin akan membuat si kecil malah semakin tidak nyaman.
• Obat nyamuk bakar . Selain menimbulkan risiko kebakaran, asapnya juga dapat mengganggu pernapasan.
Dewi Handajani
Label:
bayi
Menyidik Pup Bayi
Tahukah Anda, ketidaknormalan kotoran bayi menunjukkan adanya ketidakberesan pencernaannya?
Sekitar 24 jam setelah lahir, si kecil akan pup atau buang air besar . Warnanya hitam kehijau-hijauan. Ini adalah mekonium atau kotoran pertamanya.
Sesungguhnya, mekonium itu adalah cairan ketuban yang tertelan bayi saat masih dalam kandungan. Kotoran tersebut berada di ususnya sejak 3 bulan sebelum ia dilahirkan. Setelah pup pertamanya itu, selanjutnya kotoran si kecil akan berubah-ubah. Wah, repot dong kita menyidik maknanya. Tidak juga!
Beda minum, beda warna kotoran
Sebenarnya, mekonium akan makin cepat terdesak keluar dari perut bayi jika ia disusui. Ini karena ASI yang pertama kali keluar selepas melahirkan, merangsang beroperasinya sistem pencernaan. Setelah itu, kotoran si kecil akan berubah secara bertahap.
* Beberapa hari setelah lahir , kotorannya berwarna hijau atau kuning. Ini adalah transisi antara mekonium dan kotoran hasil mengonsumsi ASI.
* Minum ASI atau susu botol?
* Begitu si kecil minum ASI secara teratur, kotorannya akan berwarna kuning cerah, baunya agak sedikit asam, dan bentuknya mirip butiran beras. Wajar bila dalam minggu-minggu pertama, bayi sering pup, terutama setelah kenyang menyusu. ASI memang lebih mudah dicerna, sehingga gampang dikeluarkan. Sebagai catatan, bayi yang diberi ASI akan buang air besar minimal 10 kali dalam sehari. Jadi, jangan keliru menganggap ini sebagai diare.
* Kotoran bayi yang minum susu formula akan berwarna kuning pucat atau kuning kecokelatan. Baunya lebih tajam. Bentuknya juga lebih padat dibandingkan bayi yang diberi ASI. Maklumlah, namanya juga susu sapi, jadi tidak gampang dicerna seperti halnya ASI.
* Setelah mengonsumsi makanan padat , warna kotoran si kecil akan beda lagi. Biasanya sih , kotorannya berwarna cokelat.
Waspada bila tidak normal
Sekarang, bagaimana kalau kotoran si kecil tidak berwarna dan bentuknya pun tidak seperti biasanya? Oh, ini biasanya terjadi bila ia dalam kondisi sebagai berikut.
* Diare
Kotorannya lebih hijau dan cair.
* Risiko bayi yang diberi ASI terkena diare lebih rendah daripada yang tidak. Ini karena ASI membantu mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Kalaupun diare, bisa jadi karena ASI dimasukkan ke dalam botol yang kurang steril.
* Bayi yang diberi susu formula memang cenderung gampang diare. Selain akibat kurang sterilnya peralatan minum, bisa jadi karena ia memang sensitif atau alergi terhadap kandungan susu sapi.
* Sembelit
Kotorannya agak hitam, keras, dan bentuknya bulat-bulat seperti kotoran kambing.
* Sering terjadi pada bayi yang diberi susu formula. Mungkin saja, ini akibat ia alergi terhadap kandungan susu sapi.
* Bayi yang sudah mengonsumsi makanan padat, kotorannya bisa berwarna hitam. Warna ini disebabkan oleh zat besi, yang berfungsi sebagai vitamin atau suplemen yang ditambahkan pada makanannya.
* Adanya retakan/celah di dubur
Kotoran berwarna merah “bergaris-garis”.
* Warna merah terjadi karena kotoran bercampur darah yang keluar dari retakan di lingkaran anus.
* Penyebab retakan karena si kecil mengejan sekuat tenaga saat sembelit.
* Akibat virus atau gigi tumbuh
Kotoran agak hijau dan berlendir.
* Terjadi karena gangguan penyerapan makanan di usus.
* Bisa juga karena gigi si kecil sedang tumbuh. Ludah banyak tertelan sehingga usus mengalami gangguan. Kalau sudah begini, penyerapan makanan akan ikut-ikutan terpengaruh.
Laila Andaryani Hadis
Konsultasi ilmiah: dr. Setyadewi Lusyati, Sp.A , KK Perinatologi, RSAB Harapan Kita, Jakarta.
Sekitar 24 jam setelah lahir, si kecil akan pup atau buang air besar . Warnanya hitam kehijau-hijauan. Ini adalah mekonium atau kotoran pertamanya.
Sesungguhnya, mekonium itu adalah cairan ketuban yang tertelan bayi saat masih dalam kandungan. Kotoran tersebut berada di ususnya sejak 3 bulan sebelum ia dilahirkan. Setelah pup pertamanya itu, selanjutnya kotoran si kecil akan berubah-ubah. Wah, repot dong kita menyidik maknanya. Tidak juga!
Beda minum, beda warna kotoran
Sebenarnya, mekonium akan makin cepat terdesak keluar dari perut bayi jika ia disusui. Ini karena ASI yang pertama kali keluar selepas melahirkan, merangsang beroperasinya sistem pencernaan. Setelah itu, kotoran si kecil akan berubah secara bertahap.
* Beberapa hari setelah lahir , kotorannya berwarna hijau atau kuning. Ini adalah transisi antara mekonium dan kotoran hasil mengonsumsi ASI.
* Minum ASI atau susu botol?
* Begitu si kecil minum ASI secara teratur, kotorannya akan berwarna kuning cerah, baunya agak sedikit asam, dan bentuknya mirip butiran beras. Wajar bila dalam minggu-minggu pertama, bayi sering pup, terutama setelah kenyang menyusu. ASI memang lebih mudah dicerna, sehingga gampang dikeluarkan. Sebagai catatan, bayi yang diberi ASI akan buang air besar minimal 10 kali dalam sehari. Jadi, jangan keliru menganggap ini sebagai diare.
* Kotoran bayi yang minum susu formula akan berwarna kuning pucat atau kuning kecokelatan. Baunya lebih tajam. Bentuknya juga lebih padat dibandingkan bayi yang diberi ASI. Maklumlah, namanya juga susu sapi, jadi tidak gampang dicerna seperti halnya ASI.
* Setelah mengonsumsi makanan padat , warna kotoran si kecil akan beda lagi. Biasanya sih , kotorannya berwarna cokelat.
Waspada bila tidak normal
Sekarang, bagaimana kalau kotoran si kecil tidak berwarna dan bentuknya pun tidak seperti biasanya? Oh, ini biasanya terjadi bila ia dalam kondisi sebagai berikut.
* Diare
Kotorannya lebih hijau dan cair.
* Risiko bayi yang diberi ASI terkena diare lebih rendah daripada yang tidak. Ini karena ASI membantu mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Kalaupun diare, bisa jadi karena ASI dimasukkan ke dalam botol yang kurang steril.
* Bayi yang diberi susu formula memang cenderung gampang diare. Selain akibat kurang sterilnya peralatan minum, bisa jadi karena ia memang sensitif atau alergi terhadap kandungan susu sapi.
* Sembelit
Kotorannya agak hitam, keras, dan bentuknya bulat-bulat seperti kotoran kambing.
* Sering terjadi pada bayi yang diberi susu formula. Mungkin saja, ini akibat ia alergi terhadap kandungan susu sapi.
* Bayi yang sudah mengonsumsi makanan padat, kotorannya bisa berwarna hitam. Warna ini disebabkan oleh zat besi, yang berfungsi sebagai vitamin atau suplemen yang ditambahkan pada makanannya.
* Adanya retakan/celah di dubur
Kotoran berwarna merah “bergaris-garis”.
* Warna merah terjadi karena kotoran bercampur darah yang keluar dari retakan di lingkaran anus.
* Penyebab retakan karena si kecil mengejan sekuat tenaga saat sembelit.
* Akibat virus atau gigi tumbuh
Kotoran agak hijau dan berlendir.
* Terjadi karena gangguan penyerapan makanan di usus.
* Bisa juga karena gigi si kecil sedang tumbuh. Ludah banyak tertelan sehingga usus mengalami gangguan. Kalau sudah begini, penyerapan makanan akan ikut-ikutan terpengaruh.
Laila Andaryani Hadis
Konsultasi ilmiah: dr. Setyadewi Lusyati, Sp.A , KK Perinatologi, RSAB Harapan Kita, Jakarta.
Label:
bayi
Berdamai dengan Demam
Hingga kini, banyak orang tua yang menganggap meningkatnya suhu tubuh pada bayi merupakan sebuah penyakit. Padahal, itu tidak sepenuhnya benar.
Sebenarnya, demam adalah proses mekanisme tubuh yang sehat ketika melawan penyakit. Bahkan boleh dibilang, demam berfungsi sebagai “alarm” yang menunjukkan kalau tubuh sedang melakukan “perlawanan” terhadap adanya gangguan, baik infeksi maupun perubahan lainnya.
Seperti diketahui, ketika sel-sel darah putih bekerja keras melawan penyakit, ada zat-zat kimia yang dilepas dalam aliran darah dan “berkelana” mengirim laporan ke otak. Tentu saja, laporan ini kemudian direspons dengan perintah agar tubuh meningkatkan suhunya. Alasannya? Agar menghambat perkembangbiakan penyakit yang masuk ke tubuh. Selain itu, diharapkan dapat merangsang pembuatan antibodi dalam tubuh.
Kapan disebut demam?
Tubuh bayi dikatakan demam jika suhunya lebih dari 37,5ºC. Pada umumnya, pengukuran suhu tubuh dengan termometer dilakukan dengan cara meletakkan alat pengukur suhu tersebut di ketiak bayi.
Dalam keadaan normal, suhu tubuh sudah diatur oleh pusat pengatur suhu badan di bagian dari otak (hipotalamus). Jika suhu lingkungan naik atau turun, tubuh akan mengirim sinyal ke pusat pengatur suhu tubuh untuk menyesuaikan kondisi tersebut.
Proses penyesuaian itulah yang akan “menampilkan” mekanisme tertentu. Misalnya, udara di sekitar dingin, maka pembuluh darah akan mengerut untuk mengurangi pengeluaran panas tubuh. Bila ini terjadi pada bayi Anda, biasanya dia akan mulai menggigil. Kontraksi otot ini merupakan proses untuk menimbulkan panas.
Sebaliknya, jika udara di luar panas, pembuluh darah akan melebar dan kelenjar keringat akan bekerja untuk melepas kelembaban. Dengan begitu, suhu tubuh akan menurun lagi.
Perhatikan ini!
Sebelum membawa si kecil ke dokter, ada beberapa hal yang perlu diperhatian untuk membantu mengurangi demamnya.
- Kompres dengan cara mencelup handuk kecil ke air hangat terlebih dulu. Tambah kehangatan airnya bila demamnya semakin tinggi. Dengan demikian, perbedaan antara air kompres dengan suhu tubuh tidak terlalu berbeda. Jika air kompres terlalu dingin, hal ini justru akan mengerutkan pembuluh darah si kecil. Akibatnya, panas tubuh malah tidak mau keluar. Anak jadi makin menggigil untuk mempertahankan keseimbangan suhu tubuhnya.
- Jika si kecil masih minum ASI, sering-seringlah disusui. Masuknya cairan yang banyak, lalu dikeluarkan lagi dalam bentuk urin, merupakan salah satu cara untuk menurunkan suhu tubuh.
Kapan ke Dokter?
Menurunkan demam memang sangat perlu, karena suhu tubuh yang terlalu tinggi bisa membahayakan si kecil. Yang jelas, jika bayi Anda yang berusia di bawah 3 bulan mengalami demam lebih dari 37,5 ° C, sebaiknya segera hubungi dokter. Apalagi , pada suhu ini si kecil biasanya sudah mulai terlihat lesu.
Retno W. Supriyadi
Konsultasi ilmiah: dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A( K), MTrop.Paed., Divisi Infeksi dan Pediatri Tropis, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Sebenarnya, demam adalah proses mekanisme tubuh yang sehat ketika melawan penyakit. Bahkan boleh dibilang, demam berfungsi sebagai “alarm” yang menunjukkan kalau tubuh sedang melakukan “perlawanan” terhadap adanya gangguan, baik infeksi maupun perubahan lainnya.
Seperti diketahui, ketika sel-sel darah putih bekerja keras melawan penyakit, ada zat-zat kimia yang dilepas dalam aliran darah dan “berkelana” mengirim laporan ke otak. Tentu saja, laporan ini kemudian direspons dengan perintah agar tubuh meningkatkan suhunya. Alasannya? Agar menghambat perkembangbiakan penyakit yang masuk ke tubuh. Selain itu, diharapkan dapat merangsang pembuatan antibodi dalam tubuh.
Kapan disebut demam?
Tubuh bayi dikatakan demam jika suhunya lebih dari 37,5ºC. Pada umumnya, pengukuran suhu tubuh dengan termometer dilakukan dengan cara meletakkan alat pengukur suhu tersebut di ketiak bayi.
Dalam keadaan normal, suhu tubuh sudah diatur oleh pusat pengatur suhu badan di bagian dari otak (hipotalamus). Jika suhu lingkungan naik atau turun, tubuh akan mengirim sinyal ke pusat pengatur suhu tubuh untuk menyesuaikan kondisi tersebut.
Proses penyesuaian itulah yang akan “menampilkan” mekanisme tertentu. Misalnya, udara di sekitar dingin, maka pembuluh darah akan mengerut untuk mengurangi pengeluaran panas tubuh. Bila ini terjadi pada bayi Anda, biasanya dia akan mulai menggigil. Kontraksi otot ini merupakan proses untuk menimbulkan panas.
Sebaliknya, jika udara di luar panas, pembuluh darah akan melebar dan kelenjar keringat akan bekerja untuk melepas kelembaban. Dengan begitu, suhu tubuh akan menurun lagi.
Perhatikan ini!
Sebelum membawa si kecil ke dokter, ada beberapa hal yang perlu diperhatian untuk membantu mengurangi demamnya.
- Kompres dengan cara mencelup handuk kecil ke air hangat terlebih dulu. Tambah kehangatan airnya bila demamnya semakin tinggi. Dengan demikian, perbedaan antara air kompres dengan suhu tubuh tidak terlalu berbeda. Jika air kompres terlalu dingin, hal ini justru akan mengerutkan pembuluh darah si kecil. Akibatnya, panas tubuh malah tidak mau keluar. Anak jadi makin menggigil untuk mempertahankan keseimbangan suhu tubuhnya.
- Jika si kecil masih minum ASI, sering-seringlah disusui. Masuknya cairan yang banyak, lalu dikeluarkan lagi dalam bentuk urin, merupakan salah satu cara untuk menurunkan suhu tubuh.
Kapan ke Dokter?
Menurunkan demam memang sangat perlu, karena suhu tubuh yang terlalu tinggi bisa membahayakan si kecil. Yang jelas, jika bayi Anda yang berusia di bawah 3 bulan mengalami demam lebih dari 37,5 ° C, sebaiknya segera hubungi dokter. Apalagi , pada suhu ini si kecil biasanya sudah mulai terlihat lesu.
Retno W. Supriyadi
Konsultasi ilmiah: dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A( K), MTrop.Paed., Divisi Infeksi dan Pediatri Tropis, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Rabu, September 03, 2008
Is it normal for my baby to tug on his penis?
Expert Answers
The BabyCenter Editorial Team
Yes. This can happen at any age, but it typically starts at 4 to 6 months, after babies gain control of their limbs and hands and start exploring their bodies. They'll grab at their ears, feet, and genitals — and for baby boys, the penis is an interesting and easy-to-reach body part to go for.
"It's a curious shape and location for inquisitive babies," says Bob Sears, a pediatrician in San Clemente, California, and the author of many books, including The Vaccine Book: Making the Right Decision for Your Child. (He's also the son of William Sears, the pediatrician and attachment parenting guru.)
Your baby's exploration may be occasional or quite frequent. Both are normal. It's also normal for your baby to experience "pleasant sensations," as Sears puts it. You may notice signs of this, like facial flushing and further touching.
On the other hand, a few rubs may satisfy your baby's curiosity, and he may stop in infancy and then later pick back up where he left off.
It's very unlikely that your child is rubbing or tugging at his genitals because of a medical problem. Occasionally, however, this behavior may signal some kind of skin irritation or infection or another medical issue. It's usually easy to tell whether your child is exploring in a pleasurable way or reacting to itching and discomfort, so talk to his doctor if you think the latter is the case. You can also check your baby's penis and scrotum for any skin lesions, redness, swelling, or signs of irritation.
If you are witnessing your child's first stab at masturbation, how should you handle it? Calmly — even if it makes you uncomfortable.
"Telling a child that [genital touching is] dirty, bad, or wrong teaches them that their body and their eventual sexuality are also dirty and bad," says Sears.
Let your baby explore without making any comments. If other people are uncomfortable with your child's attention to his genitals, putting a diaper and pants on him and giving him a toy to play with will usually direct his interest elsewhere. When your child is old enough to understand, tell him that touching and exploring his genitals is fine, but it's a private activity. If he'd like to keep it up, ask him to head to the bathroom or bedroom. If it occurs in public, ask your child to wait until he's at home in private.
Don't worry if your child needs to be reminded about this. Again, that's normal.
Most kids will give up exploring in public around school age, when it dawns on them that they don't see other kids rooting around in their trousers. Consult your child's doctor if the private-parts prodding continues in public after age 5 or 6 or if your child seems unusually intent on the activity. Otherwise, stick with the "fine but private" message and try to keep your cool. Find out more about masturbation in 12- to 24-month-olds and 2-year-olds, and read responses to a mom who's embarrassed by her toddler daughter's masturbation habits.
Label:
bayi
Contoh Jadwal MPASI dan Contoh Menu
Waktu Pemberian Makan
06:00 3ASI
08:00 Bubur/ tim ikan campur sayuran (bervariasi isinya)
10:00 ASIP
12:00 Buah (bervariasi)
14:00 Bubur susu
16:00 ASIP
18:00 Bubur/tim
20:00 ASI
22:00 ASI
24:00 ASI
02:00 ASI
04:00 ASI
Bubur Kentang Brokoli
Bahan:
500 ml air
200 g kentang kupas, potong kecil
60 g daging kakap, potong kecil
100 g tahu, potong kecil
75 g brokoli, potong kecil, bagi jadi 2 bagian
20 g keju parut, bagi jadi 2 bagian
Cara membuat:
- Campur air, kentang, daging kakap dan tahu. Rebus sampai kentang lunak, angkat.
- Ambil setengah bagian rebusan kentang, simpan di lemari pendingin untuk makan sore/malam.
- Tambahkan setengah bagian kentang dengan setengah bagian brokoli, masak sebentar di atas api sedang .
- Bubuhi setengah bagian keju parut. Angkat, dinginkan.
- Masukkan ke dalam blender dan haluskan. Atau, gunakan saringan kawat untuk manghaluskan makanan. Tuang ke dalam mangkuk saji dan sajikan hangat.
Untuk 2 porsi
1 porsi: 188 kalori
Bubur Makaroni Ayam & Keju
Bahan:
50 g makaroni, rebus, tiriskan
60 g daging ayam, rebus, cincang
200 ml air kaldu
50 g wortel, parut halus, bagi jadi 2 bagian
2 butir kuning telur
20 g keju parut, bagi jadi 2 bagian
Cara membuat:
- Campur makaroni, daging ayam, dan air kaldu. Rebus sampai makaroni lunak, angkat.
- Ambil setengahbagian makaroni, simpan di lemari pendingin untuk makan sore/malam.
- Tambahkan setengah bagian makaroni dengan setengah bagian wortel. Masak sebentar di atas api sedang .
- Tambahkan kuning telur dan setengah bagian keju parut. Angkat, dan dinginkan.
- Masukkan ke dalam blender dan haluskan. Atau, haluskan dengan saringan kawat. Tuang ke dalam mangkuk saji dan sajikan hangat.
Untuk 2 porsi
1 porsi: 271 kalori
Bubur Beras Campur
Bahan:
50 g beras, cuci, tiriskan
60 g daging sapi giling
1300 ml air
50 g tempe, potong kecil, bagi jadi 2 bagian
50 g tomat, potong kecil, bagi jadi 2 bagian
50 g daun bayam, potong kecil, bagi jadi 2 bagian
2 sdm santan, bagi jadi 2 bagian
Cara membuat:
- Rebus beras bersama daging dan air. Tambahkan tempe, masak sampai menjadi bubur kental. Angkat.
- Ambil setengah bagian bubur, simpan di lemari pendingin untuk makan sore/malam.
- Masukkan setengah bagian tomat pada setengah bagian bubur, lalu tambahkan setengah bagian bayam dan santan. Masak sebentar di atas api sedang . Angkat.
- Masukkan ke dalam blender dan haluskan. Atau, haluskan dengan saringan kawat. Tuang ke dalam mangkuk saji dan sajikan hangat.
Untuk 2 porsi
1 porsi: 192 kalori
06:00 3ASI
08:00 Bubur/ tim ikan campur sayuran (bervariasi isinya)
10:00 ASIP
12:00 Buah (bervariasi)
14:00 Bubur susu
16:00 ASIP
18:00 Bubur/tim
20:00 ASI
22:00 ASI
24:00 ASI
02:00 ASI
04:00 ASI
Bubur Kentang Brokoli
Bahan:
500 ml air
200 g kentang kupas, potong kecil
60 g daging kakap, potong kecil
100 g tahu, potong kecil
75 g brokoli, potong kecil, bagi jadi 2 bagian
20 g keju parut, bagi jadi 2 bagian
Cara membuat:
- Campur air, kentang, daging kakap dan tahu. Rebus sampai kentang lunak, angkat.
- Ambil setengah bagian rebusan kentang, simpan di lemari pendingin untuk makan sore/malam.
- Tambahkan setengah bagian kentang dengan setengah bagian brokoli, masak sebentar di atas api sedang .
- Bubuhi setengah bagian keju parut. Angkat, dinginkan.
- Masukkan ke dalam blender dan haluskan. Atau, gunakan saringan kawat untuk manghaluskan makanan. Tuang ke dalam mangkuk saji dan sajikan hangat.
Untuk 2 porsi
1 porsi: 188 kalori
Bubur Makaroni Ayam & Keju
Bahan:
50 g makaroni, rebus, tiriskan
60 g daging ayam, rebus, cincang
200 ml air kaldu
50 g wortel, parut halus, bagi jadi 2 bagian
2 butir kuning telur
20 g keju parut, bagi jadi 2 bagian
Cara membuat:
- Campur makaroni, daging ayam, dan air kaldu. Rebus sampai makaroni lunak, angkat.
- Ambil setengahbagian makaroni, simpan di lemari pendingin untuk makan sore/malam.
- Tambahkan setengah bagian makaroni dengan setengah bagian wortel. Masak sebentar di atas api sedang .
- Tambahkan kuning telur dan setengah bagian keju parut. Angkat, dan dinginkan.
- Masukkan ke dalam blender dan haluskan. Atau, haluskan dengan saringan kawat. Tuang ke dalam mangkuk saji dan sajikan hangat.
Untuk 2 porsi
1 porsi: 271 kalori
Bubur Beras Campur
Bahan:
50 g beras, cuci, tiriskan
60 g daging sapi giling
1300 ml air
50 g tempe, potong kecil, bagi jadi 2 bagian
50 g tomat, potong kecil, bagi jadi 2 bagian
50 g daun bayam, potong kecil, bagi jadi 2 bagian
2 sdm santan, bagi jadi 2 bagian
Cara membuat:
- Rebus beras bersama daging dan air. Tambahkan tempe, masak sampai menjadi bubur kental. Angkat.
- Ambil setengah bagian bubur, simpan di lemari pendingin untuk makan sore/malam.
- Masukkan setengah bagian tomat pada setengah bagian bubur, lalu tambahkan setengah bagian bayam dan santan. Masak sebentar di atas api sedang . Angkat.
- Masukkan ke dalam blender dan haluskan. Atau, haluskan dengan saringan kawat. Tuang ke dalam mangkuk saji dan sajikan hangat.
Untuk 2 porsi
1 porsi: 192 kalori
Label:
bayi
Jangan Menyuruh Bayi Belajar!
Jumat, 8 Agustus 2008 | 11:20 WIB
MEMBERIKAN stimulasi kepada bayi atau anak dengan metode flash card mungkin pernah Anda dengar atau bahkan dipraktikan. Di kalangan para ahli psikologi dan perkembangan anak, memberi stimulasi dengan metode flash card ini mengundang pro dan kontra.
Ada yang menilai metode ini baik selama sifatnya tidak memaksa dan disesuaikan dengan tahapan. Namun ada pula yang berpendapat stimulasi dengan cara flash card bukanlah stimulasi alami seperti halnya aktivitas bermain pada anak.
Salah satu ahli yang menentang metode stimulasi flash card adalah Psikolog dan Playtherapist dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si. Dalam pandangannya, mengajarkan anak dengan flash card termasuk kategori overstimulation atau stimulasi yang berlebihan.
"Tidak benar menyuruh bayi belajar, misalnya dengan flash card karena ini adalah overstimulation. Seorang pakar bermain Brian Sutton-Smith menegaskan ini sudah termasuk cognitive child labor atau secara kognitif anak sudah dipekerjakan terlalu keras," ungkap Mayke di Jakarta beberapa waktu lalu.
Menurut pendapat Mayke, ketika orang tua menyodorkan flash card berarti anak harus diam dan diminta memperhatikan sehingga anak sudah dituntut untuk belajar. "Di sana yang lebih ditekankan adalah faktor kognitifnya. Padahal di usia awal pertumbuhan yang harus dikembangkan adalah senses-nya (sensomotorik) , bukan memori. Artinya, bukan melatih memori secara khusus dengan diperlihatkan flash card. Itu sudah termasuk belajar yang sepertinya ada target yang ingin dicapai. Jadi sudah bukan bermain lagi," ungkapnya.
Mayke mengakui bahwa dengan pemberian metode flash card yang sifatnya singkat-singkat, mungkin anak akan cepat menangkap, mengingat dan mempelajarinya. Ada banyak penelitian yang mendukung maupun yang menentang metode ini. "Tentu penelitian itu ada yang pro dan kontra. Ada yang mengatakan itu bagus. Tetapi kontra juga sudah mengatakan bukti-bukti bahwa itu tidak baik bagi perkembangan anak karena masa anak adalah masa bermain di mana mereka tak bisa dituntut untuk diam dan belajar dengan suatu materi," tegasnya.
Mayke juga menilai dengan metode flash card hanyalah membantu percepatan kemampuan untuk sementara, dan yang dikhawatirkan justru anak akan jenuh sebelum waktunya. "Dari hasil penelitian menunjukkan, rangsangan terlalu dini yang sifatnya overstimulation ketika anak sudah bisa membaca hanya merupakan percepatan yang bersifat sementara. Tetapi saat mereka sudah menginjak kelas 4 SD dan prestasinya dibandingkan, tidak ada perbedaan yang signifkan," terangnya.
Bukti penelitian yang kontra dengan metode flash card tersebut, kata Mayke, salah satunya adalah yang dimuat film berjudul Smart Babies dari Discovery Health Channel. "Di situ, apa dikemukakan Glenn Doman dimentahkan, melalui penelitian psikologis. Para ahli yang dilibatkan dalam riset itu adalah psikiater, ahli neurologi, psikolog anak, pendidik anak," paparnya.
Yang juga dikhawatirkan, kata Mayke, bila orang tuanya ambisius, mereka menginginkan target tertentu. "Ketika anaknya diajarkan, lalu mereka frustasi, nah itu bahayanya. Metode ini juga dapat memancing orang tua untuk membenarkan bahwa sejak bayi anak harus belajar" ujarnya.
Yang lebih baik, lanjut Mayke, anak diberikan metode dengan apa yang mereka alami secara faktual bukan melalui gambar. "Flash card hanya gambar, gambar yang tidak faktual. Lebih baik mereka belajar misalnya apa itu bola dengan cara memagang dan memainkannya. Karena yang penting dalam tahap ini adalah sensomotor, semua indera perlu dirangsang, Jadi anak tidak hanya belajar dengan melihat dan mengingat kartu-kartu itu," ujarnya.
Ia menekankan kembali bahwa pada usia batita yang perlu dirangsang adalah sensomotoriknya karena kemampuan berpikirnya masih pra-operasional sehingga yang harus diberikan adalah sesuatu yang konkret, nyata, dialami, dirasakan. Akan lebih baik bila anak-anak atau bayi diterjunkan langsung dengan pengalamannya.
Kalaupun mau memperkenalkan gambar kepada anak, lanjut Mayke, orang tua mungkin dapat melakukannya dengan cara menghubungkannya langsung dengan sesuatu yang nyata. "Pada anak usia setahun misalnya sambil dipangku, kita perlihatkan gambar mobil lalu lihat juga mobil ayah seperti apa. Jadi related to something very completely real," ujarnya.
MEMBERIKAN stimulasi kepada bayi atau anak dengan metode flash card mungkin pernah Anda dengar atau bahkan dipraktikan. Di kalangan para ahli psikologi dan perkembangan anak, memberi stimulasi dengan metode flash card ini mengundang pro dan kontra.
Ada yang menilai metode ini baik selama sifatnya tidak memaksa dan disesuaikan dengan tahapan. Namun ada pula yang berpendapat stimulasi dengan cara flash card bukanlah stimulasi alami seperti halnya aktivitas bermain pada anak.
Salah satu ahli yang menentang metode stimulasi flash card adalah Psikolog dan Playtherapist dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si. Dalam pandangannya, mengajarkan anak dengan flash card termasuk kategori overstimulation atau stimulasi yang berlebihan.
"Tidak benar menyuruh bayi belajar, misalnya dengan flash card karena ini adalah overstimulation. Seorang pakar bermain Brian Sutton-Smith menegaskan ini sudah termasuk cognitive child labor atau secara kognitif anak sudah dipekerjakan terlalu keras," ungkap Mayke di Jakarta beberapa waktu lalu.
Menurut pendapat Mayke, ketika orang tua menyodorkan flash card berarti anak harus diam dan diminta memperhatikan sehingga anak sudah dituntut untuk belajar. "Di sana yang lebih ditekankan adalah faktor kognitifnya. Padahal di usia awal pertumbuhan yang harus dikembangkan adalah senses-nya (sensomotorik) , bukan memori. Artinya, bukan melatih memori secara khusus dengan diperlihatkan flash card. Itu sudah termasuk belajar yang sepertinya ada target yang ingin dicapai. Jadi sudah bukan bermain lagi," ungkapnya.
Mayke mengakui bahwa dengan pemberian metode flash card yang sifatnya singkat-singkat, mungkin anak akan cepat menangkap, mengingat dan mempelajarinya. Ada banyak penelitian yang mendukung maupun yang menentang metode ini. "Tentu penelitian itu ada yang pro dan kontra. Ada yang mengatakan itu bagus. Tetapi kontra juga sudah mengatakan bukti-bukti bahwa itu tidak baik bagi perkembangan anak karena masa anak adalah masa bermain di mana mereka tak bisa dituntut untuk diam dan belajar dengan suatu materi," tegasnya.
Mayke juga menilai dengan metode flash card hanyalah membantu percepatan kemampuan untuk sementara, dan yang dikhawatirkan justru anak akan jenuh sebelum waktunya. "Dari hasil penelitian menunjukkan, rangsangan terlalu dini yang sifatnya overstimulation ketika anak sudah bisa membaca hanya merupakan percepatan yang bersifat sementara. Tetapi saat mereka sudah menginjak kelas 4 SD dan prestasinya dibandingkan, tidak ada perbedaan yang signifkan," terangnya.
Bukti penelitian yang kontra dengan metode flash card tersebut, kata Mayke, salah satunya adalah yang dimuat film berjudul Smart Babies dari Discovery Health Channel. "Di situ, apa dikemukakan Glenn Doman dimentahkan, melalui penelitian psikologis. Para ahli yang dilibatkan dalam riset itu adalah psikiater, ahli neurologi, psikolog anak, pendidik anak," paparnya.
Yang juga dikhawatirkan, kata Mayke, bila orang tuanya ambisius, mereka menginginkan target tertentu. "Ketika anaknya diajarkan, lalu mereka frustasi, nah itu bahayanya. Metode ini juga dapat memancing orang tua untuk membenarkan bahwa sejak bayi anak harus belajar" ujarnya.
Yang lebih baik, lanjut Mayke, anak diberikan metode dengan apa yang mereka alami secara faktual bukan melalui gambar. "Flash card hanya gambar, gambar yang tidak faktual. Lebih baik mereka belajar misalnya apa itu bola dengan cara memagang dan memainkannya. Karena yang penting dalam tahap ini adalah sensomotor, semua indera perlu dirangsang, Jadi anak tidak hanya belajar dengan melihat dan mengingat kartu-kartu itu," ujarnya.
Ia menekankan kembali bahwa pada usia batita yang perlu dirangsang adalah sensomotoriknya karena kemampuan berpikirnya masih pra-operasional sehingga yang harus diberikan adalah sesuatu yang konkret, nyata, dialami, dirasakan. Akan lebih baik bila anak-anak atau bayi diterjunkan langsung dengan pengalamannya.
Kalaupun mau memperkenalkan gambar kepada anak, lanjut Mayke, orang tua mungkin dapat melakukannya dengan cara menghubungkannya langsung dengan sesuatu yang nyata. "Pada anak usia setahun misalnya sambil dipangku, kita perlihatkan gambar mobil lalu lihat juga mobil ayah seperti apa. Jadi related to something very completely real," ujarnya.
Kamis, Agustus 14, 2008
Hati-Hati dengan Bahaya Plastik! Pelajari Sebelum Terlambat
16 Maret, 2008
Sudah banyak orang yang memberi peringatan, rumor, gosip bahkan artikel majalah tentang bahaya plastik. Tetapi tetap saja hanya segelintir orang yang menggubris, peduli atau sampai meneliti lebih lanjut.
Plastik adalah salah satu bahan yang dapat kita temui di hampir setiap barang. Mulai dari botol minum, TV, kulkas, pipa pralon, plastik laminating, gigi palsu, compact disk (CD), kutex (pembersih kuku), mobil, mesin, alat-alat militer hingga pestisida. Oleh karena itu kita bisa hampir dipastikan pernah menggunakan dan memiliki barang-barang yang mengandung Bisphenol-A. Salah satu barang yang memakai plastik dan mengandung Bisphenol A adalah industri makanan dan minuman sebagai tempat penyimpan makanan, plastik penutup makanan, botol air mineral, dan botol bayi walaupun sekarang sudah ada botol bayi dan penyimpan makanan yang tidak mengandung Bisphenol A sehingga aman untuk dipakai makan. Satu tes membuktikan 95% orang pernah memakai barang mengandung Bisphenol-A.
Plastik dipakai karena ringan, tidak mudah pecah, dan murah. Akan tetapi plastik juga beresiko terhadap lingkungan dan kesehatan keluarga kita. Oleh karena itu kita harus mengerti plastik-plastik yang aman untuk kita pakai.
Apakah arti dari simbol-simbol yang kita temui pada berbagai produk plastik (Biasanya terletak di bawah botol)?
#1. PETE atau PET (polyethylene terephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/ tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Boto-botol dengan bahan #1 dan #2 direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas. Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.
#2. HDPE (high density polyethylene) biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu. Sama seperti #1 PET, #2 juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian.
#3. V atau PVC (polyvinyl chloride) adalah plastik yang paling sulit di daur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.
#4. LDPE (low density polyethylene) biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek. Barang-barang dengan kode #4 dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan #4 bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.
#5. PP (polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik.
#6. PS (polystyrene) biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dll. Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf. Selain tempat makanan, styrine juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China.
#7. Other (biasanya polycarbonate) bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga. Polycarbonate bisa mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon. Hindari bahan plastik Polycarbonate.
Masih banyak sekali barang plastik yang tidak mencantumkan simbol-simbol ini, terutama barang plastik buatan lokal di Indonesia. Oleh karena itu, kalau anda ragu lebih baik tidak membeli. Kalaupun barang bersimbol lebih mahal, harga tersebut lebih berharga dibandingkan kesehatan keluarga kita.
Pada akhirnya. Hindari penggunaan plastik apapun di Microwave. Gunakan bahan keramik, gelas atau pyrex sebagai gantinya.
Hindari juga membuang sampah plastik terutama yang mengandung Bisphenol-A sembarangan karena bahan tersebut pun bisa mencemari air tanah yang pada akhirnya pun bisa mencemari air minum banyak orang.
Semoga informasi ini bermanfaat.
Sudah banyak orang yang memberi peringatan, rumor, gosip bahkan artikel majalah tentang bahaya plastik. Tetapi tetap saja hanya segelintir orang yang menggubris, peduli atau sampai meneliti lebih lanjut.
Plastik adalah salah satu bahan yang dapat kita temui di hampir setiap barang. Mulai dari botol minum, TV, kulkas, pipa pralon, plastik laminating, gigi palsu, compact disk (CD), kutex (pembersih kuku), mobil, mesin, alat-alat militer hingga pestisida. Oleh karena itu kita bisa hampir dipastikan pernah menggunakan dan memiliki barang-barang yang mengandung Bisphenol-A. Salah satu barang yang memakai plastik dan mengandung Bisphenol A adalah industri makanan dan minuman sebagai tempat penyimpan makanan, plastik penutup makanan, botol air mineral, dan botol bayi walaupun sekarang sudah ada botol bayi dan penyimpan makanan yang tidak mengandung Bisphenol A sehingga aman untuk dipakai makan. Satu tes membuktikan 95% orang pernah memakai barang mengandung Bisphenol-A.
Plastik dipakai karena ringan, tidak mudah pecah, dan murah. Akan tetapi plastik juga beresiko terhadap lingkungan dan kesehatan keluarga kita. Oleh karena itu kita harus mengerti plastik-plastik yang aman untuk kita pakai.
Apakah arti dari simbol-simbol yang kita temui pada berbagai produk plastik (Biasanya terletak di bawah botol)?
#1. PETE atau PET (polyethylene terephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/ tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Boto-botol dengan bahan #1 dan #2 direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas. Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.
#2. HDPE (high density polyethylene) biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu. Sama seperti #1 PET, #2 juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian.
#3. V atau PVC (polyvinyl chloride) adalah plastik yang paling sulit di daur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.
#4. LDPE (low density polyethylene) biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek. Barang-barang dengan kode #4 dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan #4 bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.
#5. PP (polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik.
#6. PS (polystyrene) biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dll. Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf. Selain tempat makanan, styrine juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China.
#7. Other (biasanya polycarbonate) bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga. Polycarbonate bisa mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon. Hindari bahan plastik Polycarbonate.
Masih banyak sekali barang plastik yang tidak mencantumkan simbol-simbol ini, terutama barang plastik buatan lokal di Indonesia. Oleh karena itu, kalau anda ragu lebih baik tidak membeli. Kalaupun barang bersimbol lebih mahal, harga tersebut lebih berharga dibandingkan kesehatan keluarga kita.
Pada akhirnya. Hindari penggunaan plastik apapun di Microwave. Gunakan bahan keramik, gelas atau pyrex sebagai gantinya.
Hindari juga membuang sampah plastik terutama yang mengandung Bisphenol-A sembarangan karena bahan tersebut pun bisa mencemari air tanah yang pada akhirnya pun bisa mencemari air minum banyak orang.
Semoga informasi ini bermanfaat.
Senin, Agustus 04, 2008
Hindarkan Anak Dari Resiko Tersedak
Meski terdengar sepele tetapi tersedak adalah hal yang berbahaya. Selain dapat membuat jalan nafas tersendat hingga tertutup sama sekali, bila dibiarkan peristiwa tersedak dapat berakibat fatal hingga menimbulkan kematian.
Hanya sesaat setelah Kevin (4 tahun) menggigit hotdog-nya, teman sepermainannya, Peter (4,5 tahun) memperlihatkan wajah lucu padanya. Meski baru akan menelan hotdog yang digigitnya, rasanya Kevin tak bisa menahan rasa geli melihat aksi Peter. Nyatanya, tertawa sambil menelan sangat sulit.Dalam sekejap, hotdog dalam mulutnya menyangkut ditenggorokan hingga ia tidak bisa bicara dan bernafas, bahkan Kevin sama sekali tak bisa bersuara. Kevin tersedak. Tentu saja kejadian itu membuat Anne (32 tahun) guru Kevin dan murid-murid lainnya di TK tersebut panik.
Meski terdengar sepele, tetapi tersedak merupakan peristiwa yang sangat menakutkan. Selain dapat membuat jalan nafas tersendat hingga tertutup sama sekali, bila dibiarkan peristiwa tersedak dapat berakibat fatal hingga menimbulkan kematian. ‘’Pada kondisi tertentu, tersedak bisa menyumbat saluran nafas secara total sehingga membuat tidak dapat bernafas. Ini bisa berujung kematian,’’ kata Dr. Oemi A. Tadjudin, Sp. THT, dokter spesialisTHT (telinga-hidung- tenggorokan) , Siloam Hospitals Kebon Jeruk.
Demikian pula menurut Steven Dowshen, MD, seorang spesialis endokrinologi, di Division of Endocrinology Alfred I. duPont Hospital for Children, Wilmington, DE. Tersedak, katanya, secara sederhana merupakan peristiwa tertutupnya jalan nafas akibat adanya suatu objek yang menyangkut di tenggorokkan sehingga menghambat aliran udara baik keluar maupun masuk. ‘’ Pada kondisi itu, anak tidak bisa bernafas, atau mengeluarkan suara apapun.Lama kelamaan, wajahnya akan kemerahan hingga kebiruan, sebab oksigen yang dihirup semakin berkurang,’’ tuturnya dalam kidshealth.org.
Hindari Sebelum Terlambat
Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), umumnya anak balita yang tersedak disebabkan oleh makanan. Pada situs med.umich.edu disebutkan langkah-langkah dasar yang dapat dilakukan untuk menghindarkan anak dari tersedak, yaitu :
1. Perhatikanlah si kecil saat sedang makan dan bermain. Si kecil sebaiknya berada dalam posisi duduk saat makan.
2. Hindari makanan beresiko, The American Academy of Pediatrics dalam jurnal “Choking: common dangers for children” menyebutkan bahwa anak di bawah usia 4 tahun sebaiknya tidak diperkenalkan dengan sejumlah makanan. Diantaranya hotdog, kacang, popcorn, permen karet, selai kacang, kismis, potongan daging dalam ukuran besar dan kurang empuk, serta keju.
3. Jangan terburu-buru saat makan. Potonglah makanan anak dalam ukurankecil, lalu ingatkan anak untuk mengunyah makanan yang disantapnya dengan baik.
4. Jauhkan mainan berbahaya, dan perabotan rumah tangga yang dapat dimasukan mulut/ menyangkut di tenggorokan.
5. Belajarlah teknik dasar pertolongan pertama pada anak yang tersedak.
Inilah langkah-langkah yang bisa Anda lakukan jika si kecil tersedak :
* Tenang. Sebelum melakukan pertolongan pertama, katakan pada anak untuk tenang.
* Batuk. Mintalah anak untuk membatukkan benda yang menyebabkan tersedak. Batuk yang cukup kuat diperlukan untuk mengeluarkan benda penyebab tersedak. Bila anak masih bisa bicara, Anda bisa lebih tenang karena umumnya mereka bisa mengeluarkan benda hanya dengan membatukkannya.
* Membungkuk. Bila dengan batuk, benda penyebab tersedak tidak juga bisa keluar, mintalah ia batuk sambil membungkuk atau posisi kepala lebih rendah. Gaya gravitasi akann membantu ia mengeluarkan benda tersebut.
* Manuver Heimlich, Bila cara di atas tidak berhasil juga, lakukan tindakan pertolongan dengan Manuver Heimlich. Manuver Heimlich adalah tindakan yang dikenal dapat menolong orang yang tersedak. Meski demikian, menurut Steven Dowshen, MD sebaiknya Manuver Heimlich dilakukan oleh orang yang sudah terlatih, karena bila tidak justru bisa berbahaya bagi bayi/anak yang tersedak.
Dalam situs webmd.com terangkum langkah-langkah Manuver Heimlich sebagai
berikut:
* Untuk bayi kurang dari 1 tahun
1. Baringkan bayi dengan wajah menghadap ke bawah dan jari-jari tangan kanan Anda menahannya di bahu dan leher bayi, dengan lengan bawah kiri sebagai landasan.
2. Beri lima kali tepukan di punggungnya dengan tangan yang satunya.
3. Jika ini gagal, balikkan badannya hingga wajahnya menghadap Anda, lalu
dengan dua jari, tekan sebanyak lima kali di tulang dada bagian bawah,
kurang lebih satu jari dari garis yang dibentuk oleh kedua puting susu bayi.
4. Periksa mulut dan ambil semua benda yang dapat Anda lihat.
5. Ulangi langkah-langkah tersebut, jika diperlukan.
6. Bila bayi tidak sadar, mulailah resusitasi dan bawalah ke rumah sakit (UGD).
* Untuk anak lebih dari 1 tahun dan dewasa
1. Berdiri di belakang anak, carilah bagian bawah iganya.
2. Letakkan telapak Anda di perut anak di atas pusarnya dan buat kepalan.
Bagian jempol berada pada perut anak.
3. Letakkan telapak tangan sisi lain di atas kepalan.
4. Tekan perut ke arah atas sampai benda terpental ke luar. Perhatikan kekuatan tekanan sesuai keadaan fisik anak. PG
Mainan yang Menakutkan
Di Amerika Serikat, balon menjadi penyebab utama kematian pada anak-anak pada saat bermain, melebihi mainan lainnya. Berdasarkan data National SAFE KIDS Campaign (NSKC) : Airway Obstruction Injury Fact Sheet. Washington (DC): NSKC, 2004, banyak anak yang tertarik pada balon karet, tidak hanya untuk meniupnya tetapi juga mengemutnya, sehingga tidak sengaja menyangkut di tenggorokan. ‘’Ini dapat menjadi kasus tersedak yang sangat berbahaya karena akan menutupi tenggorokan atau jalan aliran udara secara total,’’ demikian seperti yang tertera dalam situs med.umich.edu. Mainan lain yang berbahaya di antaranya adalah:
* Potongan robot, boneka, dan mainan lainnya yang rusak, kelereng, bola kecil –dalam ukuran yang bisa ditelan— koin dan tutup pulpen.
Untuk itu, awasilah si kecil saat bermain dan hindari membeli mainan yang beresiko baginya. Jika ada mainan yang rusak/patah, lebih baik segera diperbaiki atau jauhkan sama sekali dari jangkauannya, terutama bagian berukuran kecil yang dapat dimasukan ke mulut anak. PG
Hanya sesaat setelah Kevin (4 tahun) menggigit hotdog-nya, teman sepermainannya, Peter (4,5 tahun) memperlihatkan wajah lucu padanya. Meski baru akan menelan hotdog yang digigitnya, rasanya Kevin tak bisa menahan rasa geli melihat aksi Peter. Nyatanya, tertawa sambil menelan sangat sulit.Dalam sekejap, hotdog dalam mulutnya menyangkut ditenggorokan hingga ia tidak bisa bicara dan bernafas, bahkan Kevin sama sekali tak bisa bersuara. Kevin tersedak. Tentu saja kejadian itu membuat Anne (32 tahun) guru Kevin dan murid-murid lainnya di TK tersebut panik.
Meski terdengar sepele, tetapi tersedak merupakan peristiwa yang sangat menakutkan. Selain dapat membuat jalan nafas tersendat hingga tertutup sama sekali, bila dibiarkan peristiwa tersedak dapat berakibat fatal hingga menimbulkan kematian. ‘’Pada kondisi tertentu, tersedak bisa menyumbat saluran nafas secara total sehingga membuat tidak dapat bernafas. Ini bisa berujung kematian,’’ kata Dr. Oemi A. Tadjudin, Sp. THT, dokter spesialisTHT (telinga-hidung- tenggorokan) , Siloam Hospitals Kebon Jeruk.
Demikian pula menurut Steven Dowshen, MD, seorang spesialis endokrinologi, di Division of Endocrinology Alfred I. duPont Hospital for Children, Wilmington, DE. Tersedak, katanya, secara sederhana merupakan peristiwa tertutupnya jalan nafas akibat adanya suatu objek yang menyangkut di tenggorokkan sehingga menghambat aliran udara baik keluar maupun masuk. ‘’ Pada kondisi itu, anak tidak bisa bernafas, atau mengeluarkan suara apapun.Lama kelamaan, wajahnya akan kemerahan hingga kebiruan, sebab oksigen yang dihirup semakin berkurang,’’ tuturnya dalam kidshealth.org.
Hindari Sebelum Terlambat
Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), umumnya anak balita yang tersedak disebabkan oleh makanan. Pada situs med.umich.edu disebutkan langkah-langkah dasar yang dapat dilakukan untuk menghindarkan anak dari tersedak, yaitu :
1. Perhatikanlah si kecil saat sedang makan dan bermain. Si kecil sebaiknya berada dalam posisi duduk saat makan.
2. Hindari makanan beresiko, The American Academy of Pediatrics dalam jurnal “Choking: common dangers for children” menyebutkan bahwa anak di bawah usia 4 tahun sebaiknya tidak diperkenalkan dengan sejumlah makanan. Diantaranya hotdog, kacang, popcorn, permen karet, selai kacang, kismis, potongan daging dalam ukuran besar dan kurang empuk, serta keju.
3. Jangan terburu-buru saat makan. Potonglah makanan anak dalam ukurankecil, lalu ingatkan anak untuk mengunyah makanan yang disantapnya dengan baik.
4. Jauhkan mainan berbahaya, dan perabotan rumah tangga yang dapat dimasukan mulut/ menyangkut di tenggorokan.
5. Belajarlah teknik dasar pertolongan pertama pada anak yang tersedak.
Inilah langkah-langkah yang bisa Anda lakukan jika si kecil tersedak :
* Tenang. Sebelum melakukan pertolongan pertama, katakan pada anak untuk tenang.
* Batuk. Mintalah anak untuk membatukkan benda yang menyebabkan tersedak. Batuk yang cukup kuat diperlukan untuk mengeluarkan benda penyebab tersedak. Bila anak masih bisa bicara, Anda bisa lebih tenang karena umumnya mereka bisa mengeluarkan benda hanya dengan membatukkannya.
* Membungkuk. Bila dengan batuk, benda penyebab tersedak tidak juga bisa keluar, mintalah ia batuk sambil membungkuk atau posisi kepala lebih rendah. Gaya gravitasi akann membantu ia mengeluarkan benda tersebut.
* Manuver Heimlich, Bila cara di atas tidak berhasil juga, lakukan tindakan pertolongan dengan Manuver Heimlich. Manuver Heimlich adalah tindakan yang dikenal dapat menolong orang yang tersedak. Meski demikian, menurut Steven Dowshen, MD sebaiknya Manuver Heimlich dilakukan oleh orang yang sudah terlatih, karena bila tidak justru bisa berbahaya bagi bayi/anak yang tersedak.
Dalam situs webmd.com terangkum langkah-langkah Manuver Heimlich sebagai
berikut:
* Untuk bayi kurang dari 1 tahun
1. Baringkan bayi dengan wajah menghadap ke bawah dan jari-jari tangan kanan Anda menahannya di bahu dan leher bayi, dengan lengan bawah kiri sebagai landasan.
2. Beri lima kali tepukan di punggungnya dengan tangan yang satunya.
3. Jika ini gagal, balikkan badannya hingga wajahnya menghadap Anda, lalu
dengan dua jari, tekan sebanyak lima kali di tulang dada bagian bawah,
kurang lebih satu jari dari garis yang dibentuk oleh kedua puting susu bayi.
4. Periksa mulut dan ambil semua benda yang dapat Anda lihat.
5. Ulangi langkah-langkah tersebut, jika diperlukan.
6. Bila bayi tidak sadar, mulailah resusitasi dan bawalah ke rumah sakit (UGD).
* Untuk anak lebih dari 1 tahun dan dewasa
1. Berdiri di belakang anak, carilah bagian bawah iganya.
2. Letakkan telapak Anda di perut anak di atas pusarnya dan buat kepalan.
Bagian jempol berada pada perut anak.
3. Letakkan telapak tangan sisi lain di atas kepalan.
4. Tekan perut ke arah atas sampai benda terpental ke luar. Perhatikan kekuatan tekanan sesuai keadaan fisik anak. PG
Mainan yang Menakutkan
Di Amerika Serikat, balon menjadi penyebab utama kematian pada anak-anak pada saat bermain, melebihi mainan lainnya. Berdasarkan data National SAFE KIDS Campaign (NSKC) : Airway Obstruction Injury Fact Sheet. Washington (DC): NSKC, 2004, banyak anak yang tertarik pada balon karet, tidak hanya untuk meniupnya tetapi juga mengemutnya, sehingga tidak sengaja menyangkut di tenggorokan. ‘’Ini dapat menjadi kasus tersedak yang sangat berbahaya karena akan menutupi tenggorokan atau jalan aliran udara secara total,’’ demikian seperti yang tertera dalam situs med.umich.edu. Mainan lain yang berbahaya di antaranya adalah:
* Potongan robot, boneka, dan mainan lainnya yang rusak, kelereng, bola kecil –dalam ukuran yang bisa ditelan— koin dan tutup pulpen.
Untuk itu, awasilah si kecil saat bermain dan hindari membeli mainan yang beresiko baginya. Jika ada mainan yang rusak/patah, lebih baik segera diperbaiki atau jauhkan sama sekali dari jangkauannya, terutama bagian berukuran kecil yang dapat dimasukan ke mulut anak. PG
PENYAKIT BALITA - Cara Tepat Tangani Anak Kejang
Minggu, 11 September 2005
Jangan pernah menyepelekan kejadian kejang pada anak. Penanganan yang tidak tepat dapat mempengaruhi tingkat kecerdasannya, apalagi sampai terlambat diobati. Anak bisa menderita penyakit epilepsi, bahkan keterbelakangan mental. Bila hal itu terjadi, Anda akan menyesal seumur hidup!
Sebelum kejang biasanya anak akan menderita demam yang tinggi sekitar 38 - 40 derajat Celcius. Pada saat demam ini, kekejangan yang terjadi, tergantung kekuatan tubuh si anak. Banyak anak demam tinggi dan kejang setelah melakukan imunisasi. Biasanya setelah imunisasi, dokter memberi resep obat penurun panas untuk segera diminumkan ke si kecil. Kejang yang sering terjadi pada anak adalah kejang kontraksi otot yang berlebihan di luar kehendak. Kejang semacam itu terjadi saat suhu tubuh meningkat. Kejang ini disebut kejang demam atau mengejangnya otot-otot pangkal tenggorok sebagai akibat menyempitnya jalan napas yang disebut kejang laring. Penyakit yang di manifestasikan kejang yaitu penyakit kejang demam, epilepsi atau tuberkolusis intrakranial atau orang awam menyebutnya TBC otak.
Kejang demam dapat berjalan singkat dan tidak berbahaya. Tapi bila kejang mencapai 15 menit dapat membahayakan si kecil, karena bisa menyebabkan kerusakan otak sehingga dapat menyebabkan epilepsi, kelumpuhan bahkan bisa menyebabkan retardasi atau keterbelakangan mental. Kejang demam dialami 2-3 persen anak-anak.
Kejang demam terbagi dua, yaitu kejang demam yang sederhana dan kejang demam yang akibat penyakit lain atau gangguan dalam tengkorak kepala. Kejang sederhana dengan ciri-ciri menyerang anak usia 4 bulan sampai 4 tahun, kejang berlangsung tidak lebih dari 15 menit, kejang timbul dalam 16 jam demam pertama, frekuensi demam kurang dari 4 kali dalam setahun. Kejang dapat timbul pula ketika si kecil menderita muntah dan diare.
Kejang bisa pula timbul tanpa demam, yaitu disebabkan gangguan elektrolit darah akibat muntah dan diare, sakit lama yang menyebabkan gula darah rendah, asupan makan yang kurang, atau menderita kejang yang sudah lama dialami akibat epilepsi. Kejang akibat kelainan neurologis atau gangguan perkembangan, berlangsung lebih dari 15 menit.
Keturunan
Kejang akibat penyakit lain seperti epilepsi biasanya berasal dari keluarga memiliki riwayat kejang demam sama. Orang tua yang pernah mengalami kejang sewaktu kecil sebaiknya waspada, karena si kecil berisiko tinggi mengalami kejang yang sama.
Selain faktor keturunan, setiap penyakit atau kelainan yang mengganggu fungsi otak dapat pula menyebabkan kejang. Bisa akibat trauma lahir, trauma kepala, tumor otak, radang otak, perdarahan di otak, hipoksia (kekurangan oksigen dalam jaringan), gangguan elektrolit, gangguan metabolisme, gangguan peredarah darah, keracunan, alergi dan cacat bawaan.
Anak yang pernah menderita kejang demam, sebesar 50 persen berisiko terkena kejang demam kembali dalam setahun pertama setelah kejang. Anak yang menderita kejang demam kemudian diikuti dengan kejang tanpa demam berisiko lima kali lebih besar menderita retardasi mental.
Kejang-kejang kemungkinan bisa terjadi bila suhu badan sang bayi atau anak terlalu tinggi. Dimana pada saat kejang badannya menjadi kaku, bola mata berbalik keatas, kondisi ini biasa disebut "step". Bila si kecil mengalami keadaan ini, segeralah bawa ke dokter atau rumah sakit yang terdekat. Karena jika keadaan kejang seperti ini dibiarkan terlalu lama, dapat menbahayakan si kecil.
Jangan mudah percaya bahwa minum kopi bisa menghindari dari kejang atau step. Secara medis, sebetulnya kopi tidak berguna untuk mengatasi kejang. Kopi justru dapat menyebabkan tersumbatnya pernapasan bila diberikan pada saat anak Anda mengalami kejang, yang akhirnya mengantarkan pada kematian.
Kasus kejang kopi ini pernah terjadi di Balikpapan, seorang bocah laki-laki berusia 5 tahun yang mengalami sakit muntaber. Setelah diberi pengobatan di sebuah rumah sakit, kondisi bocah tersebut mulai membaik. Namun ketika sampai di rumah, bocah bernama Andika tersebut mengalami kejang-kejang. Bermaksud menghentikan kejang si bocah, ibu bocah itu kemudian memberikan sesendok cairan kopi yang kebetulan ada didekatnya pada si Andika yang sedang kejang. Kejangnya bukan berkurang, seluruh badannya mengalami kejang semakin hebat dan selanjutnya Andika tidak bergerak lagi.
Cara penanganan masalah demam kejang pada anak, yang penting jangan panik. Kemudian, kompres bagian kening kepala dan ketiak si kecil dengan kain handuk dari air hangat agar panas cepat terserap. Lakukan hal ini berulang kali. Kenakan pakaian yang longgar, dan hindari pakaian tebal pada si kecil. Usahakan pula kondisi kamar si kecil yang selalu nyaman agar rasa panas tubuh tidak bertambah. Bila panas tubuh tak kunjung mereda, secepat mungkin bawalah ke rumah sakit, klinik atau dokter terdekat.
Jangan melakukan pengkompresan dengan lap yang dingin, karena dapat menyebabkan korslet di otak --akan terjadi benturan kuat karena atara suhu panas tubuh si kecil dengan lap pres dingin. Kalau dinyatakan epilepsi, segera minum obat resep dokter secara teratur.
Sediakan obat anti kejang lewat dubur di rumah jika kejang membuat anak tidak mungkin meminum obat. Selain itu, sediakan pula obat penurun panas di rumah seperti parasetamol.
(Kentos/Berbagai sumber)
Jangan pernah menyepelekan kejadian kejang pada anak. Penanganan yang tidak tepat dapat mempengaruhi tingkat kecerdasannya, apalagi sampai terlambat diobati. Anak bisa menderita penyakit epilepsi, bahkan keterbelakangan mental. Bila hal itu terjadi, Anda akan menyesal seumur hidup!
Sebelum kejang biasanya anak akan menderita demam yang tinggi sekitar 38 - 40 derajat Celcius. Pada saat demam ini, kekejangan yang terjadi, tergantung kekuatan tubuh si anak. Banyak anak demam tinggi dan kejang setelah melakukan imunisasi. Biasanya setelah imunisasi, dokter memberi resep obat penurun panas untuk segera diminumkan ke si kecil. Kejang yang sering terjadi pada anak adalah kejang kontraksi otot yang berlebihan di luar kehendak. Kejang semacam itu terjadi saat suhu tubuh meningkat. Kejang ini disebut kejang demam atau mengejangnya otot-otot pangkal tenggorok sebagai akibat menyempitnya jalan napas yang disebut kejang laring. Penyakit yang di manifestasikan kejang yaitu penyakit kejang demam, epilepsi atau tuberkolusis intrakranial atau orang awam menyebutnya TBC otak.
Kejang demam dapat berjalan singkat dan tidak berbahaya. Tapi bila kejang mencapai 15 menit dapat membahayakan si kecil, karena bisa menyebabkan kerusakan otak sehingga dapat menyebabkan epilepsi, kelumpuhan bahkan bisa menyebabkan retardasi atau keterbelakangan mental. Kejang demam dialami 2-3 persen anak-anak.
Kejang demam terbagi dua, yaitu kejang demam yang sederhana dan kejang demam yang akibat penyakit lain atau gangguan dalam tengkorak kepala. Kejang sederhana dengan ciri-ciri menyerang anak usia 4 bulan sampai 4 tahun, kejang berlangsung tidak lebih dari 15 menit, kejang timbul dalam 16 jam demam pertama, frekuensi demam kurang dari 4 kali dalam setahun. Kejang dapat timbul pula ketika si kecil menderita muntah dan diare.
Kejang bisa pula timbul tanpa demam, yaitu disebabkan gangguan elektrolit darah akibat muntah dan diare, sakit lama yang menyebabkan gula darah rendah, asupan makan yang kurang, atau menderita kejang yang sudah lama dialami akibat epilepsi. Kejang akibat kelainan neurologis atau gangguan perkembangan, berlangsung lebih dari 15 menit.
Keturunan
Kejang akibat penyakit lain seperti epilepsi biasanya berasal dari keluarga memiliki riwayat kejang demam sama. Orang tua yang pernah mengalami kejang sewaktu kecil sebaiknya waspada, karena si kecil berisiko tinggi mengalami kejang yang sama.
Selain faktor keturunan, setiap penyakit atau kelainan yang mengganggu fungsi otak dapat pula menyebabkan kejang. Bisa akibat trauma lahir, trauma kepala, tumor otak, radang otak, perdarahan di otak, hipoksia (kekurangan oksigen dalam jaringan), gangguan elektrolit, gangguan metabolisme, gangguan peredarah darah, keracunan, alergi dan cacat bawaan.
Anak yang pernah menderita kejang demam, sebesar 50 persen berisiko terkena kejang demam kembali dalam setahun pertama setelah kejang. Anak yang menderita kejang demam kemudian diikuti dengan kejang tanpa demam berisiko lima kali lebih besar menderita retardasi mental.
Kejang-kejang kemungkinan bisa terjadi bila suhu badan sang bayi atau anak terlalu tinggi. Dimana pada saat kejang badannya menjadi kaku, bola mata berbalik keatas, kondisi ini biasa disebut "step". Bila si kecil mengalami keadaan ini, segeralah bawa ke dokter atau rumah sakit yang terdekat. Karena jika keadaan kejang seperti ini dibiarkan terlalu lama, dapat menbahayakan si kecil.
Jangan mudah percaya bahwa minum kopi bisa menghindari dari kejang atau step. Secara medis, sebetulnya kopi tidak berguna untuk mengatasi kejang. Kopi justru dapat menyebabkan tersumbatnya pernapasan bila diberikan pada saat anak Anda mengalami kejang, yang akhirnya mengantarkan pada kematian.
Kasus kejang kopi ini pernah terjadi di Balikpapan, seorang bocah laki-laki berusia 5 tahun yang mengalami sakit muntaber. Setelah diberi pengobatan di sebuah rumah sakit, kondisi bocah tersebut mulai membaik. Namun ketika sampai di rumah, bocah bernama Andika tersebut mengalami kejang-kejang. Bermaksud menghentikan kejang si bocah, ibu bocah itu kemudian memberikan sesendok cairan kopi yang kebetulan ada didekatnya pada si Andika yang sedang kejang. Kejangnya bukan berkurang, seluruh badannya mengalami kejang semakin hebat dan selanjutnya Andika tidak bergerak lagi.
Cara penanganan masalah demam kejang pada anak, yang penting jangan panik. Kemudian, kompres bagian kening kepala dan ketiak si kecil dengan kain handuk dari air hangat agar panas cepat terserap. Lakukan hal ini berulang kali. Kenakan pakaian yang longgar, dan hindari pakaian tebal pada si kecil. Usahakan pula kondisi kamar si kecil yang selalu nyaman agar rasa panas tubuh tidak bertambah. Bila panas tubuh tak kunjung mereda, secepat mungkin bawalah ke rumah sakit, klinik atau dokter terdekat.
Jangan melakukan pengkompresan dengan lap yang dingin, karena dapat menyebabkan korslet di otak --akan terjadi benturan kuat karena atara suhu panas tubuh si kecil dengan lap pres dingin. Kalau dinyatakan epilepsi, segera minum obat resep dokter secara teratur.
Sediakan obat anti kejang lewat dubur di rumah jika kejang membuat anak tidak mungkin meminum obat. Selain itu, sediakan pula obat penurun panas di rumah seperti parasetamol.
(Kentos/Berbagai sumber)
KEJANG TANPA DEMAM
Penyebabnya bermacam-macam. Yang penting, jangan sampai berulang dan berlangsung lama karena dapat merusak sel-sel otak. Menurut dr. Merry C. Siboro, Sp.A, dari RS Metro Medical Centre, Jakarta, kejang adalah kontraksi otot yang berlebihan di luar kehendak. "Kejang-kejang kemungkinan bisa terjadi bila suhu badan bayi atau anak terlalu tinggi atau bisa juga tanpa disertai demam." Kejang yang disertai demam disebut kejang demam (convalsio febrilis). Biasanya disebabkan adanya suatu penyakit dalam tubuh si kecil. Misal, demam tinggi akibat infeksi saluran pernapasan, radang telinga, infeksi saluran cerna, dan infeksi saluran kemih. Sedangkan kejang tanpa demam adalah kejang yang tak disertai demam. Juga banyak terjadi pada anak-anak.
BISA DIALAMI SEMUA ANAK
Kondisi kejang umum tampak dari badan yang menjadi kaku dan bola mata berbalik ke atas. Kondisi ini biasa disebut step atau kejang toniklonik (kejet-kejet) . Kejang tanpa demam bisa dialami semua anak balita. Bahkan juga bayi baru lahir. "Umumnya karena ada kelainan bawaan yang mengganggu fungsi otak sehingga dapat menyebabkan timbulnya bangkitan kejang. Bisa juga akibat trauma lahir, adanya infeksi-infeksi pada saat-saat terakhir lahir, proses kelahiran yang susah sehingga sebagian oksigen tak masuk ke otak, atau menderita kepala besar atau kecil," tutur Merry.Bayi yang lahir dengan berat di atas 4.000 gram bisa juga berisiko mengalami kejang tanpa demam pada saat melalui masa neonatusnya (28 hari sesudah dilahirkan). "Ini biasanya disebabkan adanya riwayat ibu menderita diabetes, sehingga anaknya mengalami hipoglemi (ganggguan gula dalam darah, Red.). Dengan demikian, enggak demam pun, dia bisa kejang." Selanjutnya, si bayi dengan gangguan hipoglemik akibat kencing manis ini akan rentan terhadap kejang.
"Contohnya, telat diberi minum saja, dia langsung kejang." Uniknya, tambah Merry, bayi prematur justru jarang sekali menderita kejang. "Penderitanya lebih banyak bayi yang cukup bulan. Diduga karena sistem sarafnya sudah sempurna sehingga lebih rentan dibandingkan bayi prematur yang memang belum sempurna."
JANGAN SAMPAI TERULANG
Penting diperhatikan, bila anak pernah kejang, ada kemungkinan dia bisa kejang lagi. Padahal, kejang tak boleh dibiarkan berulang selain juga tak boleh berlangsung lama atau lebih dari 5 menit. Bila terjadi dapat membahayakan anak. Masalahnya, setiap kali kejang anak mengalami asfiksi atau kekurangan oksigen dalam darah. "Setiap menit, kejang bisa mengakibatkan kerusakan sel-sel pada otak, karena terhambatnya aliran oksigen ke otak. Bayangkan apa yang terjadi bila anak bolak-balik kejang, berapa ribu sel yang bakal rusak? Tak adanya aliran oksigen ke otak ini bisa menyebakan sebagian sel-sel otak mengalami kerusakan."Kerusakan di otak ini dapat menyebabkan epilepsi, kelumpuhan, bahkan retardasi mental. Oleh karenanya, pada anak yang pernah kejang atau berbakat kejang, hendaknya orang tua terus memantau agar jangan terjadi kejang berulang.
DIMONITOR TIGA TAHUN
Risiko berulangnya kejang pada anak-anak, umumnya tergantung pada jenis kejang serta ada atau tidaknya kelainan neurologis berdasarkan hasil EEG (elektroensefalogra fi). Di antara bayi yang mengalami kejang neonatal (tanpa demam), akan terjadi bangkitan tanpa demam dalam 7 tahun pertama pada 25% kasus. Tujuh puluh lima persen di antara bayi yang mengalami bangkitan kejang tersebut akan menjadi epilepsi."Harus diusahakan, dalam tiga tahun sesudah kejang pertama, jangan ada kejang berikut," bilang Merry. Dokter akan mengawasi selama tiga tahun sesudahnya, setelah kejang pertama datang. Bila dalam tiga tahun itu tak ada kejang lagi, meski cuma dalam beberapa detik, maka untuk selanjutnya anak tersebut mempunyai prognosis baik. Artinya, tak terjadi kelainan neurologis dan mental. Tapi, bagaimana jika setelah diobati, ternyata di tahun kedua terjadi kejang lagi? "Hitungannya harus dimulai lagi dari tahun pertama."Pokoknya, jangka waktu yang dianggap aman untuk monitoring adalah selama tiga tahun setelah kejang. Jadi, selama tiga tahun setelah kejang pertama itu, si anak harus bebas kejang. Anak-anak yang bebas kejang selama tiga tahun itu dan sesudahnya, umumnya akan baik dan sembuh. Kecuali pada anak-anak yang memang sejak lahir sudah memiliki kelainan bawaan, semisal kepala kecil (mikrosefali) atau kepala besar (makrosefali) , serta jika ada tumor di otak.
RAGAM PENYEBAB
"Kejang tanpa demam bisa berasal dari kelainan di otak, bukan berasal dari otak, atau faktor keturunan," kata Merry yang lalu menjabarkannya satu per satu di bawah ini.
* Kelainan neurologis
Setiap penyakit atau kelainan yang mengganggu fungsi otak bisa menimbulkan bangkitan kejang. Contoh, akibat trauma lahir, trauma kepala, tumor otak, radang otak, perdarahan di otak, atau kekurangan oksigen dalam jaringan otak (hipoksia).
* Bukan neurologis
Bisa disebabkan gangguan elektrolit darah akibat muntah dan diare, gula darah rendah akibat sakit yang lama, kurang asupan makanan, kejang lama yang disebabkan epilepsi, gangguan metabolisme, gangguan peredaran darah, keracunan obat/zat kimia, alergi dan cacat bawaan.
* Faktor keturunan
Kejang akibat penyakit lain seperti epilepsi biasanya berasal dari keluarga yang memiliki riwayat kejang demam sama. Orang tua yang pernah mengalami kejang sewaktu kecil sebaiknya waspada karena anaknya berisiko tinggi mengalami kejang yang sama.
WASPADAI DI BAWAH 6 BULAN
Orang tua harus waspada bila anak sering kejang tanpa demam, terutama di bawah usia 6 bulan, "Karena kemungkinannya untuk menderita epilepsi besar," kata Merry. Masalahnya, kejang pada anak di bawah 6 bulan, terutama pada masa neonatal itu bersifat khas. "Bukan hanya seperti toniklonik yang selama ini kita kenal, tapi juga dalam bentuk gerakan-gerakan lain. Misal, matanya juling ke atas lalu bergerak-gerak, bibirnya kedutan atau tangannya seperti tremor. Dokter biasanya waspada, tapi kalau kejangnya terjadi di rumah, biasanya jarang ibu yang ngeh." Itulah sebabnya, orang tua harus memperhatikan betul kondisi bayinya.
MENOLONG ANAK KEJANG
1. Jangan panik, segera longgarkan pakaiannya dan lepas atau buang semua yang menghambat saluran pernapasannya. "Jadi kalau sedang makan tiba-tiba anak kejang, atau ada sesuatu di mulutnya saat kejang, segera keluarkan," tutur Merry.
2. Miringkan tubuh anak karena umumnya anak yang sedang kejang mengeluarkan cairan-cairan dari mulutnya. "Ini sebetulnya air liur yang banyak jumlahnya karena saraf yang mengatur kelenjar air liur tak terkontrol lagi. Kalau sedang kejang, kan, saraf pusatnya terganggu. Bukan cuma air liur, air mata pun bisa keluar." Guna memiringkan tubuh adalah supaya cairan-cairan ini langsung keluar, tidak menetap di mulut yang
malah berisiko menyumbat saluran napas dan memperparah keadaan.
3. Jangan mudah percaya bahwa meminumkan kopi pada anak yang sedang kejang bisa langsung menghentikan kejang tersebut. "Secara medis, kopi tak berguna untuk mengatasi kejang. Kopi justru dapat menyebabkan tersumbatnya pernapasan bila diberikan saat anak mengalami kejang, yang malah bisa menyebabkan kematian."
4. Segera bawa anak ke rumah sakit terdekat, jangan sampai otak kelamaan tak mendapat oksigen. "Usahakan lama kejang tak lebih dari tiga menit. Siapkan obat antikejang yang disarankan dokter bila anak memang pernah kejang atau punya riwayat kejang."
ANAK EPILEPSI HARUS KONTROL SETIAP 3 BULAN
Mereka yang berisiko menderita epilepsi adalah anak-anak yang lahir dari keluarga yang mempunyai riwayat epilepsi. Selain juga anak-anak dengan kelainan neurologis sebelum kejang pertama datang, baik dengan atau tanpa demam. Anak yang sering kejang memang berpotensi menderita epilepsi. "Tapi jangan khawatir, anak yang menderita epilepsi, kecuali yang lahir dengan kelainan atau gangguan pertumbuhan, bisa tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya. Prestasi belajar mereka tidak kalah dengan anak yang normal," kata Merry. Jadi, kita tak perlu mengucilkan anak epilepsi karena dia bisa berkembang normal seperti anak-anak lainnya. "Yang penting, ia tertangani dengan baik. Biasanya kalau anak itu sering kejang, dokter akan memberi obat yang bisa menjaganya supaya jangan sampai kejang lagi. Pada anak epilepsi, fokus perawatannya adalah jangan sampai terjadi kejang lagi. Untuk itu, perlu kontrol, paling tidak setiap 3 bulan agar monitoring dari dokter berjalan terus."
BISA DIALAMI SEMUA ANAK
Kondisi kejang umum tampak dari badan yang menjadi kaku dan bola mata berbalik ke atas. Kondisi ini biasa disebut step atau kejang toniklonik (kejet-kejet) . Kejang tanpa demam bisa dialami semua anak balita. Bahkan juga bayi baru lahir. "Umumnya karena ada kelainan bawaan yang mengganggu fungsi otak sehingga dapat menyebabkan timbulnya bangkitan kejang. Bisa juga akibat trauma lahir, adanya infeksi-infeksi pada saat-saat terakhir lahir, proses kelahiran yang susah sehingga sebagian oksigen tak masuk ke otak, atau menderita kepala besar atau kecil," tutur Merry.Bayi yang lahir dengan berat di atas 4.000 gram bisa juga berisiko mengalami kejang tanpa demam pada saat melalui masa neonatusnya (28 hari sesudah dilahirkan). "Ini biasanya disebabkan adanya riwayat ibu menderita diabetes, sehingga anaknya mengalami hipoglemi (ganggguan gula dalam darah, Red.). Dengan demikian, enggak demam pun, dia bisa kejang." Selanjutnya, si bayi dengan gangguan hipoglemik akibat kencing manis ini akan rentan terhadap kejang.
"Contohnya, telat diberi minum saja, dia langsung kejang." Uniknya, tambah Merry, bayi prematur justru jarang sekali menderita kejang. "Penderitanya lebih banyak bayi yang cukup bulan. Diduga karena sistem sarafnya sudah sempurna sehingga lebih rentan dibandingkan bayi prematur yang memang belum sempurna."
JANGAN SAMPAI TERULANG
Penting diperhatikan, bila anak pernah kejang, ada kemungkinan dia bisa kejang lagi. Padahal, kejang tak boleh dibiarkan berulang selain juga tak boleh berlangsung lama atau lebih dari 5 menit. Bila terjadi dapat membahayakan anak. Masalahnya, setiap kali kejang anak mengalami asfiksi atau kekurangan oksigen dalam darah. "Setiap menit, kejang bisa mengakibatkan kerusakan sel-sel pada otak, karena terhambatnya aliran oksigen ke otak. Bayangkan apa yang terjadi bila anak bolak-balik kejang, berapa ribu sel yang bakal rusak? Tak adanya aliran oksigen ke otak ini bisa menyebakan sebagian sel-sel otak mengalami kerusakan."Kerusakan di otak ini dapat menyebabkan epilepsi, kelumpuhan, bahkan retardasi mental. Oleh karenanya, pada anak yang pernah kejang atau berbakat kejang, hendaknya orang tua terus memantau agar jangan terjadi kejang berulang.
DIMONITOR TIGA TAHUN
Risiko berulangnya kejang pada anak-anak, umumnya tergantung pada jenis kejang serta ada atau tidaknya kelainan neurologis berdasarkan hasil EEG (elektroensefalogra fi). Di antara bayi yang mengalami kejang neonatal (tanpa demam), akan terjadi bangkitan tanpa demam dalam 7 tahun pertama pada 25% kasus. Tujuh puluh lima persen di antara bayi yang mengalami bangkitan kejang tersebut akan menjadi epilepsi."Harus diusahakan, dalam tiga tahun sesudah kejang pertama, jangan ada kejang berikut," bilang Merry. Dokter akan mengawasi selama tiga tahun sesudahnya, setelah kejang pertama datang. Bila dalam tiga tahun itu tak ada kejang lagi, meski cuma dalam beberapa detik, maka untuk selanjutnya anak tersebut mempunyai prognosis baik. Artinya, tak terjadi kelainan neurologis dan mental. Tapi, bagaimana jika setelah diobati, ternyata di tahun kedua terjadi kejang lagi? "Hitungannya harus dimulai lagi dari tahun pertama."Pokoknya, jangka waktu yang dianggap aman untuk monitoring adalah selama tiga tahun setelah kejang. Jadi, selama tiga tahun setelah kejang pertama itu, si anak harus bebas kejang. Anak-anak yang bebas kejang selama tiga tahun itu dan sesudahnya, umumnya akan baik dan sembuh. Kecuali pada anak-anak yang memang sejak lahir sudah memiliki kelainan bawaan, semisal kepala kecil (mikrosefali) atau kepala besar (makrosefali) , serta jika ada tumor di otak.
RAGAM PENYEBAB
"Kejang tanpa demam bisa berasal dari kelainan di otak, bukan berasal dari otak, atau faktor keturunan," kata Merry yang lalu menjabarkannya satu per satu di bawah ini.
* Kelainan neurologis
Setiap penyakit atau kelainan yang mengganggu fungsi otak bisa menimbulkan bangkitan kejang. Contoh, akibat trauma lahir, trauma kepala, tumor otak, radang otak, perdarahan di otak, atau kekurangan oksigen dalam jaringan otak (hipoksia).
* Bukan neurologis
Bisa disebabkan gangguan elektrolit darah akibat muntah dan diare, gula darah rendah akibat sakit yang lama, kurang asupan makanan, kejang lama yang disebabkan epilepsi, gangguan metabolisme, gangguan peredaran darah, keracunan obat/zat kimia, alergi dan cacat bawaan.
* Faktor keturunan
Kejang akibat penyakit lain seperti epilepsi biasanya berasal dari keluarga yang memiliki riwayat kejang demam sama. Orang tua yang pernah mengalami kejang sewaktu kecil sebaiknya waspada karena anaknya berisiko tinggi mengalami kejang yang sama.
WASPADAI DI BAWAH 6 BULAN
Orang tua harus waspada bila anak sering kejang tanpa demam, terutama di bawah usia 6 bulan, "Karena kemungkinannya untuk menderita epilepsi besar," kata Merry. Masalahnya, kejang pada anak di bawah 6 bulan, terutama pada masa neonatal itu bersifat khas. "Bukan hanya seperti toniklonik yang selama ini kita kenal, tapi juga dalam bentuk gerakan-gerakan lain. Misal, matanya juling ke atas lalu bergerak-gerak, bibirnya kedutan atau tangannya seperti tremor. Dokter biasanya waspada, tapi kalau kejangnya terjadi di rumah, biasanya jarang ibu yang ngeh." Itulah sebabnya, orang tua harus memperhatikan betul kondisi bayinya.
MENOLONG ANAK KEJANG
1. Jangan panik, segera longgarkan pakaiannya dan lepas atau buang semua yang menghambat saluran pernapasannya. "Jadi kalau sedang makan tiba-tiba anak kejang, atau ada sesuatu di mulutnya saat kejang, segera keluarkan," tutur Merry.
2. Miringkan tubuh anak karena umumnya anak yang sedang kejang mengeluarkan cairan-cairan dari mulutnya. "Ini sebetulnya air liur yang banyak jumlahnya karena saraf yang mengatur kelenjar air liur tak terkontrol lagi. Kalau sedang kejang, kan, saraf pusatnya terganggu. Bukan cuma air liur, air mata pun bisa keluar." Guna memiringkan tubuh adalah supaya cairan-cairan ini langsung keluar, tidak menetap di mulut yang
malah berisiko menyumbat saluran napas dan memperparah keadaan.
3. Jangan mudah percaya bahwa meminumkan kopi pada anak yang sedang kejang bisa langsung menghentikan kejang tersebut. "Secara medis, kopi tak berguna untuk mengatasi kejang. Kopi justru dapat menyebabkan tersumbatnya pernapasan bila diberikan saat anak mengalami kejang, yang malah bisa menyebabkan kematian."
4. Segera bawa anak ke rumah sakit terdekat, jangan sampai otak kelamaan tak mendapat oksigen. "Usahakan lama kejang tak lebih dari tiga menit. Siapkan obat antikejang yang disarankan dokter bila anak memang pernah kejang atau punya riwayat kejang."
ANAK EPILEPSI HARUS KONTROL SETIAP 3 BULAN
Mereka yang berisiko menderita epilepsi adalah anak-anak yang lahir dari keluarga yang mempunyai riwayat epilepsi. Selain juga anak-anak dengan kelainan neurologis sebelum kejang pertama datang, baik dengan atau tanpa demam. Anak yang sering kejang memang berpotensi menderita epilepsi. "Tapi jangan khawatir, anak yang menderita epilepsi, kecuali yang lahir dengan kelainan atau gangguan pertumbuhan, bisa tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya. Prestasi belajar mereka tidak kalah dengan anak yang normal," kata Merry. Jadi, kita tak perlu mengucilkan anak epilepsi karena dia bisa berkembang normal seperti anak-anak lainnya. "Yang penting, ia tertangani dengan baik. Biasanya kalau anak itu sering kejang, dokter akan memberi obat yang bisa menjaganya supaya jangan sampai kejang lagi. Pada anak epilepsi, fokus perawatannya adalah jangan sampai terjadi kejang lagi. Untuk itu, perlu kontrol, paling tidak setiap 3 bulan agar monitoring dari dokter berjalan terus."
Langganan:
Postingan (Atom)