Sudah benarkah cara Anda mendidik atau mengasuh anak? Hm... Anda tak akan pernah
tahu. Anda harus mengetahui lebih dulu apa pengaruh baik-buruknya terhadap anak,
jika mendapatkan pola pengasuhan seperti yang Anda lakukan.
Dalam buku Nurtureshock: New Thinking About Children, Po Bronson dan Ashley
Merryman mengungkap betapa banyak asumsi kita mengenai anak yang ternyata tak
dapat dijadikan pegangan lagi. Kedua wartawan ini juga menunjukkan banyak hal
mengenai pola asuh yang ternyata hanya sekadar mitos. Berikut adalah lima
contohnya:
1. Tentang berbohong. Mengancam anak dengan hukuman saat ia berbohong, akan membuatnya mengungkapkan yang benar.
Bronson tak sepakat dengan pendapat ini. Hal ini hanya akan membuat si kecil
memandang persoalan dalam konsep yang egois: "Mengakui apa yang benar artinya
aku akan menderita, jadi mendingan aku tetap berbohong." Sebenarnya alasan ia
berbohong adalah untuk membuat Anda senang. Jadi cara terbaik untuk mencegahnya
berbohong adalah dengan mengatakan, "Ibu pasti senang kalau kamu mau bilang yang
sebenarnya." Anak akan memelajari bahwa ada alasan lain untuk tidak berbohong.
Dan ini adalah cara untuk mengawalinya.
2. Tentang keyakinan diri. Memuji anak akan meningkatkan kepercayaan dirinya.
Selalu menyatakan bahwa anak Anda pintar setiap kali ia menunjukkan hasil
kerjanya juga tak selalu baik. Anda menunjukkan bahwa kesalahan apapun yang
berpotensi mempermalukan dirinya harus dihindari. Si kecil juga akan berhenti
mencoba segala sesuatu, meskipun hal tersebut tak begitu sulit dilakukan. Lebih
lanjut, tindakan Anda akan mengirimkan pesan bahwa usaha anak tidak penting
selama ia pintar. Pujilah upayanya, bukan sosok si anak.
3. Tentang kecerdasan. Anak yang berbakat akan terlihat sebelum menginjak usia 5
tahun.
Dari setiap 100 anak usia TK yang disebut berbakat berdasarkan tes intelejensia
yang standar, hanya 27 dari anak-anak tersebut yang akan tetap dianggap berbakat
sampai kelas 3 SD. "Satu persen teratas akan berada dalam daftar 10 persen
teratas lima tahun sesudahnya," kata Dr Donald Rock, Senior Research Scientist
di Educational Testing Service. "Tetapi anak-anak yang hasil tesnya baik mungkin
tidak akan ada di posisi tersebut hingga kelas 3 SD."
4. Tentang tontonan mereka. Film-film kartun yang disiarkan di televisi pasti
baik untuk usia mereka.
Film kartun memang kesannya kekanak-kanakan, tetapi belum tentu baik untuk
mereka. Anda mungkin akan mengira bahwa film yang menunjukkan sikap saling
berbagi dan menyayangi tidak akan membuat mereka menjadi agresif, dibandingkan
bila mereka menonton film-film penuh kekerasan. Namun, anak-anak yang masih
sangat kecil seringkali belum mampu menangkap pelajaran yang ingin disampaikan
pada bagian akhir film. Dengan demikian, semua konflik yang menunjukkan perilaku
buruk tidak ditanggapi anak sebagai sesuatu yang harus diubah, melainkan justru
sebagai instruksi mengenai bagaimana harus berperilaku.
5. Tentang bullying. Sebagai orangtua, Anda harus memastikan tidak ada toleransi sama sekali mengenai tindakanbullying, termasuk mengejek, menyebutnya dengan panggilan yang buruk, dan mengucilkannya.
Semua orang pasti tahu bahwa bullying bisa memberikan pengaruh yang sangat
buruk, bahkan bisa mematikan. Namun mengejek atau mengacuhkan anak lain di
tempat bermain adalah bagian yang normal (atau bahkan menyenangkan) dari proses
ia berkembang. Kalau anak diejek, ia tentu bisa belajar bagaimana menangkis atau
mengatasinya.
sumber
:http://sambilminumt eh.blogspot. com/2010/ 12/5-mitos- tentang-pengasuh an-anak.html
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Kamis, Februari 10, 2011
Kamis, Juni 04, 2009
Si Kecil Terlambat Bicara
Rabu, 3 Juni 2009 | 17:45 WIB
*KOMPAS.com* - Seorang ibu mengeluhkan buah hatinya yang berumur 20 bulan. Sejak bayi perkembangan Si Kecil normal. Orangtua, keluarga, termasuk pengasuhnya, banyak mengajaknya berbicara. Si Kecil mengerti semua intruksi yang diberikan, namun kemampuan bicaranya sebatas mengucapkan beberapa patah kata saja. Apakah ini berarti ia terlambat berbicara?
Berdasarkan penelitian di negara Barat, ada norma yang berlaku umum, yaitu antara usia 16–24 bulan anak-anak menguasai sekitar 50 kata dan terus meningkat sampai sekitar 400 kata; pada usia sekitar 2 tahun anak-anak lebih banyak menggunakan kalimat dua kata. Di sisi lain, dari pengalaman di lapangan, ada anak yang sudah mulai mengucapkan kata-kata tunggal pada usia 7 bulan, mampu menyebutkan kalimat yang terdiri atas dua kata pada usia sekitar 12 bulan; namun ada juga yang sampai usia 2 tahun baru bisa menyebutkan beberapa kata saja. Barulah beberapa bulan
setelah usia 2 tahun anak tersebut tiba-tiba bisa berbicara lancar dengan menggunakan kalimat-kalimat.
Berarti, sekalipun ada norma umum perkembangan bahasa/bicara untuk anak, pada kenyataannya tidak semua anak berkembang mengikuti norma tersebut. Ada yang lebih cepat perkembangannya, ada yang sedikit lebih lambat, dan ada yang mengalami keterlambatan perkembangan bahasa/bicara. Beberapa faktor ikut menentukan perkembangan seorang anak, seperti faktor genetik, tempo perkembangan, perangsangan lingkungan, dan lain-lain.
Bila buah hati Anda pada usia 20 bulan belum mampu berbicara, besar kemungkinan tidak lama lagi dia akan berbicara lebih banyak kata dan lambat-laun mampu bertutur dalam kalimat yang terdiri atas dua kata.
Mengapa demikian? Karena saat ini anak bisa diajak berinteraksi, mengerti percakapan/perintah -perintah sederhana, mampu mengucapkan beberapa kata tunggal. Sekalipun perkembangannya tidak terlalu cepat, namun tidak berarti mengalami keterlambatan perkembangan bicara. Keadaan yang perlu diwaspadai adalah kalau terjadi kemunduran perkembangan bahasa, misalnya saat terjadi interaksi dengan seseorang, anak sulit atau tidak mau memerhatikan lawan bicaranya, jumlah kata yang dia ucapkan makin sedikit, lebih suka menyendiri di antara teman-teman yang sedang asyik beraktivitas, padahal sebelumnya tidak menampakkan gejala tersebut.
Yang harus Anda lakukan adalah tetap mengajaknya bercakap-cakap.
Sesekali gunakan gambar-gambar untuk memperkenalkan benda dan kegiatan yang berlangsung di sekitarnya, atau bercerita dari buku cerita bergambar dengan sedikit tulisan di bawahnya. Berbicaralah dalam kalimat yang pendek, dan perlambat tempo percakapan. Berikan kesempatan pada anak untuk mengemukakan apa yang dia inginkan, tidak memburu-buru dia untuk cepat-cepat mengucapkan kata-kata.
Terlambatnya perkembangan bicara bisa terpengaruh akibat kehadiran adik, tetapi bisa juga tidak, bergantung pada seberapa besar lingkungan memperlakukan dia. Kalau dia tidak merasa terkucil akibat kehadiran adik, tetap mendapat perhatian dari orangtua dan keluarga besar maka tidak ada dampak yang berperan pada anak.
Narasumber: Dra. Mayke S. Tedjasaputra, MSI, /Play Therapist/ dan Psikolog Lembaga Psikologi Terapan UI.
*KOMPAS.com* - Seorang ibu mengeluhkan buah hatinya yang berumur 20 bulan. Sejak bayi perkembangan Si Kecil normal. Orangtua, keluarga, termasuk pengasuhnya, banyak mengajaknya berbicara. Si Kecil mengerti semua intruksi yang diberikan, namun kemampuan bicaranya sebatas mengucapkan beberapa patah kata saja. Apakah ini berarti ia terlambat berbicara?
Berdasarkan penelitian di negara Barat, ada norma yang berlaku umum, yaitu antara usia 16–24 bulan anak-anak menguasai sekitar 50 kata dan terus meningkat sampai sekitar 400 kata; pada usia sekitar 2 tahun anak-anak lebih banyak menggunakan kalimat dua kata. Di sisi lain, dari pengalaman di lapangan, ada anak yang sudah mulai mengucapkan kata-kata tunggal pada usia 7 bulan, mampu menyebutkan kalimat yang terdiri atas dua kata pada usia sekitar 12 bulan; namun ada juga yang sampai usia 2 tahun baru bisa menyebutkan beberapa kata saja. Barulah beberapa bulan
setelah usia 2 tahun anak tersebut tiba-tiba bisa berbicara lancar dengan menggunakan kalimat-kalimat.
Berarti, sekalipun ada norma umum perkembangan bahasa/bicara untuk anak, pada kenyataannya tidak semua anak berkembang mengikuti norma tersebut. Ada yang lebih cepat perkembangannya, ada yang sedikit lebih lambat, dan ada yang mengalami keterlambatan perkembangan bahasa/bicara. Beberapa faktor ikut menentukan perkembangan seorang anak, seperti faktor genetik, tempo perkembangan, perangsangan lingkungan, dan lain-lain.
Bila buah hati Anda pada usia 20 bulan belum mampu berbicara, besar kemungkinan tidak lama lagi dia akan berbicara lebih banyak kata dan lambat-laun mampu bertutur dalam kalimat yang terdiri atas dua kata.
Mengapa demikian? Karena saat ini anak bisa diajak berinteraksi, mengerti percakapan/perintah -perintah sederhana, mampu mengucapkan beberapa kata tunggal. Sekalipun perkembangannya tidak terlalu cepat, namun tidak berarti mengalami keterlambatan perkembangan bicara. Keadaan yang perlu diwaspadai adalah kalau terjadi kemunduran perkembangan bahasa, misalnya saat terjadi interaksi dengan seseorang, anak sulit atau tidak mau memerhatikan lawan bicaranya, jumlah kata yang dia ucapkan makin sedikit, lebih suka menyendiri di antara teman-teman yang sedang asyik beraktivitas, padahal sebelumnya tidak menampakkan gejala tersebut.
Yang harus Anda lakukan adalah tetap mengajaknya bercakap-cakap.
Sesekali gunakan gambar-gambar untuk memperkenalkan benda dan kegiatan yang berlangsung di sekitarnya, atau bercerita dari buku cerita bergambar dengan sedikit tulisan di bawahnya. Berbicaralah dalam kalimat yang pendek, dan perlambat tempo percakapan. Berikan kesempatan pada anak untuk mengemukakan apa yang dia inginkan, tidak memburu-buru dia untuk cepat-cepat mengucapkan kata-kata.
Terlambatnya perkembangan bicara bisa terpengaruh akibat kehadiran adik, tetapi bisa juga tidak, bergantung pada seberapa besar lingkungan memperlakukan dia. Kalau dia tidak merasa terkucil akibat kehadiran adik, tetap mendapat perhatian dari orangtua dan keluarga besar maka tidak ada dampak yang berperan pada anak.
Narasumber: Dra. Mayke S. Tedjasaputra, MSI, /Play Therapist/ dan Psikolog Lembaga Psikologi Terapan UI.
Label:
parenting
Selasa, Maret 31, 2009
Pembinaan Perkembangan Anak Kelomok umur 18 - 24 bulan.
A Kemampuan perkembangan yang harus dicapai anak sesaat sebelum berumur 24 bulan.
Gerak Kasar : Berjalan mundur sedikitnya 5 langkah
Gerak halus : Mencoret-coret dengan alat tulis
Bicara, bahas dan kecerdasan : Menyebutkan nama dan menunjuk satu bagian tubuh dengan benar.
Bergaul dan mandiri : Meniru melakukan pekerjaan rumah tangga
B. Stimulasi yang dberikan
Melatih anak berjalan jinjit. Ajarilah anak bejalan jinjit. buatlah agar ia menirunya.
Membantu anak belajar melompat. Tunjukkanlah cara melompat dengan kedua kaki diangkat bersamaan. pegangi tangannya ketika ia mencoba melompat untuk pertama kalinya
Melatih anak berdiri dengan satu kaki. Tunjukkan cara beridiri dengan satu kaki secara bergantian. buatlah agar ia mau menirukannya. mula-mula peganglah tangannya, kemudian lepaskan. latihlah agar ia bisa melakukannya tanpa kehilangan keseimbangan.
Mengajari anak menggambar betuk sederhana. Ajari anak menggabar garis lurus, bulatan, segitiga, dan sebagainya.
Mengajak anak bermain membuat bentuk sederhana dari lilin/tanah liat/adonan kue. Ajari anak membuat bulatan, segiriga dan lain-laij
Mengajari anak memasukkan benda ke lubang yang sesuai. Sediakan kardus yang dibuat lubang-lubang berbentuk segi tiga, segi empat segi lima, bulatan dan sebagainya. Tunjukkan kepada anak cara memasukkan benda berbentuk segi tiga, segi empat, segi lima, bulatan dan sebagainya kedalam lubang yang sesuai besar dan bentuknya
Bermain dengan anak menyusun potongan gambar. Sediakan karton yang sudah ditempel gambari dari majalah bekas. gunting karton menjadi 3 - 4 potongan. Ajari anak untuk menyusun potongan gambar tersebut menjadi gambar yang utuh seperti semula
Melatih anak mengikuti perintah sederhana. Berilah anak suatu perintah sederhana. Buatlah agar ia mau melakukannya. bila perlu tunjukkan cara mengerjakan perintah tersebut.
Melatih anak Menceritakan apa yang dikerjakannya/dilihatnya. Ajaklah anak menceritakan apa yang dialaminya dan dilihatnya. perbaikilah bila ia membuat kesalahan dalam bercerita.
Melatih anak mengenakan pakaiannya sendiri. Biasakan anak mengenakan pakaiannya sendiri. Mula-mula bantulah ia bila mengalami kesulitan, kemudian kurangilah bantuan.
Melatih anak mengikuti peraturan permainan. Usahakanlah agar anak bermain dengan anak lainya. Misalnya bermain petak umpet, hom-pim-pah, dan sebagainya. perhatikan apakah iamengikuti aturan permainan dan mengikuti giliran bermain
Melatih anak agar mau ditnggalkan ibunya untuk sementara. Ajaklah anak bermain kerumah tetangga, kemudian titipkanlah untuk sementara. buatlah agar ia terbiasa berpisah untuk sementara tanpa menangis atau menjadi rewel.
Gerak Kasar : Berjalan mundur sedikitnya 5 langkah
Gerak halus : Mencoret-coret dengan alat tulis
Bicara, bahas dan kecerdasan : Menyebutkan nama dan menunjuk satu bagian tubuh dengan benar.
Bergaul dan mandiri : Meniru melakukan pekerjaan rumah tangga
B. Stimulasi yang dberikan
Melatih anak berjalan jinjit. Ajarilah anak bejalan jinjit. buatlah agar ia menirunya.
Membantu anak belajar melompat. Tunjukkanlah cara melompat dengan kedua kaki diangkat bersamaan. pegangi tangannya ketika ia mencoba melompat untuk pertama kalinya
Melatih anak berdiri dengan satu kaki. Tunjukkan cara beridiri dengan satu kaki secara bergantian. buatlah agar ia mau menirukannya. mula-mula peganglah tangannya, kemudian lepaskan. latihlah agar ia bisa melakukannya tanpa kehilangan keseimbangan.
Mengajari anak menggambar betuk sederhana. Ajari anak menggabar garis lurus, bulatan, segitiga, dan sebagainya.
Mengajak anak bermain membuat bentuk sederhana dari lilin/tanah liat/adonan kue. Ajari anak membuat bulatan, segiriga dan lain-laij
Mengajari anak memasukkan benda ke lubang yang sesuai. Sediakan kardus yang dibuat lubang-lubang berbentuk segi tiga, segi empat segi lima, bulatan dan sebagainya. Tunjukkan kepada anak cara memasukkan benda berbentuk segi tiga, segi empat, segi lima, bulatan dan sebagainya kedalam lubang yang sesuai besar dan bentuknya
Bermain dengan anak menyusun potongan gambar. Sediakan karton yang sudah ditempel gambari dari majalah bekas. gunting karton menjadi 3 - 4 potongan. Ajari anak untuk menyusun potongan gambar tersebut menjadi gambar yang utuh seperti semula
Melatih anak mengikuti perintah sederhana. Berilah anak suatu perintah sederhana. Buatlah agar ia mau melakukannya. bila perlu tunjukkan cara mengerjakan perintah tersebut.
Melatih anak Menceritakan apa yang dikerjakannya/dilihatnya. Ajaklah anak menceritakan apa yang dialaminya dan dilihatnya. perbaikilah bila ia membuat kesalahan dalam bercerita.
Melatih anak mengenakan pakaiannya sendiri. Biasakan anak mengenakan pakaiannya sendiri. Mula-mula bantulah ia bila mengalami kesulitan, kemudian kurangilah bantuan.
Melatih anak mengikuti peraturan permainan. Usahakanlah agar anak bermain dengan anak lainya. Misalnya bermain petak umpet, hom-pim-pah, dan sebagainya. perhatikan apakah iamengikuti aturan permainan dan mengikuti giliran bermain
Melatih anak agar mau ditnggalkan ibunya untuk sementara. Ajaklah anak bermain kerumah tetangga, kemudian titipkanlah untuk sementara. buatlah agar ia terbiasa berpisah untuk sementara tanpa menangis atau menjadi rewel.
Label:
parenting
Senin, Maret 30, 2009
Pembinaan dan Perkembangan Anak Kelompok Umur 12 - 18 bulan
January 2nd, 2009 in TUMBUH KEMBANG ANAK
A. Kemampuan perkembangan yang harus dicapai anak sampai sebelum berumur 18 bulan :
Gerak Kasar : Berjalan sendiri tanpa jatuh
Gerak halus : Mengambil benda kecil ke atas sebesar biji jagung dengan ibu jari dan telunjuknya (menjumput)
Bicara, bahasa, dan kecerdasan : Mengungkapkan keinginan secara sederhana
Bergaul dan Kemandirian : Minum sendiri dari gelas tanpa tumpah
B. Stimulasi Perkembangan yang perlu diberikan :
Melatih anak berjalan mundur : Bila anak dapat berjalan sendiri, latihlah ia berjalan mundur. misalnya dengan memberi mainan uang dapat ditarik, kemudian ia diminta menarik mainanya ssambil berjalan mundur.
Bermain dengan anak melempar dan menangkap bola: Ajarilah anak menangkap dan melempar bola. Pakailah bola besar, dan bila anak sudah dapat melakukannya, pakailah bola yang lebih kecil.
Bermain dengan anak, menendang bola kesasaran: Ajarilah anak menendang bola. Bila ia sudah dapat melakukannya, mintalah agar ia menendangnya ke arah sasaran (misalnya botol plastik). Bola dapat dibuat sendiri dari buntalan kertas/kain..
Melatih anak berjalan naik turun tangga: Bila anak sudah dapat berjalan sendiri ajaklah ia naik/turun tanga dengan berpegangan. jagalah agar ia tidak terjatuh.
Melatih anak memasukkan benda yang lebih kecil ke dalam benda yang lebih besar. Sediakanlah kardus/mangkuk plastik dari berbagai ukuran. ajarilah anak untuk memasukkan benda yang kecil ke dalam benda yang lebih besar. latihlah agar ia dapat melakukannya sendiri.
Memberi kesempatan kepada anak untuk melepas pakaiannya sendiri. Ajarilah anak untuk melepaskan pakaianya. Biarkan ia melakukannya sendiri, bantulah bila ia belum bisa membuka kancing baju.
Melatih anak menunjuk danmenyebutkan nama bagian tubuh. Ajarilah anak menunjuk dan menyebutkan bagian-bagian tubuhnya. Latihlah ia utuk mempelajarinya.
A. Kemampuan perkembangan yang harus dicapai anak sampai sebelum berumur 18 bulan :
Gerak Kasar : Berjalan sendiri tanpa jatuh
Gerak halus : Mengambil benda kecil ke atas sebesar biji jagung dengan ibu jari dan telunjuknya (menjumput)
Bicara, bahasa, dan kecerdasan : Mengungkapkan keinginan secara sederhana
Bergaul dan Kemandirian : Minum sendiri dari gelas tanpa tumpah
B. Stimulasi Perkembangan yang perlu diberikan :
Melatih anak berjalan mundur : Bila anak dapat berjalan sendiri, latihlah ia berjalan mundur. misalnya dengan memberi mainan uang dapat ditarik, kemudian ia diminta menarik mainanya ssambil berjalan mundur.
Bermain dengan anak melempar dan menangkap bola: Ajarilah anak menangkap dan melempar bola. Pakailah bola besar, dan bila anak sudah dapat melakukannya, pakailah bola yang lebih kecil.
Bermain dengan anak, menendang bola kesasaran: Ajarilah anak menendang bola. Bila ia sudah dapat melakukannya, mintalah agar ia menendangnya ke arah sasaran (misalnya botol plastik). Bola dapat dibuat sendiri dari buntalan kertas/kain..
Melatih anak berjalan naik turun tangga: Bila anak sudah dapat berjalan sendiri ajaklah ia naik/turun tanga dengan berpegangan. jagalah agar ia tidak terjatuh.
Melatih anak memasukkan benda yang lebih kecil ke dalam benda yang lebih besar. Sediakanlah kardus/mangkuk plastik dari berbagai ukuran. ajarilah anak untuk memasukkan benda yang kecil ke dalam benda yang lebih besar. latihlah agar ia dapat melakukannya sendiri.
Memberi kesempatan kepada anak untuk melepas pakaiannya sendiri. Ajarilah anak untuk melepaskan pakaianya. Biarkan ia melakukannya sendiri, bantulah bila ia belum bisa membuka kancing baju.
Melatih anak menunjuk danmenyebutkan nama bagian tubuh. Ajarilah anak menunjuk dan menyebutkan bagian-bagian tubuhnya. Latihlah ia utuk mempelajarinya.
Label:
parenting
Bila si Kecil Suka Menggigit
Kebiasan si kecil yang suka menggigit seringkali membuat pusing orang tua. Karena terkadang si kecil bukan hanya menggigit benda-benda atau mainan yang dipegangnya, mereka bahkan menggigit teman-temannya dan orang dewasa lain, tak terkecuali anda. Luka fisik akibat gigitan anak anda pada anak lain mungkin bisa di obati, namun pastinya anda cukup dibuat malu dengan perbuatan si kecil tersebut.
Memarahinya mungkin hal pertama yang akan anda lakukan untuk mengatasi kebiasaan aneh si kecil. Namun, sebelum anda menghukum si kecil dengan kemarahan anda atau hukuman lainnya, ada baiknya ada mencari tahu alasan mereka melakukan hal tersebut, karena dengan keterbatasan mengungkapkan perasaan dan berbicara, kita tak akan bisa menebak pasti apa alasan si kecil melakukan hal itu. Dengan mengetahui alasan mereka akan memberi kita kesempatan untuk menentukan pendekatan apa yang akan kita lakukan untuk dapat mengubah kebiasaannya ini.
Pada dasarnya ada 5 kategori dari "anak penggigit" ini, diantaranya:
Si Tukang Eksperimen
Merupakan naluri seorang anak untuk mengekspolere dunia dengan kelima indranya. Banyak anak yang memasukan benda-benda dimulutnya hanya untuk mempelajari benda-benda tersebut.
Yang harus anda lakukan:
Jelaskan pada si kecil bahwa perbuatan "menggigit" itu tidak benar, katakan TIDAK secara tegas saat ia melakukannya. Sediakan beragam mainan dan aktifitas untuk si kecil yang bisa merangsang indranya selama masa ekplorasi.
Si Penggigit
Tipe Si penggigit adalah mereka yang punya pengalaman tidak nyaman dengan pertumbuhan giginya. Mereka membutuhkan sesuatu untuk dikunyah agar meredakan rasa sakitnya.
Yang harus anda lakukan:
Berikan si kecil sesuatu yang aman untuk dikunyah seperti teething ring, biskuit dan sebagainya.
Si Frustasi
Tipe si frustasi adalah mereka yang sulit mengkomunikasikan kemarahan. Mereka juga cenderung tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah. Tipe si frustasi biasanya kurang memiliki kemampuan sosialisasi dan emosional dan belum mampu menunjukan perasaan mereka dengan cara yang tepat.
Yang harus anda lakukan:
Ajari mereka bahasa yang bisa di gunakan untuk mengekspresikan perasaannya (misalnya, "sulit","senang" dsb). Anda juga bisa membantunya mengekspresikan perasaannya melalui kata-kata anda (misalnya, " ibu tahu kamu marah karena tidak bisa mengambil toples diatas rak itu" etc). Atau anda juga bisa melakukan pencegahan dengan menjauhkan anak anda dari seseorang atau benda-benda yang ada di dekatnya saat terlihat ia hendak menggigit.
Si Pengancam
Beberapa anak punya kebiasaan menggigit karena alasan pertahanan diri. Mereka cenderung merasa tidak aman akan sesuatu atau sesorang hingga membuatnya menggigit orang atau benda tersebut. Seringkali tipe si pengancam ini punya pengalaman akan rasa takut yang berlebih. Dan menggigit adalah cara mereka untuk mengontrol perasaan tersebut.
Yang harus anda lakukan:
Buatlah si kecil merasa lebih aman dengan seseorang atau benda yang membuatnya merasa tidak aman. Cara ini juga bisa membantunya mengurangi stres yang dialaminya. Saat anda melihat si kecil merasa tidak aman akan sesuatu atau sesorang, segera ajak si kecil keluar dari situasi tersebut. Ajari juga mereka bahasa asertif seperi "itu milikku" atau "tidak" untuk membantunya lebih percaya diri.
Si Pencari Perhatian
Bagi Si pencari perhatian respon balik dari orang yang digigit adalah tujuan mereka. Teriakan, tangisan, atau respon apapun baik positif atau negatif yang di terima dari gigitan yang ia lakukan akan membuatnya merasa berhasil mendapat perhatian, sehingga ia akan mengulang perbuatan yang sama di kesempatan lain.
Yang harus anda lakukan:
Berilah perhatian yang cukup pada anak anda di waktu normal (saat ia tidak sedang atau habis menggigit seseorang). Jika memungkinkan usahakan untuk meminimalisir memberi perhatian pada gigitan si kecil atau saat si kecil baru saja menggigit orang lain.
Selain empat tipe penggigit diatas, terdapat beberapa alasan lain yang membuat si kecil suka menggigit yaitu adanya sebab-akibat (misalnya ia digigit temannya, maka ia menggigit balik temannya), meniru orang lain, tidak bisa menghadapi stres, dan kelelahan.
Hal paling penting yang harus anda ingat adalah, jangan pernah mengigit kembali si kecil dengan alasan apapun. Karena hal tersebut justru mengajarkan padanya bagaimana mengkomunikasikan perasaan negatifnya. Beri pengertian padanya bahwa gigitannya bisa menyakiti orang lain dan hal tersebut tidak benar. Bertidaklah cepat untuk menjauhkan si kecil dari situasi dimana ia mulai terlihat ingin menggigit. Anda mungkin akan berfikiran untuk terlebih dahulu mengamankan anak yang digigit oleh si kecil, padahal sebenarnya si kecil juga butuh untuk di amankan, karena biasanya ia akan merasa tahut setelah kejadian tesebut, atau mungkin ingin melukai anak lain.
Kebiasaan menggigit anak merupakan hal biasa, namun tentu saja tidak bisa di benarkan. Ajarilah anak anda perilaku yang pantas dengan anda sendiri menjadi role modelnya. Ajari juga bahasa yang bisa mereka gunakan dalam mengkomunikaikan perasaannya, dan sediakan berbagai pilihan kegiatan yang bisa meringankan perasaan stres si kecil. Dalam penyampaikan hal tersebut, selalu gunakan nada yang tegas, dan bukan dengan berteriak.
(dikutip dari: http://www.huggies.com.au)
Memarahinya mungkin hal pertama yang akan anda lakukan untuk mengatasi kebiasaan aneh si kecil. Namun, sebelum anda menghukum si kecil dengan kemarahan anda atau hukuman lainnya, ada baiknya ada mencari tahu alasan mereka melakukan hal tersebut, karena dengan keterbatasan mengungkapkan perasaan dan berbicara, kita tak akan bisa menebak pasti apa alasan si kecil melakukan hal itu. Dengan mengetahui alasan mereka akan memberi kita kesempatan untuk menentukan pendekatan apa yang akan kita lakukan untuk dapat mengubah kebiasaannya ini.
Pada dasarnya ada 5 kategori dari "anak penggigit" ini, diantaranya:
Si Tukang Eksperimen
Merupakan naluri seorang anak untuk mengekspolere dunia dengan kelima indranya. Banyak anak yang memasukan benda-benda dimulutnya hanya untuk mempelajari benda-benda tersebut.
Yang harus anda lakukan:
Jelaskan pada si kecil bahwa perbuatan "menggigit" itu tidak benar, katakan TIDAK secara tegas saat ia melakukannya. Sediakan beragam mainan dan aktifitas untuk si kecil yang bisa merangsang indranya selama masa ekplorasi.
Si Penggigit
Tipe Si penggigit adalah mereka yang punya pengalaman tidak nyaman dengan pertumbuhan giginya. Mereka membutuhkan sesuatu untuk dikunyah agar meredakan rasa sakitnya.
Yang harus anda lakukan:
Berikan si kecil sesuatu yang aman untuk dikunyah seperti teething ring, biskuit dan sebagainya.
Si Frustasi
Tipe si frustasi adalah mereka yang sulit mengkomunikasikan kemarahan. Mereka juga cenderung tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah. Tipe si frustasi biasanya kurang memiliki kemampuan sosialisasi dan emosional dan belum mampu menunjukan perasaan mereka dengan cara yang tepat.
Yang harus anda lakukan:
Ajari mereka bahasa yang bisa di gunakan untuk mengekspresikan perasaannya (misalnya, "sulit","senang" dsb). Anda juga bisa membantunya mengekspresikan perasaannya melalui kata-kata anda (misalnya, " ibu tahu kamu marah karena tidak bisa mengambil toples diatas rak itu" etc). Atau anda juga bisa melakukan pencegahan dengan menjauhkan anak anda dari seseorang atau benda-benda yang ada di dekatnya saat terlihat ia hendak menggigit.
Si Pengancam
Beberapa anak punya kebiasaan menggigit karena alasan pertahanan diri. Mereka cenderung merasa tidak aman akan sesuatu atau sesorang hingga membuatnya menggigit orang atau benda tersebut. Seringkali tipe si pengancam ini punya pengalaman akan rasa takut yang berlebih. Dan menggigit adalah cara mereka untuk mengontrol perasaan tersebut.
Yang harus anda lakukan:
Buatlah si kecil merasa lebih aman dengan seseorang atau benda yang membuatnya merasa tidak aman. Cara ini juga bisa membantunya mengurangi stres yang dialaminya. Saat anda melihat si kecil merasa tidak aman akan sesuatu atau sesorang, segera ajak si kecil keluar dari situasi tersebut. Ajari juga mereka bahasa asertif seperi "itu milikku" atau "tidak" untuk membantunya lebih percaya diri.
Si Pencari Perhatian
Bagi Si pencari perhatian respon balik dari orang yang digigit adalah tujuan mereka. Teriakan, tangisan, atau respon apapun baik positif atau negatif yang di terima dari gigitan yang ia lakukan akan membuatnya merasa berhasil mendapat perhatian, sehingga ia akan mengulang perbuatan yang sama di kesempatan lain.
Yang harus anda lakukan:
Berilah perhatian yang cukup pada anak anda di waktu normal (saat ia tidak sedang atau habis menggigit seseorang). Jika memungkinkan usahakan untuk meminimalisir memberi perhatian pada gigitan si kecil atau saat si kecil baru saja menggigit orang lain.
Selain empat tipe penggigit diatas, terdapat beberapa alasan lain yang membuat si kecil suka menggigit yaitu adanya sebab-akibat (misalnya ia digigit temannya, maka ia menggigit balik temannya), meniru orang lain, tidak bisa menghadapi stres, dan kelelahan.
Hal paling penting yang harus anda ingat adalah, jangan pernah mengigit kembali si kecil dengan alasan apapun. Karena hal tersebut justru mengajarkan padanya bagaimana mengkomunikasikan perasaan negatifnya. Beri pengertian padanya bahwa gigitannya bisa menyakiti orang lain dan hal tersebut tidak benar. Bertidaklah cepat untuk menjauhkan si kecil dari situasi dimana ia mulai terlihat ingin menggigit. Anda mungkin akan berfikiran untuk terlebih dahulu mengamankan anak yang digigit oleh si kecil, padahal sebenarnya si kecil juga butuh untuk di amankan, karena biasanya ia akan merasa tahut setelah kejadian tesebut, atau mungkin ingin melukai anak lain.
Kebiasaan menggigit anak merupakan hal biasa, namun tentu saja tidak bisa di benarkan. Ajarilah anak anda perilaku yang pantas dengan anda sendiri menjadi role modelnya. Ajari juga bahasa yang bisa mereka gunakan dalam mengkomunikaikan perasaannya, dan sediakan berbagai pilihan kegiatan yang bisa meringankan perasaan stres si kecil. Dalam penyampaikan hal tersebut, selalu gunakan nada yang tegas, dan bukan dengan berteriak.
(dikutip dari: http://www.huggies.com.au)
Label:
parenting
Selasa, November 04, 2008
Cerdas Motorik Lewat Bermain
Bayi sangat menikmati permainan bersama ayah dan bundanya. Kecerdasan motoriknya pun berkembang pesat.
Anda berdua pasti ingin memberikan stimulasi yang tepat agar segenap potensi kecerdasan si kecil berkembang optimal. Caranya? Tak perlu repot. Sering-seringlah mengajak si kecil bermain.
Ya, bermain memang sangat membantu si kecil mengembangkan segala potensinya. Termasuk, keterampilan motoriknya, baik itu motorik halus maupun motorik kasar. Asyik ‘kan... sambil bermain, Anda bisa mengasah kecerdasan kinestetik si kecil.
* Lahir – 2 bulan
Anda mungkin belum bisa memberikan benda apa pun untuk dimainkan si kecil. Maklumlah, dia kan masih dalam masa penyesuaian diri dengan lingkungan baru.
Gerakannya saat ini sebagian besar masih berupa gerak refleks (refleks mengisap, menggenggam, dan sebagainya). Untuk Anda tahu, otot-otot bayi berusia 1–2 bulan masih lemah dan belum berfungsi dengan baik.
Permainan yang dianjurkan:
Ajak bayi Anda melakukan permainan yang tidak menuntut aktivitas gerak. Anda bisa memasang poster gambar hitam-putih, mainan warna-warni yang digantung di boksnya, meniup wajahnya dengan sedotan, atau memperdengarkan musik sambil berdansa bersama si kecil dalam dekapan Anda.
Usia 3-4 bulan
Jika dalam 2 bulan pertama gerakan bayi masih dikuasai berbagai refleks, kini ia mulai dapat menggerak-gerakkan tubuhnya atas kemauan sendiri. Otot lehernya pun sudah lebih kuat, sehingga bayi dapat berbaring telentang dengan memandang lurus ke depan. Ia bahkan sudah kuat ditengkurapkan.
Lengan dan kakinya pun sudah lebih bebas bergerak sejalan dengan kemampuannya menggerak-gerakkan kepalanya. Pada masa ini, yang terpenting adalah kemampuan mengangkat tangan ke depan wajahnya lalu mengamati jemarinya sendiri.
Jari-jemarinya pun kini dapat ia gerak-gerakkan. Jika Anda memperlihatkan mainan berwarna cerah, si kecil akan berusaha menggapainya dengan penuh semangat. Jika ia berhasil meraihnya, si kecil pun akan menggenggam dan memindahkannya dari satu tangan ke tangan yang lain.
Seiring dengan berkembangnya gerakan tangan dan lengan bayi, gerakan kakinya juga meningkat pada bulan ini. Selain itu, ia pun dapat menggerakkan seluruh tubuhnya.
Permainan yang dianjurkan:
* Anda dapat menggantung benda-benda yang ringan, seperti balon atau kertas di atas boksnya (dekat kaki bayi). Biarkan kakinya menendang-nendang benda-benda tersebut. Lambat laun, ia akan menyadari bahwa tendangannyalah yang menyebabkan benda itu bergerak.
* Untuk keterampilan tangannya, gantunglah mainan yang bisa diraihnya. Usahakan mainan tersebut terikat dengan baik, sehingga tidak bergerak bila disentuh olehnya.
* Cobalah lakukan “pijat”, berupa sentuhan lembut namun mantap. Selain merupakan ekspresi kasih sayang Anda, kegiatan ini bermanfaat untuk memberikan rangsangan taktil (berkaitan dengan sentuhan dan rabaan) yang sangat bermanfaat. Misalnya, membuat anak lebih waspada, tenang, dan merasa nyaman, serta melancarkan peredaran darah.
* Beberapa gerakan olah tubuh, seperti:
- Arm strecth (meregangkan lengan) dengan cara mengangkat satu tangan bayi ke atas secara bergantian saat ia dalam posisi telentang.
- Telentangkan si kecil lalu gerakan kedua kakinya seperti dia mengayuh sepeda. Gerakan ini untuk melatih otot-otot kakinya.
- Dari posisi telentang, coba Anda angkat tubuhnya dengan menarik kedua tangannya (khusus bagi bayi yang otot lehernya sudah kuat). Pura-puranya, si kecil sedang sit-up!
· Usia 5-7 bulan
Otot-otot tangan dan kaki si kecil kini kian kuat. Ia makin aktif menggunakan kedua kakinya untuk menendang, menggeser, atau mendorong. Otot leher dan punggungnya pun kini lebih kuat. Ia dapat membalikkan, menggulingkan, bahkan menggeser badannya. Akhirnya, ia dapat duduk sendiri tanpa bantuan orang lain di usia sekitar 7 bulan.
Kepandaian lainnya adalah kemampuannya menggenggam barang. Setelah pandai menggenggam, ia akan menikmati aktivitas menjatuhkan dan melempar benda-benda. Lalu di usia sekitar 7 bulan, si kecil dapat menggunakan jari dan ibu jari bersama-sama untuk sebuah tujuan, misalnya mengambil mainan.
Di usia 6-7 bulan, gigi-geligi bayi mulai tumbuh. Biasanya, si kecil merasa gatal pada gusinya dan selalu ingin menggigit sesuatu. Ia senang memasukkan segala sesuatu ke dalam mulutnya. Apa pun yang Anda berikan padanya akan dimasukkan ke dalam mulutnya dalam rangka memenuhi rasa ingin tahunya.
Permainan yang dianjurkan:
* Berikan benda dari arah yang berbeda sehingga ia harus “bekerja keras“ untuk menggapainya. Anda dapat memberikan botol plastik, atau mainan dari plastik yang bentuknya panjang.
* Berhubung si kecil sekarang senang “melempar“ benda-benda, cobalah memberinya benda-benda ringan yang bisa dilemparnya, seperti boneka, botol plastik, bola atau bantal.
* Karena sekarang ia senang memasukkan benda ke dalam mulutnya, berilah teether atau handuk kecil bersih untuk digigitnya.
* Si kecil pasti senang jika diajak berdansa bersama, atau ajak ia bouncing (melompat-lompat) di atas pangkuan Anda.
* Duduklah di sampingnya, sehingga ia akan terangsang untuk berguling mendekat ke arah Anda, atau letakkan mainan favoritnya di dekatnya.
* Main gerobak tangan (wheelbarrow). Caranya, dengan posisi bayi telungkup, pegang panggulnya, dan secara perlahan angkat tubuhnya. Ini adalah latihan yang baik untuk jungkir balik.
Usia 8-10 bulan
Masuk usia 8 bulan, kemampuan motorik bayi sudah makin berkembang. Ia dapat berputar, dan memindahkan mainan dari satu tangan ke tangan yang lain. Ia pun senang memukul-mukul benda dengan menggunakan kedua tangannya.
Kepandaian lain yang berkembang mulai usia 8 bulan ini adalah merangkak maju dan mundur. Bayi makin pandai berubah posisi, dari telungkup atau telentang kemudian akan mencoba merangkak. Lalu, karena otot leher, kaki dan tangannya sudah makin kuat, ia pun kian percaya diri. Dari posisi duduk, kini si kecil dapat bangkit dengan berpegangan pada benda lain (biasanya perabot rumah tangga seperti meja atau kursi).
Bagaimana dengan kedua tangannya? Wah, makin sibuk! Jika tangan yang satu menggenggam objek dan Anda memberikan objek lain, maka ia akan menggenggam benda kedua tanpa melepaskan benda pertama. Ia pun sudah pandai memberikan benda kepada orang lain tanpa bersungguh-sungguh ingin memberikannya. Jika diberi biskuit, si kecil bisa memegangnya sendiri, menggigit, dan mengunyahnya. Selain itu, ia senang memasukkan jari-jemarinya ke lubang kecil yang terbuka.
Permainan yang dianjurkan:
* Ayah atau bunda, duduklah agak jauh dari si kecil sambil memangku boneka kesayangannya. Goda agar ia datang ke pangkuan Anda. Biarkan ia merangkak untuk menjangkaunya. Ini bagus untuk melatihnya merangkak.
* Cobalah bermain merangkak bersama. Pura-puranya, Anda sedang berlomba dengannya untuk mengambil mainan.
* Berikan mainan, dan biarkan ia menggenggamnya. Lalu, pura-puralah untuk memintanya.
* Berikan beberapa mainan yang bisa dipukul-pukul, seperti balok-balok plastik atau gelas plastik.
Usia 11–12 bulan
Wow, kini bayi Anda makin gagah! Ia sudah bisa mengontrol otot punggung dan bahu sehingga bisa duduk tegak. Dengan menggunakan kekuatan otot dan lengannya, si kecil dapat menarik tubuhnya ke posisi berdiri, kemudian menurunkannya dengan cara berpegangan pada perabot rumah.
Kini, si kecil mampu berdiri dan berjalan merambat sambil berpegangan pada meja atau kursi yang kuat menyangga berat badannya. Ia juga sudah bisa mengangkat tubuhnya untuk berdiri sambil berpegangan, kemudian perlahan melepaskan pegangan dalam beberapa detik, lalu buk... ia jatuh terduduk karena keseimbangannya belum sempurna.
Perlahan tapi pasti, ketika ia sudah dapat berdiri sendiri, si kecil akan mencoba berjalan beberapa langkah, dan kemudian jatuh terduduk. Biarkan saja. Ketika merasa sudah siap, ia akan berjalan dengan mantap. Umumnya, bayi sudah dapat berjalan di saat usianya menginjak setahun.
Bagaimana dengan keterampilan tangannya? Hmmm... si kecil lagi senang memasukkan dan mengeluarkan balok-balok dari kotak. Ia juga senang memegang dengan ibu jari dan telunjuk untuk mengambil objek-objek kecil atau serpihan makanan.
Permainan yang dianjurkan:
* Letakkan mainan favoritnya di atas kursi yang agak tinggi, lalu biarkan ia berusaha mengambil mainan itu sendiri. Pastikan perabot kursi tersebut dapat menyangga berat badannya.
* Sediakan beberapa container atau kotak dan benda-benda yang cocok ukurannya untuk dimasukkan ke dalamnya, seperti kaus kaki, serbet, kartu mainan, dan balok-balok dari plastik. Biarkan ia memasukkan benda-benda itu ke dalam container untuk kemudian mengeluarkannya lagi.
* Sediakan potongan wortel atau apel (ingat, potongannya jangan terlalu kecil agar si kecil tidak tersedak), lalu sodorkan pada bayi Anda. Lihat apakah ia akan mengambil makanan tersebut dengan ibu jari dan telunjuknya. Mungkin, Anda akan menikmati keseriusan si kecil yang menggemaskan.
Nah, selamat bermain bersama si kecil! Namun penting diingat, seberapa besar pun yang Anda lakukan, Anda tidak dapat membuat si kecil mencapai tahap-tahap perkembangan lebih cepat dari rentang usia normalnya. Jadi, sebaiknya yang Anda lakukan adalah membantu agar si kecil tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin.
Laila Andaryani Hadis
Anda berdua pasti ingin memberikan stimulasi yang tepat agar segenap potensi kecerdasan si kecil berkembang optimal. Caranya? Tak perlu repot. Sering-seringlah mengajak si kecil bermain.
Ya, bermain memang sangat membantu si kecil mengembangkan segala potensinya. Termasuk, keterampilan motoriknya, baik itu motorik halus maupun motorik kasar. Asyik ‘kan... sambil bermain, Anda bisa mengasah kecerdasan kinestetik si kecil.
* Lahir – 2 bulan
Anda mungkin belum bisa memberikan benda apa pun untuk dimainkan si kecil. Maklumlah, dia kan masih dalam masa penyesuaian diri dengan lingkungan baru.
Gerakannya saat ini sebagian besar masih berupa gerak refleks (refleks mengisap, menggenggam, dan sebagainya). Untuk Anda tahu, otot-otot bayi berusia 1–2 bulan masih lemah dan belum berfungsi dengan baik.
Permainan yang dianjurkan:
Ajak bayi Anda melakukan permainan yang tidak menuntut aktivitas gerak. Anda bisa memasang poster gambar hitam-putih, mainan warna-warni yang digantung di boksnya, meniup wajahnya dengan sedotan, atau memperdengarkan musik sambil berdansa bersama si kecil dalam dekapan Anda.
Usia 3-4 bulan
Jika dalam 2 bulan pertama gerakan bayi masih dikuasai berbagai refleks, kini ia mulai dapat menggerak-gerakkan tubuhnya atas kemauan sendiri. Otot lehernya pun sudah lebih kuat, sehingga bayi dapat berbaring telentang dengan memandang lurus ke depan. Ia bahkan sudah kuat ditengkurapkan.
Lengan dan kakinya pun sudah lebih bebas bergerak sejalan dengan kemampuannya menggerak-gerakkan kepalanya. Pada masa ini, yang terpenting adalah kemampuan mengangkat tangan ke depan wajahnya lalu mengamati jemarinya sendiri.
Jari-jemarinya pun kini dapat ia gerak-gerakkan. Jika Anda memperlihatkan mainan berwarna cerah, si kecil akan berusaha menggapainya dengan penuh semangat. Jika ia berhasil meraihnya, si kecil pun akan menggenggam dan memindahkannya dari satu tangan ke tangan yang lain.
Seiring dengan berkembangnya gerakan tangan dan lengan bayi, gerakan kakinya juga meningkat pada bulan ini. Selain itu, ia pun dapat menggerakkan seluruh tubuhnya.
Permainan yang dianjurkan:
* Anda dapat menggantung benda-benda yang ringan, seperti balon atau kertas di atas boksnya (dekat kaki bayi). Biarkan kakinya menendang-nendang benda-benda tersebut. Lambat laun, ia akan menyadari bahwa tendangannyalah yang menyebabkan benda itu bergerak.
* Untuk keterampilan tangannya, gantunglah mainan yang bisa diraihnya. Usahakan mainan tersebut terikat dengan baik, sehingga tidak bergerak bila disentuh olehnya.
* Cobalah lakukan “pijat”, berupa sentuhan lembut namun mantap. Selain merupakan ekspresi kasih sayang Anda, kegiatan ini bermanfaat untuk memberikan rangsangan taktil (berkaitan dengan sentuhan dan rabaan) yang sangat bermanfaat. Misalnya, membuat anak lebih waspada, tenang, dan merasa nyaman, serta melancarkan peredaran darah.
* Beberapa gerakan olah tubuh, seperti:
- Arm strecth (meregangkan lengan) dengan cara mengangkat satu tangan bayi ke atas secara bergantian saat ia dalam posisi telentang.
- Telentangkan si kecil lalu gerakan kedua kakinya seperti dia mengayuh sepeda. Gerakan ini untuk melatih otot-otot kakinya.
- Dari posisi telentang, coba Anda angkat tubuhnya dengan menarik kedua tangannya (khusus bagi bayi yang otot lehernya sudah kuat). Pura-puranya, si kecil sedang sit-up!
· Usia 5-7 bulan
Otot-otot tangan dan kaki si kecil kini kian kuat. Ia makin aktif menggunakan kedua kakinya untuk menendang, menggeser, atau mendorong. Otot leher dan punggungnya pun kini lebih kuat. Ia dapat membalikkan, menggulingkan, bahkan menggeser badannya. Akhirnya, ia dapat duduk sendiri tanpa bantuan orang lain di usia sekitar 7 bulan.
Kepandaian lainnya adalah kemampuannya menggenggam barang. Setelah pandai menggenggam, ia akan menikmati aktivitas menjatuhkan dan melempar benda-benda. Lalu di usia sekitar 7 bulan, si kecil dapat menggunakan jari dan ibu jari bersama-sama untuk sebuah tujuan, misalnya mengambil mainan.
Di usia 6-7 bulan, gigi-geligi bayi mulai tumbuh. Biasanya, si kecil merasa gatal pada gusinya dan selalu ingin menggigit sesuatu. Ia senang memasukkan segala sesuatu ke dalam mulutnya. Apa pun yang Anda berikan padanya akan dimasukkan ke dalam mulutnya dalam rangka memenuhi rasa ingin tahunya.
Permainan yang dianjurkan:
* Berikan benda dari arah yang berbeda sehingga ia harus “bekerja keras“ untuk menggapainya. Anda dapat memberikan botol plastik, atau mainan dari plastik yang bentuknya panjang.
* Berhubung si kecil sekarang senang “melempar“ benda-benda, cobalah memberinya benda-benda ringan yang bisa dilemparnya, seperti boneka, botol plastik, bola atau bantal.
* Karena sekarang ia senang memasukkan benda ke dalam mulutnya, berilah teether atau handuk kecil bersih untuk digigitnya.
* Si kecil pasti senang jika diajak berdansa bersama, atau ajak ia bouncing (melompat-lompat) di atas pangkuan Anda.
* Duduklah di sampingnya, sehingga ia akan terangsang untuk berguling mendekat ke arah Anda, atau letakkan mainan favoritnya di dekatnya.
* Main gerobak tangan (wheelbarrow). Caranya, dengan posisi bayi telungkup, pegang panggulnya, dan secara perlahan angkat tubuhnya. Ini adalah latihan yang baik untuk jungkir balik.
Usia 8-10 bulan
Masuk usia 8 bulan, kemampuan motorik bayi sudah makin berkembang. Ia dapat berputar, dan memindahkan mainan dari satu tangan ke tangan yang lain. Ia pun senang memukul-mukul benda dengan menggunakan kedua tangannya.
Kepandaian lain yang berkembang mulai usia 8 bulan ini adalah merangkak maju dan mundur. Bayi makin pandai berubah posisi, dari telungkup atau telentang kemudian akan mencoba merangkak. Lalu, karena otot leher, kaki dan tangannya sudah makin kuat, ia pun kian percaya diri. Dari posisi duduk, kini si kecil dapat bangkit dengan berpegangan pada benda lain (biasanya perabot rumah tangga seperti meja atau kursi).
Bagaimana dengan kedua tangannya? Wah, makin sibuk! Jika tangan yang satu menggenggam objek dan Anda memberikan objek lain, maka ia akan menggenggam benda kedua tanpa melepaskan benda pertama. Ia pun sudah pandai memberikan benda kepada orang lain tanpa bersungguh-sungguh ingin memberikannya. Jika diberi biskuit, si kecil bisa memegangnya sendiri, menggigit, dan mengunyahnya. Selain itu, ia senang memasukkan jari-jemarinya ke lubang kecil yang terbuka.
Permainan yang dianjurkan:
* Ayah atau bunda, duduklah agak jauh dari si kecil sambil memangku boneka kesayangannya. Goda agar ia datang ke pangkuan Anda. Biarkan ia merangkak untuk menjangkaunya. Ini bagus untuk melatihnya merangkak.
* Cobalah bermain merangkak bersama. Pura-puranya, Anda sedang berlomba dengannya untuk mengambil mainan.
* Berikan mainan, dan biarkan ia menggenggamnya. Lalu, pura-puralah untuk memintanya.
* Berikan beberapa mainan yang bisa dipukul-pukul, seperti balok-balok plastik atau gelas plastik.
Usia 11–12 bulan
Wow, kini bayi Anda makin gagah! Ia sudah bisa mengontrol otot punggung dan bahu sehingga bisa duduk tegak. Dengan menggunakan kekuatan otot dan lengannya, si kecil dapat menarik tubuhnya ke posisi berdiri, kemudian menurunkannya dengan cara berpegangan pada perabot rumah.
Kini, si kecil mampu berdiri dan berjalan merambat sambil berpegangan pada meja atau kursi yang kuat menyangga berat badannya. Ia juga sudah bisa mengangkat tubuhnya untuk berdiri sambil berpegangan, kemudian perlahan melepaskan pegangan dalam beberapa detik, lalu buk... ia jatuh terduduk karena keseimbangannya belum sempurna.
Perlahan tapi pasti, ketika ia sudah dapat berdiri sendiri, si kecil akan mencoba berjalan beberapa langkah, dan kemudian jatuh terduduk. Biarkan saja. Ketika merasa sudah siap, ia akan berjalan dengan mantap. Umumnya, bayi sudah dapat berjalan di saat usianya menginjak setahun.
Bagaimana dengan keterampilan tangannya? Hmmm... si kecil lagi senang memasukkan dan mengeluarkan balok-balok dari kotak. Ia juga senang memegang dengan ibu jari dan telunjuk untuk mengambil objek-objek kecil atau serpihan makanan.
Permainan yang dianjurkan:
* Letakkan mainan favoritnya di atas kursi yang agak tinggi, lalu biarkan ia berusaha mengambil mainan itu sendiri. Pastikan perabot kursi tersebut dapat menyangga berat badannya.
* Sediakan beberapa container atau kotak dan benda-benda yang cocok ukurannya untuk dimasukkan ke dalamnya, seperti kaus kaki, serbet, kartu mainan, dan balok-balok dari plastik. Biarkan ia memasukkan benda-benda itu ke dalam container untuk kemudian mengeluarkannya lagi.
* Sediakan potongan wortel atau apel (ingat, potongannya jangan terlalu kecil agar si kecil tidak tersedak), lalu sodorkan pada bayi Anda. Lihat apakah ia akan mengambil makanan tersebut dengan ibu jari dan telunjuknya. Mungkin, Anda akan menikmati keseriusan si kecil yang menggemaskan.
Nah, selamat bermain bersama si kecil! Namun penting diingat, seberapa besar pun yang Anda lakukan, Anda tidak dapat membuat si kecil mencapai tahap-tahap perkembangan lebih cepat dari rentang usia normalnya. Jadi, sebaiknya yang Anda lakukan adalah membantu agar si kecil tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin.
Laila Andaryani Hadis
Jari-jari mungil yang terampil
Terampil gunakan jari dan tangan
Apakah si kecil Anda di rumah sudah terampil menggunakan jari dan tangannya? Jika belum, Anda bisa lebih sering mengajaknya melakukan berbagai aktivitas berikut:
Main Play-Doh. Ajak anak membuat bola dengan menggunakan telapak tangan; membuat bola kecil seperti kacang dengan ujung jari; atau menggunting Play-Doh yang dipipihkan dengan gunting plastik.
Merobek koran bekas. Robek dari atas ke bawah sampai kecil-kecil lalu remas menjadi bola-bola.
Main semprotan. Berikan alat penyemprot (bottle spray) berisi air pada anak dan biarkan ia membantu Anda menyirami tanaman atau membersihkan kaca.
Mencapit benda. Ajak anak mencapit benda seperti makaroni, kancing dan minta anak untuk memindahkan benda dari satu wadah ke wadah lain menggunakan pencapit. Anda bisa memberinya pencapit kue yang tersedia di rumah Anda.
Mengocok dadu. Pasti anak Anda suka diajak main lempar dadu yang sebelumnya dikocok dulu dengan cara mengatupkan kedua tangannya.
Bermain dengan obeng kecil. Alat elektronik yang sudah rusak di rumah bisa ikut jadi alat bantu. Biarkan si kecil mencoba ‘memperbaikinya’ dengan senjata obengnya.
1 tahun
Membenturkan dua kubus yang dipegang kedua tangannya.
Menunjuk benda dengan telunjuk.
Mengambil benda dengan pencapit.
Mulai coba-coba mencoret .
Memegang cangkir dan minum dari cangkir dengan tumpah sedikit .
18 bulan
Membangun menara dengan 3 balok.
Semakin sering corat-coret.
Makan dengan sendok.
Membuka kaus kaki sendiri.
Melepas dan memakai topi sendiri.
2 tahun
Membuat lingkaran dan garis horisontal meski belum sempurna.
Membangun menara dengan 6 balok.
Memegang krayon dengan telunjuk dan ibu jari.
Meronce dengan manik besar.
Menggunting.
Makan dengan sendok atau garpu.
Memegang cangkir dengan satu tangan.
Melorotkan celana sendiri.
Membuka kancing besar sendiri
Apakah si kecil Anda di rumah sudah terampil menggunakan jari dan tangannya? Jika belum, Anda bisa lebih sering mengajaknya melakukan berbagai aktivitas berikut:
Main Play-Doh. Ajak anak membuat bola dengan menggunakan telapak tangan; membuat bola kecil seperti kacang dengan ujung jari; atau menggunting Play-Doh yang dipipihkan dengan gunting plastik.
Merobek koran bekas. Robek dari atas ke bawah sampai kecil-kecil lalu remas menjadi bola-bola.
Main semprotan. Berikan alat penyemprot (bottle spray) berisi air pada anak dan biarkan ia membantu Anda menyirami tanaman atau membersihkan kaca.
Mencapit benda. Ajak anak mencapit benda seperti makaroni, kancing dan minta anak untuk memindahkan benda dari satu wadah ke wadah lain menggunakan pencapit. Anda bisa memberinya pencapit kue yang tersedia di rumah Anda.
Mengocok dadu. Pasti anak Anda suka diajak main lempar dadu yang sebelumnya dikocok dulu dengan cara mengatupkan kedua tangannya.
Bermain dengan obeng kecil. Alat elektronik yang sudah rusak di rumah bisa ikut jadi alat bantu. Biarkan si kecil mencoba ‘memperbaikinya’ dengan senjata obengnya.
1 tahun
Membenturkan dua kubus yang dipegang kedua tangannya.
Menunjuk benda dengan telunjuk.
Mengambil benda dengan pencapit.
Mulai coba-coba mencoret .
Memegang cangkir dan minum dari cangkir dengan tumpah sedikit .
18 bulan
Membangun menara dengan 3 balok.
Semakin sering corat-coret.
Makan dengan sendok.
Membuka kaus kaki sendiri.
Melepas dan memakai topi sendiri.
2 tahun
Membuat lingkaran dan garis horisontal meski belum sempurna.
Membangun menara dengan 6 balok.
Memegang krayon dengan telunjuk dan ibu jari.
Meronce dengan manik besar.
Menggunting.
Makan dengan sendok atau garpu.
Memegang cangkir dengan satu tangan.
Melorotkan celana sendiri.
Membuka kancing besar sendiri
Label:
parenting
Cita rasa seni si kecil
1-2 tahun
Mula-mula melukis memang lebih merupakan kegiatan fisik daripada wujud ekspresi cita rasa seni. Perhatikan deh, saat si kecil asyik menggunakan gerakan lengan suka-suka untuk membuat coretan garis yang mirip seperti benang kusut. Setelah bisa menggenggam krayonnya lebih baik, biasanya di antara usia 1,5 tahun dan 2 tahun, Anda akan mulai melihat munculnya bentuk-bentuk yang lebih jelas, misalnya garis-garis yang lebih teratur dan lingkaran-lingkaran yang belum sempurna.
Yang penting bagi anak di usia ini adalah menggerakkan ‘si krayon’. Ketika itulah tubuhnya ikut bergoyang ke sana kemari, dan itulah yang lebih mengasyikkan bagi dia. Dia belum fokus pada bentuk gambar yang dihasilkan. Pilihan warna pun dia belum paham, karena itu sebaiknya dorong dia untuk mencoba berbagai macam warna. Mungkin saja dia akan sering memakai warna hitam, karena warna itulah yang paling jelas di atas kertas.
Materi terbaik: Sehelai kertas yang besar dan krayon gendut (agar lebih mudah digenggam dan tidak patah dalam genggaman ekstra kuat si kecil).
Agar lebih semangat: Temani si kecil sambil corat-coret di kertas sendiri, dan ngobrol tentang warna yang ia pilih.
2-3 tahun
Sekarang si kecil sudah belajar bahwa Anda menyukai karya seninya, jadi, bersiaplah untuk melihat lebih banyak lagi. Ide bahwa sebuah gambar ‘punya arti’ baru saja muncul di benak dia.
Jadi, mungkin saja dia akan bilang kalau noktah merah yang dia ciptakan adalah sebuah mobil. Lucunya lagi, besok gambar yang sama itu bisa saja berubah menjadi seekor burung buat dia. Mendekati usia 3 tahun, kemampuan motoriknya akan makin terasah sehingga dia bisa menciptakan bentuk-bentuk yang lebih rapi. Pada usia ini, rata-rata anak sudah bisa membuat lingkaran dan bentuk persegi.
Materi terbaik: Cat jari dan play dough. Dia tak begitu tertarik untuk mematuhi garis tepi di buku mewarnai, tapi dia senang mengombinasikan berbagai warna di dalam gambar.
Agar lebih semangat: Sertai pujian sebagai bentuk penghargaan. Buat dia makin antusias dengan menanyakan soal ‘karya seni’ nya.
3-4 tahun
Artis sahabat Anda ini sekarang makin sadar bahwa dia bisa menggambar apa yang terbersit di pikirannya. Anda bisa memperhatikan bagaimana dia mulai membentuk sesuatu yang mirip seperti orang dan bilang bahwa itu adalah Anda. Dia juga akan mulai mengerti di mana sesuatu itu seharusnya diletakkan (seperti mata, hidung, dan mulut di wajah yang tersenyum). Karena dia ingin semua itu terlihat ‘benar’, dia mungkin menggambar sesuatu berulang-ulang.
Materi terbaik: Spidol yang bisa dihapus dan pensil warna yang awet dengan ujung yang tak mudah patah.
Agar lebih semangat: Setelah Anda lebih memahami karya seninya, tanyakan kenapa dia ingin menggambar seperti itu. Pasti deh, dia suka akan perhatian Anda, dan mungkin Anda bisa mengintip selintas apa yang ada di dalam benaknya.
4 tahun ke atas
Sekarang Anda akan melihat lebih banyak detail, seperti jari-jari di tangan, plus pemahaman akan proporsi ukuran. Contohnya, dia akan menggambar dirinya lebih besar daripada adik bayinya. Gambar keseluruhan di satu halaman juga sudah makin jelas, struktur dan pengulangan yang dia buat juga makin menarik. Setelah makin besar, kemampuan kognitif, motorik dan bahasanya akan makin canggih, begitu pun hasil gambarnya. Imajinasinya yang sudah makin berkembang akan membawa gambar-gambarnya mencapai tahapan baru.
Pada usia ini anak sudah makin detail dalam menggambarkan sesuatu. Gambar seorang anak juga sudah mulai bisa menampakkan emosi sebagai wujud perasaan yang dia tahan atau dia simpan. Paling mudah membaca emosi anak di usia ini melalui warna. Jadi, bila dia biasanya menggunakan warna-warna yang ceria mungkin suatu saat gambarnya akan didominasi oleh warna hitam.
Materi terbaik: Dia siap untuk menggunakan lem glitter, pensil puffy-paint, dan kuas lukis yang ramping.
Agar lebih semangat: Bantu dia mengumpulkan gambar-gambar favoritnya dalam sebuah map agar bisa dia pamerkan bila kakek nenek datang berkunjung.
Mula-mula melukis memang lebih merupakan kegiatan fisik daripada wujud ekspresi cita rasa seni. Perhatikan deh, saat si kecil asyik menggunakan gerakan lengan suka-suka untuk membuat coretan garis yang mirip seperti benang kusut. Setelah bisa menggenggam krayonnya lebih baik, biasanya di antara usia 1,5 tahun dan 2 tahun, Anda akan mulai melihat munculnya bentuk-bentuk yang lebih jelas, misalnya garis-garis yang lebih teratur dan lingkaran-lingkaran yang belum sempurna.
Yang penting bagi anak di usia ini adalah menggerakkan ‘si krayon’. Ketika itulah tubuhnya ikut bergoyang ke sana kemari, dan itulah yang lebih mengasyikkan bagi dia. Dia belum fokus pada bentuk gambar yang dihasilkan. Pilihan warna pun dia belum paham, karena itu sebaiknya dorong dia untuk mencoba berbagai macam warna. Mungkin saja dia akan sering memakai warna hitam, karena warna itulah yang paling jelas di atas kertas.
Materi terbaik: Sehelai kertas yang besar dan krayon gendut (agar lebih mudah digenggam dan tidak patah dalam genggaman ekstra kuat si kecil).
Agar lebih semangat: Temani si kecil sambil corat-coret di kertas sendiri, dan ngobrol tentang warna yang ia pilih.
2-3 tahun
Sekarang si kecil sudah belajar bahwa Anda menyukai karya seninya, jadi, bersiaplah untuk melihat lebih banyak lagi. Ide bahwa sebuah gambar ‘punya arti’ baru saja muncul di benak dia.
Jadi, mungkin saja dia akan bilang kalau noktah merah yang dia ciptakan adalah sebuah mobil. Lucunya lagi, besok gambar yang sama itu bisa saja berubah menjadi seekor burung buat dia. Mendekati usia 3 tahun, kemampuan motoriknya akan makin terasah sehingga dia bisa menciptakan bentuk-bentuk yang lebih rapi. Pada usia ini, rata-rata anak sudah bisa membuat lingkaran dan bentuk persegi.
Materi terbaik: Cat jari dan play dough. Dia tak begitu tertarik untuk mematuhi garis tepi di buku mewarnai, tapi dia senang mengombinasikan berbagai warna di dalam gambar.
Agar lebih semangat: Sertai pujian sebagai bentuk penghargaan. Buat dia makin antusias dengan menanyakan soal ‘karya seni’ nya.
3-4 tahun
Artis sahabat Anda ini sekarang makin sadar bahwa dia bisa menggambar apa yang terbersit di pikirannya. Anda bisa memperhatikan bagaimana dia mulai membentuk sesuatu yang mirip seperti orang dan bilang bahwa itu adalah Anda. Dia juga akan mulai mengerti di mana sesuatu itu seharusnya diletakkan (seperti mata, hidung, dan mulut di wajah yang tersenyum). Karena dia ingin semua itu terlihat ‘benar’, dia mungkin menggambar sesuatu berulang-ulang.
Materi terbaik: Spidol yang bisa dihapus dan pensil warna yang awet dengan ujung yang tak mudah patah.
Agar lebih semangat: Setelah Anda lebih memahami karya seninya, tanyakan kenapa dia ingin menggambar seperti itu. Pasti deh, dia suka akan perhatian Anda, dan mungkin Anda bisa mengintip selintas apa yang ada di dalam benaknya.
4 tahun ke atas
Sekarang Anda akan melihat lebih banyak detail, seperti jari-jari di tangan, plus pemahaman akan proporsi ukuran. Contohnya, dia akan menggambar dirinya lebih besar daripada adik bayinya. Gambar keseluruhan di satu halaman juga sudah makin jelas, struktur dan pengulangan yang dia buat juga makin menarik. Setelah makin besar, kemampuan kognitif, motorik dan bahasanya akan makin canggih, begitu pun hasil gambarnya. Imajinasinya yang sudah makin berkembang akan membawa gambar-gambarnya mencapai tahapan baru.
Pada usia ini anak sudah makin detail dalam menggambarkan sesuatu. Gambar seorang anak juga sudah mulai bisa menampakkan emosi sebagai wujud perasaan yang dia tahan atau dia simpan. Paling mudah membaca emosi anak di usia ini melalui warna. Jadi, bila dia biasanya menggunakan warna-warna yang ceria mungkin suatu saat gambarnya akan didominasi oleh warna hitam.
Materi terbaik: Dia siap untuk menggunakan lem glitter, pensil puffy-paint, dan kuas lukis yang ramping.
Agar lebih semangat: Bantu dia mengumpulkan gambar-gambar favoritnya dalam sebuah map agar bisa dia pamerkan bila kakek nenek datang berkunjung.
Label:
parenting
Senin, September 22, 2008
Memahami Arti Tangisan Bayi

Menangis adalah cara bayi menyampaikan maksud dan keinginannya. Tangisan yang lembut dan pelan, bisa jadi adalah cara mereka untuk bilang, “Mama, aku ingin sesuatu…” sedangkan tangisan yang lebih keras adalah cara mereka mengatakan “Aku mau itu sekarang juga!”
Harvey Karp MD, penulis buku The Happiest Baby on the Block membagi gaya berkomunikasi para bayi dalam tiga tingkatan yaitu rengekan, tangisan dan jeritan. Ketiga gaya itu berhubungan juga dengan karakter si bayi. Ada yang anteng, dan hanya sedikit merengek bila ingin sesuatu, ada juga yang langsung menjerit keras-keras.
Alifa Nikorobin Azis, tujuh bulan, putri dari Margie Listi di Cipete, Jakarta Selatan, adalah tipe happy-go-lucky baby. “Dia hanya akan merengek sedikit bila ada yang salah,” cerita Margie tentang anak perempuannya. Menangkap keinginan bayi dengan pribadi easy going seperti Niko sesungguhnya lebih mudah. Umumnya mereka hanya merengek sedikit ketika ingin sesuatu, misalnya ketika lapar, dan baru akan menangis bila tak ada yang merespon keinginannya. Hal ini dibenarkan oleh Margi yang merasa mudah sekali mengatasi kerewelan Niko. “Bila saya tinggal terlalu lama di boksnya, Niko akan mengeluarkan suara rengekan. Untuk membujuknya, saya tinggal memutar mainan yang digantung di atas boksnya, maka Niko akan tenang kembali.”
Sebaliknya, bayi dengan pribadi yang fussy, lebih sulit ditebak apa maunya. Mereka akan langsung menjerit keras bila sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi. Raffa anak saya rupanya termasuk jenis seperti ini. Dia akan langsung menjerit keras bila merasakan sesuatu. Entah itu sekedar merasa lapar, bosan atau karena suatu hal yang lebih serius menimpanya. Membujuknya pun tidak bisa dengan satu jurus. Bila suatu hari kerewelannya bisa ditaklukkan dengan diajak bertepuk tangan, lain waktu metode itu belum tentu ampuh. Saat dia berusia sembilan bulan, saya menyaingi tangisannya yang keras dengan bernyanyi atau menunjukkan kepadanya apa yang menurut saya menarik. Biasanya konsentrasinya akan terpecah dan dia pun ‘melupakan’ tangisannya. Tapi lain waktu, saya harus siap dengan gaya yang berbeda karena bisa jadi, gaya mengecoh saya tadi sudah dianggapnya ‘basi’.
Menebak dan mengamati
Memang sulit menebak dengan pasti kenapa bayi kita jadi rewel. Seringkali tangisan mereka memang bukan sekedar pemberitahuan “Aku lapar” atau “Aku ngantuk”. Bisa saja itu terjadi karena sebab lain.
Ghaza, sekarang 2,5 tahun, putra dari Esya di Pancoran Jakarta Selatan, pernah memasuki masa-masa rewel bila hendak dipakaikan popok di usia sekitar sembilan bulan. Tadinya Esya sang ibu menganggap Ghaza tidak betah pakai popok. Namun setelah diamati, akhirnya ketahuan kalau ketidaksenangan Ghaza memakai popok adalah karena kebetulan dia juga sedang ingin pup. “Setelah itu, saya tak lagi memaksa setiap kali dia berontak untuk pakai popok. Saya akan menunggu sebentar sampai dia pup,” cerita Esya.
Grace Vita di Depok, ibu dari Tobias Kusuma Wibowo, 3,8 tahun, dan Erin Nika Wibowo, empat bulan, juga mengaku mengandalkan pengamatan dalam menangani kedua buah hatinya. "Suatu kali di taman bermain, tak seperti biasa, Tobi menangis tiada henti. Saya tahu, pasti ada yang salah dengan anak ini. Ketika saya dekati dan saya tanya, ternyata penyebabnya karena dia ingin pipis tapi malu mengatakan hal itu pada guru barunya.”
Mempelajari kebiasaan anak akan membuat Anda lebih mudah menebak apa yang dia inginkan. Itu penting karena kebiasaan yang berubah seringkali juga dapat menjadi penyebab kerewelannya. Karlina Dwiyana di Pondok Labu, suatu hari harus pulang terlambat karena lembur dan mendapati Dachrie suaminya, kelabakan mengatasi putri mereka Tara Humayra, 10 bulan. Tara rewel dan menangis. Berbagai cara yang dilakukan Dachrie tidak bisa membuat Mayra menjadi tenang. “Rupanya Mayra nggak suka tidur hanya berdua ayahnya, karena biasanya kami memang tidur bertiga,” tutur Karlina. “Setelah berada di tengah-tengah kami berdua, barulah Mayra menjadi tenang.”
Kebingungan juga pernah dialami Dyan Anggraini dari Mampang ketika putranya, Raihan, kini 10 bulan, baru berusia dua bulan. Dyan melahirkan Raihan di tempat ibunya di Kuningan, Jawa Barat. Ketika masa cutinya hampir berakhir, Dyan membawa kembali bayinya ke Jakarta dan sejak itulah, setiap malam mulai pukul sepuluh Raihan selalu menangis. “Dia selalu minta digendong dan tak mau ditaruh. Tangisannya baru berhenti menjelang subuh, mungkin karena sudah lelah menangis semalaman,” kisah Dyan.
Sebagai ibu baru, tentu saja Dyan khawatir setengah mati. Apa yang salah dengan Raihan, apakah dia sakit? Karena tampaknya Raihan biasa-biasa saja di siang hari. Tapi ketika dibawa ke dokter anak dan dicek, ternyata Raihan memang tidak kenapa-kenapa. Jadi, ketika sang dokter tahu bahwa Raihan baru saja menghuni rumah baru, dia berujar,” Mungkin itu penyesuaian dia dengan lingkungan barunya.” Dan memang, setelah berlangsung selama dua minggu, Raihan berhenti menangis begitu saja. “Wah, saya lega sekali. Dia berhenti menangis tepat ketika saya harus ngantor lagi. Pengertian sekali dia ya,” kata Dian sambil tertawa.
Tantangan Baru
Seiring dengan bertambahnya usia, kemampuan bayi Anda dalam berkomunikasi juga akan bertambah. Begitu pula kemampuan Anda memahami apa yang diinginkannya. Tanpa disadari, bayi Anda yang tadinya hanya bisa ah-uh-ah-uh sudah akan berdiri di hadapan Anda, dan dengan wajah cemberut protes berulangkali, “Kenapa nggak boleh?” Atau, dia akan berteriak lantang, “Pokoknya aku mau itu!” saat menginginkan sesuatu.
Bila masa itu tiba, cobalah untuk menarik napas dalam-dalam, dan berpikir positif. Fase yang berbeda telah siap menanti Anda. Itu berarti penanganan yang berbeda pula! Jadi, berdoalah agar kesabaran Anda kian bertambah dan bukannya makin berkurang. §Ã™
Dian Bheno adalah ibu satu anak berusia empat tahun, tinggal di Condet, Jakarta Timur. Inspirasi dari artikel “What Your Baby’s Trying to Tell You” oleh Katherine Lee
Agar si kecil memahami Anda
Jangan dikira hanya Anda yang berjuang untuk mengerti apa keinginan si kecil. Mereka juga berusaha mengerti Anda lho. Agar cinta dan kenyamanan yang Anda tawarkan dapat mereka terima dengan baik, berkomunikasilah dengan cara ini:
Sentuhan. Membalut dengan bedong, memeluk, atau mengayun dia akan memberikan rasa aman.
Aroma. Bayi mengenali kita lewat aroma tubuh. Karena itu dekaplah mereka sesering mungkin. Aroma tubuh Anda akan membuat dia merasa nyaman.
Suara. Meninabobokan anak atau berbicara dengan nada tertentu dapat membuat bayi Anda tenang. Coba saja perhatikan, apakah bayi Anda tersenyum saat Anda bersenandung? Kalau ya, berarti Anda punya satu jurus ampuh yang bisa dipakai sewaktu-waktu.
Minggu, September 14, 2008
Kepribadian awal bayi Anda
Setelah usia 4 atau 5 bulan, kepribadian bayi Anda akan mulai terlihat. Anda akan mulai bisa menduga, apa yang bikin dia kesal atau terganggu. Nah, pilih karakteristik yang paling sesuai dengan temperamen dia (mungkin saja lebih dari satu). Setelah itu, cobalah tip Parenting untuk membuat dia (dan Anda!) lebih bahagia.
Pemalu/mudah takut
Karakter sifat utama: Sering tak mau dilepas dan mudah gelisah.
Tantangan: Bertemu orang baru, berada diantara banyak orang, da-dah ketika orangtuanya harus berangkat kerja.
Strategi menenangkan: Jangan paksa dia berinteraksi dengan orang lain. Tapi juga jangan terlalu mengisolasi dia dari orang lain. Dengan lembut perkenalkan dia pada situasi lingkungan sekeliling yang baru.
Mudah ngambek
Karakter sifat utama: Suka semaunya sendiri, sering menangis dan gampang kesal.
Tantangan:Mainan-mainan yang agak susah diutak-atik, beranjak dari permainan atau situasi yang asyik dan menyenangkan, perubahan dari suatu rutinitas.
Strategi menenangkan: Bayi dengan sifat seperti ini mudah marah, jadi cobalah lebih sabar. Akan membantu kalau Anda memberikan dia masa transisi di antara berbagai kegiatannya. Jangan biarkan dia menyentuh mainan atau buku di toko bila Anda tak membelinya. Disiplinlah pada rutinitas yang menenangkan.
Sensitif
Karakter sifat utama: Gampang resah dan rewel.
Tantangan: Pakaian yang tak nyaman, merasa terlalu panas atau terlalu dingin, lingkungan yang berisik, tempat yang terlalu terang.
Strategi menenangkan: Hindari kain-kain yang gatal seperti wool, dan gunting label pakaian yang bisa mengganggunya. Pilih tempat belanja terdekat kalau mengajak dia, karena bayi dengan sifat seperti ini mudah ngambek dan berapi-api.
Selalu ceria
Karakter sifat utama: Tidak rewel dan mudah tersenyum
Tantangan: Sedikit sekali. Tapi, bahkan anak yang paling manis pun bisa rewel.
Strategi menenangkan: Anda termasuk beruntung! Bayi seperti malaikat ini jarang sekali membutuhkan penanganan khusus.
Aktif
Karakter sifat utama: Maunya bergerak terus, tak mau diam.
Tantangan: Duduk diam selama beberapa waktu tertentu, sebut misalnya di restoran, duduk tenang di kursi makan.
Strategi menenangkan: Saat di mobil menempuh perjalanan yang lumayan jauh, sering-seringlah berhenti agar dia bisa bebas dari tempat duduknya. Sediakan mainan seperti bola-bola yang bisa melambung dan peralatan olah raga yang jumlahnya cukup, untuk mengimbangi energinya yang seolah tak terbatas.
Pemalu/mudah takut
Karakter sifat utama: Sering tak mau dilepas dan mudah gelisah.
Tantangan: Bertemu orang baru, berada diantara banyak orang, da-dah ketika orangtuanya harus berangkat kerja.
Strategi menenangkan: Jangan paksa dia berinteraksi dengan orang lain. Tapi juga jangan terlalu mengisolasi dia dari orang lain. Dengan lembut perkenalkan dia pada situasi lingkungan sekeliling yang baru.
Mudah ngambek
Karakter sifat utama: Suka semaunya sendiri, sering menangis dan gampang kesal.
Tantangan:Mainan-mainan yang agak susah diutak-atik, beranjak dari permainan atau situasi yang asyik dan menyenangkan, perubahan dari suatu rutinitas.
Strategi menenangkan: Bayi dengan sifat seperti ini mudah marah, jadi cobalah lebih sabar. Akan membantu kalau Anda memberikan dia masa transisi di antara berbagai kegiatannya. Jangan biarkan dia menyentuh mainan atau buku di toko bila Anda tak membelinya. Disiplinlah pada rutinitas yang menenangkan.
Sensitif
Karakter sifat utama: Gampang resah dan rewel.
Tantangan: Pakaian yang tak nyaman, merasa terlalu panas atau terlalu dingin, lingkungan yang berisik, tempat yang terlalu terang.
Strategi menenangkan: Hindari kain-kain yang gatal seperti wool, dan gunting label pakaian yang bisa mengganggunya. Pilih tempat belanja terdekat kalau mengajak dia, karena bayi dengan sifat seperti ini mudah ngambek dan berapi-api.
Selalu ceria
Karakter sifat utama: Tidak rewel dan mudah tersenyum
Tantangan: Sedikit sekali. Tapi, bahkan anak yang paling manis pun bisa rewel.
Strategi menenangkan: Anda termasuk beruntung! Bayi seperti malaikat ini jarang sekali membutuhkan penanganan khusus.
Aktif
Karakter sifat utama: Maunya bergerak terus, tak mau diam.
Tantangan: Duduk diam selama beberapa waktu tertentu, sebut misalnya di restoran, duduk tenang di kursi makan.
Strategi menenangkan: Saat di mobil menempuh perjalanan yang lumayan jauh, sering-seringlah berhenti agar dia bisa bebas dari tempat duduknya. Sediakan mainan seperti bola-bola yang bisa melambung dan peralatan olah raga yang jumlahnya cukup, untuk mengimbangi energinya yang seolah tak terbatas.
Kamis, September 04, 2008
Menghadapi 5 Sifat Khas Batita
Si kecil egois, agresif, bossy, penyendiri atau pemalu? Semua itu merupakan sifat khas batita.
Ada alasan mengapa anak batita mulai menunjukkan sifat egois, agresif, bossy, tapi juga suka menyendiri, dan bahkan pemalu. Semuanya wajar asalkan tidak menetap dan sampai menghambat pengembangan dirinya. Untuk itulah sifat-sifat khas tersebut tetap perlu diintervensi agar dapat menempati porsinya yang pas dan memberi kesempatan kepada sifat lain yang lebih baik untuk berkembang sebagai karakter anak. Nah, bagaimana mengintervensi ke-5 sifat tersebut?
1. EGOSENTRIS
Sifat yang umumnya muncul pada usia 15 bulanan (atau saat anak sudah sadar akan dirinya/self awareness) ini disebabkan oleh ketidakmampuan si kecil dalam melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain. Jadi semua masalah akan diteropong dari kaca mata dirinya. Lantaran sifat ini juga, anak batita selalu “here and now.”
Bila ingin sesuatu harus didapat saat itu juga alias tidak mau menunggu. Misal, saat ia minta es krim pada malam hari ya dia enggak mau tahu harus mendapatkannya saat itu juga. Contoh lain, si kecil merebut mainan temannya. Meski temannya menangis, ia tidak peduli karena ia “berprinsip” “saya suka, saya mau, maka saya harus dapatkan”
Bila dilihat dari perkembangan kognitif, sifat egois akan menghilang saat usia anak 6 tahun. Karena semakin besar anak, lingkungan sosial akan menuntut anak untuk sadar akan lingkungan, selain sadar diri. Nah, pada saat usianya menginjak 3 tahun, sebenarnya anak sudah mulai sadar akan tuntutan sosial tersebut namun perlu stimulasi dari orangtua.
Egosentris yang dibiarkan terus---dalam arti anak selalu mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa mempertimbangkan adanya aturan-aturan sosial---bisa menetap sampai si kecil beranjak dewasa dan anak akan dicap buruk oleh lingkungan.
Cara menyiasati
Memang masih agak sulit batita diberi pengertian. Meski ada beberapa anak yang sudah bisa. Namun bagaimanapun di usia batita ini orangtua sudah harus menerapkan aturan-aturan disertai pengertian kepada anak bahwa tidak semua keinginan anak harus terpenuhi. Pada contoh kasus es krim di atas, berilah anak pengertian. Misalnya, ”Hari sudah malam, Dek. Mataharinya juga sudah tidur dan tokonya tutup. Saat mataharinya bangun pagi nanti, baru kita bisa beli es krim.” Jadi, yang penting adalah aturan harus diberikan secara konsisten.
2. BOSSY ATAU SUKA PERINTAH
Bossy sebenarnya masih berhubungan dengan sifat egosentris. Sifat ini merupakan kelanjutan dari usia bayi di mana anak sebelumnya selalu diladeni. Saat memasuki usia batita dimana anak sudah tidak lagi bergantung sepenuhnya dengan orang dewasa---dalam arti ia sudah bisa jalan, bicara, dan melakukan apa pun yang diinginkannya- --anak merasa memiliki otonomi. Sikap otonom ini sering dibarengi dengan sikap menyuruh orang lain demi mendapatkan apa yang diinginkan. Seperti, “Mbak, ambilin susu” atau “Bukain sepatu.” Kondisi ini bisa “diperparah” bila ada model orang dewasa di sekitar anak yang selalu bersikap bossy, atau memang anak tidak dibiasakan mandiri.
Yang jelas, sifat bossy tidak akan menghilang dengan sendirinya. Karena anak merasa keenakkan. Ngapain capek-capek melakukan sesuatu kalau hanya dengan menyuruh saja, ia mendapatkan apa yang diinginkan? Perilaku suka perintah di usia batita jadi bisa dianggap lucu. Tapi begitu anak sudah lebih besar lagi, percaya deh kalau sifat itu akan menjengkelkan banyak orang sehingga ia akan dijauhi teman-temannya.
Cara menyiasati
- Ajarkan kemandirian (dari hal-hal sederhana) secara bertahap seperti cuci tangan sebelum makan, makan sendiri, buka sepatu dan lain sebagainya.
- Jangan menampilkan sikap bossy pada siapa pun (termasuk pada PRT) karena si kecil akan mudah “terinsiprasi” untuk bertingkah laku yang sama.
- Bila anak sudah kadung bossy dan terbiasa main suruh, coba bangun kemandiriannya dan dorong ia untuk mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Misal, “Dek coba yuk buka sepatunya sendiri. Mama temani.”
3. AGRESIF
Sifat ini sebetulnya sudah tampak sejak usia bayi (terutama pada bayi dengan temperamen sulit). Namun akan semakin kerap kemunculannya di usia batita. Si kecil merasa keinginannya tidak dipahami oleh orang dewasa (berkaitan dengan komunikasi anak batita yang masih terbatas). Agresivitas juga dapat muncul karena kebiasaan. Misal, anak belajar dari pengalamannya jika ia berteriakteriak atau melempar barang maka orang akan memenuhi apa pun yang ia inginkan. Atau kalau ia memukul temannya, maka si teman akan memberikan mainan yang diinginkan kepadanya.
Sifat agresif yang tidak diantisipasi bisa menjadi habituasi dan berlanjut hingga usia dewasa nanti. Di saat usia anak tentunya ia akan dijauhi teman-teman, dicap nakal, sehingga pada akhirnya anak sendiri akan menerima bahwa dirinya “trouble maker” hingga ia besar nanti.
Cara menyiasati
* Saat anak tantrum, peluk atau pegang tangan/badannya. Biarkan ia marah. Setelah kemarahannya reda orangtua bisa tanyakan penyebabnya sesuai dugaan atau perkiraan orangtua. Misal, “Adik pasti sedang marah sekali ya karena ibu tidak beli es krim buat kamu sekarang? Ibu tahu, adik ingin es krim. Tapi hari sudah malam, mataharinya sudah tidur dan tokonya sudah tutup. Kalau mataharinya sudah bangun dan tokonya buka, kita nanti beli sama-sama, ya?” Dalam keadaan emosional, anak batita akan bingung mengatakan apa penyebab rasa kesalnya. Lebih baik, kita yang mendefinisikan perasaannya. Cara ini membuat anak merasa dipahami perasaannya.
* Jangan menanggapi agresivitas anak dengan cara yang agresif pula. Contoh, saat ia memukul temannya, jangan kita malah mencubit anak untuk menghentikan aksinya itu. Benar sih anak tidak akan meneruskan pukulannya, namun anak justru memperoleh gambaran bahwa sikap kasar itu diperbolehkan.
* Beri penjelasan. Memang bukan pekerjaan mudah menjelaskan pada anak batita. Karena hanya sekali diberi tahu tidak akan membuatnya patuh dan melupakan sifat agresifnya. Jangan putus asa, lama-kelamaan jika selalu dijelaskan, anak akan belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu tidak harus dengan sikap agresif.
4. PEMALU
Si kecil kerap bersembunyi di balik kaki ibu/bapak atau terusmenerus memegangi baju kita saat bertemu orang lain? Atau kala ditanya, anak memilih diam dan menundukkan kepala? Kalau memang ya, bisa jadi memang ia pemalu. Namun bisa juga karena ia takut pada orang asing atau tidak terbiasa bertemu dengan orang banyak.
Umumnya, sifat pemalu anak yang karena pembawaan pribadi (diturunkan dari orangtua yang juga pemalu dan tidak suka bersosialisasi) akan terbawa sampai dewasa. Meski tak ada dampak buruk pada anak, namun bisa membuat anak kehilangan peluang dalam dalam berbagai hal, dibandingkan dengan anak yang aktif dan berani. Sifat pemalu juga membuat anak sulit mengembangkan diri dan beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.
Cara menyiasati
Untuk menghadapi anak pemalu sebaiknya orangtua sering membawanya untuk bersosialisasi. Latih sejak dini dengan memasukkan anak pada lingkungan sosial dimana banyak anak bermain seperti di taman bermain. Awalnya mungkin anak merasa takut, jadi temani sementara waktu.
Setelah beberapa lama biasanya anak bisa ditinggal dan berbaur bersama anak-anak lainnya. Bisa juga anak diajak ke tempat-tempat pertemuan atau ketika orangtua bertemu dengan kenalan di jalan, anak bisa diminta untuk mengenalkan dirinya atau menyapanya. Misal, “Sayang, kenalin nih. Ini tante Diba. Ayo salam. Beri tahu siapa nama Adek.”
5. PENYENDIRI
Sifat penyendiri pada usia batita---selain dikarenakan perkembangan kognitif anak dalam melihat sesuatu masih dari sudut pandangnya sendiri---perkemban gan sosialnya pun masih belum berkembang baik. Anak baru mulai sadar akan adanya tuntutan dari lingkungan sosial di usia 3 tahun ke atas. Lantaran itulah, saat bermain, anak tampak soliter (lebih suka bermain sendiri) meski ada teman di sampingnya. Sifat penyendiri akan menghilang setelah usia batita. Apalagi jika anak sudah berelasi dengan teman-temannya. Namun pada beberapa anak memang sifat penyendiri ini bisa menjadi kebiasaan yang terbawa pula sampai nantinya.
Soal dampak, sebenarnya sifat penyendiri tak jadi masalah. Bahkan hingga usia dewasa pun sebetulnya sifat ini terkadang diperlukan. Karena adakalanya manusia perlu sebagian waktu untuk menyendiri dan sebagian waktunya lagi bersosialisasi. Hanya kalau sifat penyendiri si batita sudah keterlaluan, misal, dia lebih memilih menyendiri sampai 24 jam terus-menerus, ya tidak boleh dibiarkan. Sebab anak tetap perlu beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sosial yang ada.
Cara menyiasati
Sama seperti halnya anak yang pemalu, orangtua perlu mengajak anak dalam kegiatan bersama dan bersosialisasi. Mulailah dari lingkungan orang dekat, seperti taman bermain dekat rumah yang banyak dikunjungi anak-anak tetangga, dan acara keluarga agar anak mengenal sepupu dari keluarga ayah dan ibunya. Setiap saat, ajaklah anak berkomunikasi dan jangan lupa sediakan waktu untuk mendengarkan dan menanggapi setiap ujarannya. Semakin ia percaya bahwa kita bersedia menjadi pendengarnya yang sabar, anak akan semakin berani bicara dan lebih bersikap terbuka.
Source : NAKITA
Dedeh Kurniasih
Narasumber:
L.S. Yulia Savitri, M.Psi.,
pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Ada alasan mengapa anak batita mulai menunjukkan sifat egois, agresif, bossy, tapi juga suka menyendiri, dan bahkan pemalu. Semuanya wajar asalkan tidak menetap dan sampai menghambat pengembangan dirinya. Untuk itulah sifat-sifat khas tersebut tetap perlu diintervensi agar dapat menempati porsinya yang pas dan memberi kesempatan kepada sifat lain yang lebih baik untuk berkembang sebagai karakter anak. Nah, bagaimana mengintervensi ke-5 sifat tersebut?
1. EGOSENTRIS
Sifat yang umumnya muncul pada usia 15 bulanan (atau saat anak sudah sadar akan dirinya/self awareness) ini disebabkan oleh ketidakmampuan si kecil dalam melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain. Jadi semua masalah akan diteropong dari kaca mata dirinya. Lantaran sifat ini juga, anak batita selalu “here and now.”
Bila ingin sesuatu harus didapat saat itu juga alias tidak mau menunggu. Misal, saat ia minta es krim pada malam hari ya dia enggak mau tahu harus mendapatkannya saat itu juga. Contoh lain, si kecil merebut mainan temannya. Meski temannya menangis, ia tidak peduli karena ia “berprinsip” “saya suka, saya mau, maka saya harus dapatkan”
Bila dilihat dari perkembangan kognitif, sifat egois akan menghilang saat usia anak 6 tahun. Karena semakin besar anak, lingkungan sosial akan menuntut anak untuk sadar akan lingkungan, selain sadar diri. Nah, pada saat usianya menginjak 3 tahun, sebenarnya anak sudah mulai sadar akan tuntutan sosial tersebut namun perlu stimulasi dari orangtua.
Egosentris yang dibiarkan terus---dalam arti anak selalu mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa mempertimbangkan adanya aturan-aturan sosial---bisa menetap sampai si kecil beranjak dewasa dan anak akan dicap buruk oleh lingkungan.
Cara menyiasati
Memang masih agak sulit batita diberi pengertian. Meski ada beberapa anak yang sudah bisa. Namun bagaimanapun di usia batita ini orangtua sudah harus menerapkan aturan-aturan disertai pengertian kepada anak bahwa tidak semua keinginan anak harus terpenuhi. Pada contoh kasus es krim di atas, berilah anak pengertian. Misalnya, ”Hari sudah malam, Dek. Mataharinya juga sudah tidur dan tokonya tutup. Saat mataharinya bangun pagi nanti, baru kita bisa beli es krim.” Jadi, yang penting adalah aturan harus diberikan secara konsisten.
2. BOSSY ATAU SUKA PERINTAH
Bossy sebenarnya masih berhubungan dengan sifat egosentris. Sifat ini merupakan kelanjutan dari usia bayi di mana anak sebelumnya selalu diladeni. Saat memasuki usia batita dimana anak sudah tidak lagi bergantung sepenuhnya dengan orang dewasa---dalam arti ia sudah bisa jalan, bicara, dan melakukan apa pun yang diinginkannya- --anak merasa memiliki otonomi. Sikap otonom ini sering dibarengi dengan sikap menyuruh orang lain demi mendapatkan apa yang diinginkan. Seperti, “Mbak, ambilin susu” atau “Bukain sepatu.” Kondisi ini bisa “diperparah” bila ada model orang dewasa di sekitar anak yang selalu bersikap bossy, atau memang anak tidak dibiasakan mandiri.
Yang jelas, sifat bossy tidak akan menghilang dengan sendirinya. Karena anak merasa keenakkan. Ngapain capek-capek melakukan sesuatu kalau hanya dengan menyuruh saja, ia mendapatkan apa yang diinginkan? Perilaku suka perintah di usia batita jadi bisa dianggap lucu. Tapi begitu anak sudah lebih besar lagi, percaya deh kalau sifat itu akan menjengkelkan banyak orang sehingga ia akan dijauhi teman-temannya.
Cara menyiasati
- Ajarkan kemandirian (dari hal-hal sederhana) secara bertahap seperti cuci tangan sebelum makan, makan sendiri, buka sepatu dan lain sebagainya.
- Jangan menampilkan sikap bossy pada siapa pun (termasuk pada PRT) karena si kecil akan mudah “terinsiprasi” untuk bertingkah laku yang sama.
- Bila anak sudah kadung bossy dan terbiasa main suruh, coba bangun kemandiriannya dan dorong ia untuk mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Misal, “Dek coba yuk buka sepatunya sendiri. Mama temani.”
3. AGRESIF
Sifat ini sebetulnya sudah tampak sejak usia bayi (terutama pada bayi dengan temperamen sulit). Namun akan semakin kerap kemunculannya di usia batita. Si kecil merasa keinginannya tidak dipahami oleh orang dewasa (berkaitan dengan komunikasi anak batita yang masih terbatas). Agresivitas juga dapat muncul karena kebiasaan. Misal, anak belajar dari pengalamannya jika ia berteriakteriak atau melempar barang maka orang akan memenuhi apa pun yang ia inginkan. Atau kalau ia memukul temannya, maka si teman akan memberikan mainan yang diinginkan kepadanya.
Sifat agresif yang tidak diantisipasi bisa menjadi habituasi dan berlanjut hingga usia dewasa nanti. Di saat usia anak tentunya ia akan dijauhi teman-teman, dicap nakal, sehingga pada akhirnya anak sendiri akan menerima bahwa dirinya “trouble maker” hingga ia besar nanti.
Cara menyiasati
* Saat anak tantrum, peluk atau pegang tangan/badannya. Biarkan ia marah. Setelah kemarahannya reda orangtua bisa tanyakan penyebabnya sesuai dugaan atau perkiraan orangtua. Misal, “Adik pasti sedang marah sekali ya karena ibu tidak beli es krim buat kamu sekarang? Ibu tahu, adik ingin es krim. Tapi hari sudah malam, mataharinya sudah tidur dan tokonya sudah tutup. Kalau mataharinya sudah bangun dan tokonya buka, kita nanti beli sama-sama, ya?” Dalam keadaan emosional, anak batita akan bingung mengatakan apa penyebab rasa kesalnya. Lebih baik, kita yang mendefinisikan perasaannya. Cara ini membuat anak merasa dipahami perasaannya.
* Jangan menanggapi agresivitas anak dengan cara yang agresif pula. Contoh, saat ia memukul temannya, jangan kita malah mencubit anak untuk menghentikan aksinya itu. Benar sih anak tidak akan meneruskan pukulannya, namun anak justru memperoleh gambaran bahwa sikap kasar itu diperbolehkan.
* Beri penjelasan. Memang bukan pekerjaan mudah menjelaskan pada anak batita. Karena hanya sekali diberi tahu tidak akan membuatnya patuh dan melupakan sifat agresifnya. Jangan putus asa, lama-kelamaan jika selalu dijelaskan, anak akan belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu tidak harus dengan sikap agresif.
4. PEMALU
Si kecil kerap bersembunyi di balik kaki ibu/bapak atau terusmenerus memegangi baju kita saat bertemu orang lain? Atau kala ditanya, anak memilih diam dan menundukkan kepala? Kalau memang ya, bisa jadi memang ia pemalu. Namun bisa juga karena ia takut pada orang asing atau tidak terbiasa bertemu dengan orang banyak.
Umumnya, sifat pemalu anak yang karena pembawaan pribadi (diturunkan dari orangtua yang juga pemalu dan tidak suka bersosialisasi) akan terbawa sampai dewasa. Meski tak ada dampak buruk pada anak, namun bisa membuat anak kehilangan peluang dalam dalam berbagai hal, dibandingkan dengan anak yang aktif dan berani. Sifat pemalu juga membuat anak sulit mengembangkan diri dan beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.
Cara menyiasati
Untuk menghadapi anak pemalu sebaiknya orangtua sering membawanya untuk bersosialisasi. Latih sejak dini dengan memasukkan anak pada lingkungan sosial dimana banyak anak bermain seperti di taman bermain. Awalnya mungkin anak merasa takut, jadi temani sementara waktu.
Setelah beberapa lama biasanya anak bisa ditinggal dan berbaur bersama anak-anak lainnya. Bisa juga anak diajak ke tempat-tempat pertemuan atau ketika orangtua bertemu dengan kenalan di jalan, anak bisa diminta untuk mengenalkan dirinya atau menyapanya. Misal, “Sayang, kenalin nih. Ini tante Diba. Ayo salam. Beri tahu siapa nama Adek.”
5. PENYENDIRI
Sifat penyendiri pada usia batita---selain dikarenakan perkembangan kognitif anak dalam melihat sesuatu masih dari sudut pandangnya sendiri---perkemban gan sosialnya pun masih belum berkembang baik. Anak baru mulai sadar akan adanya tuntutan dari lingkungan sosial di usia 3 tahun ke atas. Lantaran itulah, saat bermain, anak tampak soliter (lebih suka bermain sendiri) meski ada teman di sampingnya. Sifat penyendiri akan menghilang setelah usia batita. Apalagi jika anak sudah berelasi dengan teman-temannya. Namun pada beberapa anak memang sifat penyendiri ini bisa menjadi kebiasaan yang terbawa pula sampai nantinya.
Soal dampak, sebenarnya sifat penyendiri tak jadi masalah. Bahkan hingga usia dewasa pun sebetulnya sifat ini terkadang diperlukan. Karena adakalanya manusia perlu sebagian waktu untuk menyendiri dan sebagian waktunya lagi bersosialisasi. Hanya kalau sifat penyendiri si batita sudah keterlaluan, misal, dia lebih memilih menyendiri sampai 24 jam terus-menerus, ya tidak boleh dibiarkan. Sebab anak tetap perlu beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sosial yang ada.
Cara menyiasati
Sama seperti halnya anak yang pemalu, orangtua perlu mengajak anak dalam kegiatan bersama dan bersosialisasi. Mulailah dari lingkungan orang dekat, seperti taman bermain dekat rumah yang banyak dikunjungi anak-anak tetangga, dan acara keluarga agar anak mengenal sepupu dari keluarga ayah dan ibunya. Setiap saat, ajaklah anak berkomunikasi dan jangan lupa sediakan waktu untuk mendengarkan dan menanggapi setiap ujarannya. Semakin ia percaya bahwa kita bersedia menjadi pendengarnya yang sabar, anak akan semakin berani bicara dan lebih bersikap terbuka.
Source : NAKITA
Dedeh Kurniasih
Narasumber:
L.S. Yulia Savitri, M.Psi.,
pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Label:
parenting
Rabu, September 03, 2008
Jangan Menyuruh Bayi Belajar!
Jumat, 8 Agustus 2008 | 11:20 WIB
MEMBERIKAN stimulasi kepada bayi atau anak dengan metode flash card mungkin pernah Anda dengar atau bahkan dipraktikan. Di kalangan para ahli psikologi dan perkembangan anak, memberi stimulasi dengan metode flash card ini mengundang pro dan kontra.
Ada yang menilai metode ini baik selama sifatnya tidak memaksa dan disesuaikan dengan tahapan. Namun ada pula yang berpendapat stimulasi dengan cara flash card bukanlah stimulasi alami seperti halnya aktivitas bermain pada anak.
Salah satu ahli yang menentang metode stimulasi flash card adalah Psikolog dan Playtherapist dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si. Dalam pandangannya, mengajarkan anak dengan flash card termasuk kategori overstimulation atau stimulasi yang berlebihan.
"Tidak benar menyuruh bayi belajar, misalnya dengan flash card karena ini adalah overstimulation. Seorang pakar bermain Brian Sutton-Smith menegaskan ini sudah termasuk cognitive child labor atau secara kognitif anak sudah dipekerjakan terlalu keras," ungkap Mayke di Jakarta beberapa waktu lalu.
Menurut pendapat Mayke, ketika orang tua menyodorkan flash card berarti anak harus diam dan diminta memperhatikan sehingga anak sudah dituntut untuk belajar. "Di sana yang lebih ditekankan adalah faktor kognitifnya. Padahal di usia awal pertumbuhan yang harus dikembangkan adalah senses-nya (sensomotorik) , bukan memori. Artinya, bukan melatih memori secara khusus dengan diperlihatkan flash card. Itu sudah termasuk belajar yang sepertinya ada target yang ingin dicapai. Jadi sudah bukan bermain lagi," ungkapnya.
Mayke mengakui bahwa dengan pemberian metode flash card yang sifatnya singkat-singkat, mungkin anak akan cepat menangkap, mengingat dan mempelajarinya. Ada banyak penelitian yang mendukung maupun yang menentang metode ini. "Tentu penelitian itu ada yang pro dan kontra. Ada yang mengatakan itu bagus. Tetapi kontra juga sudah mengatakan bukti-bukti bahwa itu tidak baik bagi perkembangan anak karena masa anak adalah masa bermain di mana mereka tak bisa dituntut untuk diam dan belajar dengan suatu materi," tegasnya.
Mayke juga menilai dengan metode flash card hanyalah membantu percepatan kemampuan untuk sementara, dan yang dikhawatirkan justru anak akan jenuh sebelum waktunya. "Dari hasil penelitian menunjukkan, rangsangan terlalu dini yang sifatnya overstimulation ketika anak sudah bisa membaca hanya merupakan percepatan yang bersifat sementara. Tetapi saat mereka sudah menginjak kelas 4 SD dan prestasinya dibandingkan, tidak ada perbedaan yang signifkan," terangnya.
Bukti penelitian yang kontra dengan metode flash card tersebut, kata Mayke, salah satunya adalah yang dimuat film berjudul Smart Babies dari Discovery Health Channel. "Di situ, apa dikemukakan Glenn Doman dimentahkan, melalui penelitian psikologis. Para ahli yang dilibatkan dalam riset itu adalah psikiater, ahli neurologi, psikolog anak, pendidik anak," paparnya.
Yang juga dikhawatirkan, kata Mayke, bila orang tuanya ambisius, mereka menginginkan target tertentu. "Ketika anaknya diajarkan, lalu mereka frustasi, nah itu bahayanya. Metode ini juga dapat memancing orang tua untuk membenarkan bahwa sejak bayi anak harus belajar" ujarnya.
Yang lebih baik, lanjut Mayke, anak diberikan metode dengan apa yang mereka alami secara faktual bukan melalui gambar. "Flash card hanya gambar, gambar yang tidak faktual. Lebih baik mereka belajar misalnya apa itu bola dengan cara memagang dan memainkannya. Karena yang penting dalam tahap ini adalah sensomotor, semua indera perlu dirangsang, Jadi anak tidak hanya belajar dengan melihat dan mengingat kartu-kartu itu," ujarnya.
Ia menekankan kembali bahwa pada usia batita yang perlu dirangsang adalah sensomotoriknya karena kemampuan berpikirnya masih pra-operasional sehingga yang harus diberikan adalah sesuatu yang konkret, nyata, dialami, dirasakan. Akan lebih baik bila anak-anak atau bayi diterjunkan langsung dengan pengalamannya.
Kalaupun mau memperkenalkan gambar kepada anak, lanjut Mayke, orang tua mungkin dapat melakukannya dengan cara menghubungkannya langsung dengan sesuatu yang nyata. "Pada anak usia setahun misalnya sambil dipangku, kita perlihatkan gambar mobil lalu lihat juga mobil ayah seperti apa. Jadi related to something very completely real," ujarnya.
MEMBERIKAN stimulasi kepada bayi atau anak dengan metode flash card mungkin pernah Anda dengar atau bahkan dipraktikan. Di kalangan para ahli psikologi dan perkembangan anak, memberi stimulasi dengan metode flash card ini mengundang pro dan kontra.
Ada yang menilai metode ini baik selama sifatnya tidak memaksa dan disesuaikan dengan tahapan. Namun ada pula yang berpendapat stimulasi dengan cara flash card bukanlah stimulasi alami seperti halnya aktivitas bermain pada anak.
Salah satu ahli yang menentang metode stimulasi flash card adalah Psikolog dan Playtherapist dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si. Dalam pandangannya, mengajarkan anak dengan flash card termasuk kategori overstimulation atau stimulasi yang berlebihan.
"Tidak benar menyuruh bayi belajar, misalnya dengan flash card karena ini adalah overstimulation. Seorang pakar bermain Brian Sutton-Smith menegaskan ini sudah termasuk cognitive child labor atau secara kognitif anak sudah dipekerjakan terlalu keras," ungkap Mayke di Jakarta beberapa waktu lalu.
Menurut pendapat Mayke, ketika orang tua menyodorkan flash card berarti anak harus diam dan diminta memperhatikan sehingga anak sudah dituntut untuk belajar. "Di sana yang lebih ditekankan adalah faktor kognitifnya. Padahal di usia awal pertumbuhan yang harus dikembangkan adalah senses-nya (sensomotorik) , bukan memori. Artinya, bukan melatih memori secara khusus dengan diperlihatkan flash card. Itu sudah termasuk belajar yang sepertinya ada target yang ingin dicapai. Jadi sudah bukan bermain lagi," ungkapnya.
Mayke mengakui bahwa dengan pemberian metode flash card yang sifatnya singkat-singkat, mungkin anak akan cepat menangkap, mengingat dan mempelajarinya. Ada banyak penelitian yang mendukung maupun yang menentang metode ini. "Tentu penelitian itu ada yang pro dan kontra. Ada yang mengatakan itu bagus. Tetapi kontra juga sudah mengatakan bukti-bukti bahwa itu tidak baik bagi perkembangan anak karena masa anak adalah masa bermain di mana mereka tak bisa dituntut untuk diam dan belajar dengan suatu materi," tegasnya.
Mayke juga menilai dengan metode flash card hanyalah membantu percepatan kemampuan untuk sementara, dan yang dikhawatirkan justru anak akan jenuh sebelum waktunya. "Dari hasil penelitian menunjukkan, rangsangan terlalu dini yang sifatnya overstimulation ketika anak sudah bisa membaca hanya merupakan percepatan yang bersifat sementara. Tetapi saat mereka sudah menginjak kelas 4 SD dan prestasinya dibandingkan, tidak ada perbedaan yang signifkan," terangnya.
Bukti penelitian yang kontra dengan metode flash card tersebut, kata Mayke, salah satunya adalah yang dimuat film berjudul Smart Babies dari Discovery Health Channel. "Di situ, apa dikemukakan Glenn Doman dimentahkan, melalui penelitian psikologis. Para ahli yang dilibatkan dalam riset itu adalah psikiater, ahli neurologi, psikolog anak, pendidik anak," paparnya.
Yang juga dikhawatirkan, kata Mayke, bila orang tuanya ambisius, mereka menginginkan target tertentu. "Ketika anaknya diajarkan, lalu mereka frustasi, nah itu bahayanya. Metode ini juga dapat memancing orang tua untuk membenarkan bahwa sejak bayi anak harus belajar" ujarnya.
Yang lebih baik, lanjut Mayke, anak diberikan metode dengan apa yang mereka alami secara faktual bukan melalui gambar. "Flash card hanya gambar, gambar yang tidak faktual. Lebih baik mereka belajar misalnya apa itu bola dengan cara memagang dan memainkannya. Karena yang penting dalam tahap ini adalah sensomotor, semua indera perlu dirangsang, Jadi anak tidak hanya belajar dengan melihat dan mengingat kartu-kartu itu," ujarnya.
Ia menekankan kembali bahwa pada usia batita yang perlu dirangsang adalah sensomotoriknya karena kemampuan berpikirnya masih pra-operasional sehingga yang harus diberikan adalah sesuatu yang konkret, nyata, dialami, dirasakan. Akan lebih baik bila anak-anak atau bayi diterjunkan langsung dengan pengalamannya.
Kalaupun mau memperkenalkan gambar kepada anak, lanjut Mayke, orang tua mungkin dapat melakukannya dengan cara menghubungkannya langsung dengan sesuatu yang nyata. "Pada anak usia setahun misalnya sambil dipangku, kita perlihatkan gambar mobil lalu lihat juga mobil ayah seperti apa. Jadi related to something very completely real," ujarnya.
Senin, Agustus 04, 2008
Mengenalkan Anggota Tubuh
Anak harus dikenalkan pada bagian-bagian tubuhnya agar ia mau merawat dan menyayanginya.
"Ngapain, sih, harus repot-repot ngenalin anggota tubuh? Toh, nanti anak juga bakal tahu sendiri," begitu pikir kita.
Memang benar, Bu-Pak, pada akhirnya si kecil bakal tahu sendiri anggota tubuhnya dan kegunaannya masing-masing, entah dari "sekolah" atau cerita gurunya. Namun demikian, tak ada salahnya bila pengenalan itu dilakukan di rumah. Apalagi, seperti dikatakan Dra. Rose Mini A.P., M.Psi., dalam tes psikologi ada pertanyaan mengenai kegunaan anggota tubuh. Misal, kalau melempar sesuatu dengan apa atau kalau menendang sesuatu dengan apa. "Nah, bila anak tak pernah dikenalkan dengan anggota tubuhnya dan fungsi-fungsinya, tentu ia bisa salah menjawab. Jadi, penting sekali mengenalkan anggota tubuh dan fungsi-fungsinya. "
Lebih dari itu, lanjut psikolog yang akrab disapa Romi ini, dengan kita mengenalkannya sejak dini, anak pun akan merawat dan menyayangi anggota tubuhnya sendiri. Bukankah menjaga kebersihan anggota tubuh amat penting untuk kesehatan?
LEWAT PERMAINAN
Namun, sebelum kita mengenalkan anggota tubuh berikut fungsi-fungsinya, Romi menyarankan agar kita mempelajarinya lebih dulu dengan membaca buku, misal. Tujuannya tentu agar kita tak salah memberikan informasi. Setelah itu, barulah kita kenalkan pada si kecil. Namun dalam mengenalkan juga harus memperhatikan usia anak. "Untuk batita, pengenalannya tak perlu sampai terlalu njlimet, cukup rangka luar saja semisal pancaindra, tangan-kaki, dan bagian-bagian tubuh lain yang terlihat."
Tentu cara mengenalkannya harus fun agar semua informasi dapat diterima dengan baik oleh si kecil. Dengan lagu, misal, "Kepala pundak lutut kaki lutut kaki..." atau dengan boneka manusia karena merupakan miniatur manusia yang paling baik. "Ketika ia menarik kaki bonekanya hingga putus, misal, kita bisa bilang, 'Aduh, kasihan, lo, Dek, kalau kakinya ditarik-tarik sampai patah seperti itu, bonekanya sakit.' Dengan begitu ia sadar, kaki dan anggota tubuh lainnya tak boleh diperlakukan kasar."
Media lain adalah orang yang ada di depan si kecil sendiri. Misal, "Ini tangan Mama, tangan Adek mana?" Bisa juga kita minta dia menggambar tangan. "Eh, tangan ternyata bisa gambar tangan, ya, Dek?", misal. Dari sini si kecil jadi tahu bahwa salah satu fungsi tangan ialah dapat digunakan untuk menggambar. Cara lain, minta ia mencetak tangan dan kakinya di atas kertas, lalu kita pun mencetak tangan dan kaki kita di kertas yang sama, "Wah, kaki Bunda lebih besar, ya, dari kaki Adek." Secara tak langsung, kita pun sekaligus mengenalkan konsep besar dan kecil padanya.
Bisa juga dengan membuat permainan, misal, kenapa ada sandal, karena ada kaki; kenapa ada cincin, karena ada jari: kenapa telunjuk diberi nama telunjuk, karena telunjuk merupakan jari yang digunakan untuk menunjuk; kenapa jempol dinamakan ibu jari, karena paling gendut dan paling besar di antara jari-jari lain; kenapa kita harus memakai topi, karena untuk melindungi kepala dari terik matahari atau hujan; dan lainnya.
Jadi, bilang Romi, banyak sekali cara yang bisa kita lakukan untuk mengenalkan anggota tubuh dan fungsi-fungsinya pada anak.
BELAJAR MERAWAT TUBUH
Dengan mengenalkan anggota tubuh dan fungsi-fungsinya, kita pun bisa mengajarkan anak untuk merawat dan menyayangi anggota tubuhnya. Namun dalam mengajarkannya jangan cuma mengambil bagian akhir saja, lo, alias tak dijelaskan, misal, "Dek, cuci tangan, dong. Pokoknya, tiap Adek mau makan harus cuci tangan dulu!" Cara begini, menurut Romi, hanya membuat anak bingung karena ia tak tahu mengapa ia harus cuci tangan dulu sebelum makan.
Sebaiknya katakan, "Dek, sebelum makan, kita harus cuci tangan dulu, karena tangan, kan, kita gunakan untuk macem-macem, untuk main pasir, main boneka. Nah, tangan kita, kan, jadi kotor. Kalau kita makan dengan tangan kotor, nanti kita bisa sakit. Jadi, sebelum makan kita harus cuci tangan dulu."
Dengan begitu, ia tahu, kalau mau memegang makanan harus cuci tangan dulu. Begitu juga dalam menjelaskan mengapa ia harus cuci kaki dulu sebelum tidur, "Tadi Adek, kan, habis jalan-jalan. Kaki Adek jadi kotor. Kalau kaki Adek enggak dicuci dulu, nanti tempat tidurnya jadi kotor. Makanya, sebelum tidur, Adek harus cuci kaki dulu."
Contoh lain, lanjut Direktur Utama Essa Consulting Group ini, kala kita mengenalkan pancaindra dengan bermain ciluk-ba, misal, si kecil jadi tahu bahwa tanpa mata, ia tak bisa melihat. Nah, selanjutnya minta ia menjaga kebersihan matanya, "Kalau mata Adek enggak dibersihin, nanti Adek enggak bisa melihat orang, lo, karena ada kotorannya," misal, atau, "Mata enggak boleh dikucek-ucek, ya, Dek, karena tangan, kan, kotor. Nanti kalau matanya kemasukan pasir, Adek jadi enggak bisa melihat."
MANDI SENDIRI
Selanjutnya, kita jadi lebih mudah dalam mengajarkan kebersihan pada anak, khususnya mandi. "Biasanya orang tua, kan, sering mengeluh, kalau anaknya mandi sendiri pasti enggak bersih. Hingga, jalan keluar yang dipilih, anak selalu dimandikan," tutur Romi. Padahal, anak harus dilatih mandi sendiri agar ia belajar mandiri. Tentu dengan cara diajarkan secara perlahan dan diberi contoh.
Awalnya, anak biasanya hanya akan menyabuni perutnya, karena bagian itulah yang paling dekat dan terlihat oleh dirinya. Nah, kita bisa jelaskan, "Dek, kalau mandi, yang disabuni mulai dari bagian atas dulu, yaitu leher, baru bagian bawah, yaitu kaki, karena bagian bawah paling sering terkena macam-macam, hingga kotor. Bagian wajah belakangan.", misal. Untuk memudahkan, kita bisa ciptakan nyanyian dengan memberi nomor bagian tubuh, misal, nomor satu leher, kedua perut, ketiga tangan, dan seterusnya.
Jadi, tegas Romi, kita jangan hanya mengatakan, "Ayo mandi, Dek!", misal. "Anak kecil, kan, belum bisa mandi secara benar kalau tak diajarkan." Kemudian, usai mandi pun harus kita ajarkan memakai baju. Misal, bagian kerah yang lebih rendah berarti depan, lalu beri contoh bagaimana memakainya, hingga lama-lama si anak pun bisa melakukannya sendiri.
Dengan mengenal anggota tubuh, lanjut Romi, kita pun bisa membujuk anak untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tak disukai. Menyisir rambut, misal. "Anak batita biasanya tak mau nyisir. Ini wajar, karena ia belum punya kenikmatan melihat wajahnya bila rambutnya disisir rapi. Jadi, kita mesti omong, 'Dek, kalau rambut Adek enggak disisir, nanti kayak benang kusut, lo. Bunda jadi enggak bisa nyisirin Adek karena kalau disisir, Adek jadi kesakitan,' misal." Atau, jika si kecil tak mau potong kuku, kita jelaskan, "Dek, kita harus memotong kuku agar terlihat rapi. Kalau kuku Adek panjang-panjang dan ada item-item-nya, berarti kotor. Kita, kan, enggak tahu apa isinya. Kalau isinya telur cacing gimana? Nanti Adek bisa kena penyakit cacingan, lo."
TOILET TRAINING
Tentunya, dalam mengenalkan anggota tubuh, kita pun harus mengenalkan alat kelamin si kecil. Namun mengenalkannya harus menggunakan nama yang benar, lo. Jangan kita menyebut "burung" untuk alat kelamin si Buyung, melainkan penis. Begitu pula dengan alat kelamin si Upik, katakan namanya vagina, bukan "dompet" atau istilah lain yang tak tepat. Kita bisa bilang, "Ini alat kelamin pria, namanya penis, gunanya untuk pipis, tapi enggak usah disebut-sebut terus namanya, ya, Dek," misal.
Bila si kecil bertanya mengenai perbedaan alat kelamin laki-laki dan perempuan, jawablah seperlunya. Kita bisa bilang, "Hidung Ayah dan hidung Adek enggak sama, kan? Jadi, beda itu enggak apa-apa. Nah, penis itu untuk lelaki, sedangkan vagina untuk perempuan. Anak lelaki akan jadi Ayah dan anak perempuan akan jadi Bunda," misal. "Jadi, tak perlu sampai mendalam karena biasanya anak hanya ingin tahu kenapa berbeda. Cukup agar ia memahami bahwa perbedaan itu enggak apa-apa," tutur Romi.
Kemudian, ajarkan cara merawat alat kelaminnya. "Dek, kalau habis pipis harus dibersihkan, ya. Cara membersihkannya harus dari depan ke belakang, jangan dari belakang ke depan karena kotoran yang ada di belakang bisa masuk ke depan." Katakan juga, kita harus menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir karena air yang mengalir lebih baik ketimbang air di bak. Dengan begitu, ia akan ingat terus. "Kalau sudah lebih besar, anak mulai dapat diajarkan bagaimana membersihkan dengan tisu."
Tentu awalnya ia harus dibantu. Lama-lama kita bisa minta ia untuk mencoba membersihkan alat kelaminnya tiap kali habis BAK/BAB. Namun kita tak boleh memperlihatkan kesan jijik manakala melihat kotorannya, lo, tapi katakan, "Kotoran ini punya Adek sendiri, tapi harus dikeluarkan dan dibuang, karena kalau tidak, perut Adek bisa kembung dan besar. Nanti Adek bisa sakit perut." Semua ini, jelas Romi, merupakan bagian dari toilet training.
Sumber : Artikel Lepas
"Ngapain, sih, harus repot-repot ngenalin anggota tubuh? Toh, nanti anak juga bakal tahu sendiri," begitu pikir kita.
Memang benar, Bu-Pak, pada akhirnya si kecil bakal tahu sendiri anggota tubuhnya dan kegunaannya masing-masing, entah dari "sekolah" atau cerita gurunya. Namun demikian, tak ada salahnya bila pengenalan itu dilakukan di rumah. Apalagi, seperti dikatakan Dra. Rose Mini A.P., M.Psi., dalam tes psikologi ada pertanyaan mengenai kegunaan anggota tubuh. Misal, kalau melempar sesuatu dengan apa atau kalau menendang sesuatu dengan apa. "Nah, bila anak tak pernah dikenalkan dengan anggota tubuhnya dan fungsi-fungsinya, tentu ia bisa salah menjawab. Jadi, penting sekali mengenalkan anggota tubuh dan fungsi-fungsinya. "
Lebih dari itu, lanjut psikolog yang akrab disapa Romi ini, dengan kita mengenalkannya sejak dini, anak pun akan merawat dan menyayangi anggota tubuhnya sendiri. Bukankah menjaga kebersihan anggota tubuh amat penting untuk kesehatan?
LEWAT PERMAINAN
Namun, sebelum kita mengenalkan anggota tubuh berikut fungsi-fungsinya, Romi menyarankan agar kita mempelajarinya lebih dulu dengan membaca buku, misal. Tujuannya tentu agar kita tak salah memberikan informasi. Setelah itu, barulah kita kenalkan pada si kecil. Namun dalam mengenalkan juga harus memperhatikan usia anak. "Untuk batita, pengenalannya tak perlu sampai terlalu njlimet, cukup rangka luar saja semisal pancaindra, tangan-kaki, dan bagian-bagian tubuh lain yang terlihat."
Tentu cara mengenalkannya harus fun agar semua informasi dapat diterima dengan baik oleh si kecil. Dengan lagu, misal, "Kepala pundak lutut kaki lutut kaki..." atau dengan boneka manusia karena merupakan miniatur manusia yang paling baik. "Ketika ia menarik kaki bonekanya hingga putus, misal, kita bisa bilang, 'Aduh, kasihan, lo, Dek, kalau kakinya ditarik-tarik sampai patah seperti itu, bonekanya sakit.' Dengan begitu ia sadar, kaki dan anggota tubuh lainnya tak boleh diperlakukan kasar."
Media lain adalah orang yang ada di depan si kecil sendiri. Misal, "Ini tangan Mama, tangan Adek mana?" Bisa juga kita minta dia menggambar tangan. "Eh, tangan ternyata bisa gambar tangan, ya, Dek?", misal. Dari sini si kecil jadi tahu bahwa salah satu fungsi tangan ialah dapat digunakan untuk menggambar. Cara lain, minta ia mencetak tangan dan kakinya di atas kertas, lalu kita pun mencetak tangan dan kaki kita di kertas yang sama, "Wah, kaki Bunda lebih besar, ya, dari kaki Adek." Secara tak langsung, kita pun sekaligus mengenalkan konsep besar dan kecil padanya.
Bisa juga dengan membuat permainan, misal, kenapa ada sandal, karena ada kaki; kenapa ada cincin, karena ada jari: kenapa telunjuk diberi nama telunjuk, karena telunjuk merupakan jari yang digunakan untuk menunjuk; kenapa jempol dinamakan ibu jari, karena paling gendut dan paling besar di antara jari-jari lain; kenapa kita harus memakai topi, karena untuk melindungi kepala dari terik matahari atau hujan; dan lainnya.
Jadi, bilang Romi, banyak sekali cara yang bisa kita lakukan untuk mengenalkan anggota tubuh dan fungsi-fungsinya pada anak.
BELAJAR MERAWAT TUBUH
Dengan mengenalkan anggota tubuh dan fungsi-fungsinya, kita pun bisa mengajarkan anak untuk merawat dan menyayangi anggota tubuhnya. Namun dalam mengajarkannya jangan cuma mengambil bagian akhir saja, lo, alias tak dijelaskan, misal, "Dek, cuci tangan, dong. Pokoknya, tiap Adek mau makan harus cuci tangan dulu!" Cara begini, menurut Romi, hanya membuat anak bingung karena ia tak tahu mengapa ia harus cuci tangan dulu sebelum makan.
Sebaiknya katakan, "Dek, sebelum makan, kita harus cuci tangan dulu, karena tangan, kan, kita gunakan untuk macem-macem, untuk main pasir, main boneka. Nah, tangan kita, kan, jadi kotor. Kalau kita makan dengan tangan kotor, nanti kita bisa sakit. Jadi, sebelum makan kita harus cuci tangan dulu."
Dengan begitu, ia tahu, kalau mau memegang makanan harus cuci tangan dulu. Begitu juga dalam menjelaskan mengapa ia harus cuci kaki dulu sebelum tidur, "Tadi Adek, kan, habis jalan-jalan. Kaki Adek jadi kotor. Kalau kaki Adek enggak dicuci dulu, nanti tempat tidurnya jadi kotor. Makanya, sebelum tidur, Adek harus cuci kaki dulu."
Contoh lain, lanjut Direktur Utama Essa Consulting Group ini, kala kita mengenalkan pancaindra dengan bermain ciluk-ba, misal, si kecil jadi tahu bahwa tanpa mata, ia tak bisa melihat. Nah, selanjutnya minta ia menjaga kebersihan matanya, "Kalau mata Adek enggak dibersihin, nanti Adek enggak bisa melihat orang, lo, karena ada kotorannya," misal, atau, "Mata enggak boleh dikucek-ucek, ya, Dek, karena tangan, kan, kotor. Nanti kalau matanya kemasukan pasir, Adek jadi enggak bisa melihat."
MANDI SENDIRI
Selanjutnya, kita jadi lebih mudah dalam mengajarkan kebersihan pada anak, khususnya mandi. "Biasanya orang tua, kan, sering mengeluh, kalau anaknya mandi sendiri pasti enggak bersih. Hingga, jalan keluar yang dipilih, anak selalu dimandikan," tutur Romi. Padahal, anak harus dilatih mandi sendiri agar ia belajar mandiri. Tentu dengan cara diajarkan secara perlahan dan diberi contoh.
Awalnya, anak biasanya hanya akan menyabuni perutnya, karena bagian itulah yang paling dekat dan terlihat oleh dirinya. Nah, kita bisa jelaskan, "Dek, kalau mandi, yang disabuni mulai dari bagian atas dulu, yaitu leher, baru bagian bawah, yaitu kaki, karena bagian bawah paling sering terkena macam-macam, hingga kotor. Bagian wajah belakangan.", misal. Untuk memudahkan, kita bisa ciptakan nyanyian dengan memberi nomor bagian tubuh, misal, nomor satu leher, kedua perut, ketiga tangan, dan seterusnya.
Jadi, tegas Romi, kita jangan hanya mengatakan, "Ayo mandi, Dek!", misal. "Anak kecil, kan, belum bisa mandi secara benar kalau tak diajarkan." Kemudian, usai mandi pun harus kita ajarkan memakai baju. Misal, bagian kerah yang lebih rendah berarti depan, lalu beri contoh bagaimana memakainya, hingga lama-lama si anak pun bisa melakukannya sendiri.
Dengan mengenal anggota tubuh, lanjut Romi, kita pun bisa membujuk anak untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tak disukai. Menyisir rambut, misal. "Anak batita biasanya tak mau nyisir. Ini wajar, karena ia belum punya kenikmatan melihat wajahnya bila rambutnya disisir rapi. Jadi, kita mesti omong, 'Dek, kalau rambut Adek enggak disisir, nanti kayak benang kusut, lo. Bunda jadi enggak bisa nyisirin Adek karena kalau disisir, Adek jadi kesakitan,' misal." Atau, jika si kecil tak mau potong kuku, kita jelaskan, "Dek, kita harus memotong kuku agar terlihat rapi. Kalau kuku Adek panjang-panjang dan ada item-item-nya, berarti kotor. Kita, kan, enggak tahu apa isinya. Kalau isinya telur cacing gimana? Nanti Adek bisa kena penyakit cacingan, lo."
TOILET TRAINING
Tentunya, dalam mengenalkan anggota tubuh, kita pun harus mengenalkan alat kelamin si kecil. Namun mengenalkannya harus menggunakan nama yang benar, lo. Jangan kita menyebut "burung" untuk alat kelamin si Buyung, melainkan penis. Begitu pula dengan alat kelamin si Upik, katakan namanya vagina, bukan "dompet" atau istilah lain yang tak tepat. Kita bisa bilang, "Ini alat kelamin pria, namanya penis, gunanya untuk pipis, tapi enggak usah disebut-sebut terus namanya, ya, Dek," misal.
Bila si kecil bertanya mengenai perbedaan alat kelamin laki-laki dan perempuan, jawablah seperlunya. Kita bisa bilang, "Hidung Ayah dan hidung Adek enggak sama, kan? Jadi, beda itu enggak apa-apa. Nah, penis itu untuk lelaki, sedangkan vagina untuk perempuan. Anak lelaki akan jadi Ayah dan anak perempuan akan jadi Bunda," misal. "Jadi, tak perlu sampai mendalam karena biasanya anak hanya ingin tahu kenapa berbeda. Cukup agar ia memahami bahwa perbedaan itu enggak apa-apa," tutur Romi.
Kemudian, ajarkan cara merawat alat kelaminnya. "Dek, kalau habis pipis harus dibersihkan, ya. Cara membersihkannya harus dari depan ke belakang, jangan dari belakang ke depan karena kotoran yang ada di belakang bisa masuk ke depan." Katakan juga, kita harus menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir karena air yang mengalir lebih baik ketimbang air di bak. Dengan begitu, ia akan ingat terus. "Kalau sudah lebih besar, anak mulai dapat diajarkan bagaimana membersihkan dengan tisu."
Tentu awalnya ia harus dibantu. Lama-lama kita bisa minta ia untuk mencoba membersihkan alat kelaminnya tiap kali habis BAK/BAB. Namun kita tak boleh memperlihatkan kesan jijik manakala melihat kotorannya, lo, tapi katakan, "Kotoran ini punya Adek sendiri, tapi harus dikeluarkan dan dibuang, karena kalau tidak, perut Adek bisa kembung dan besar. Nanti Adek bisa sakit perut." Semua ini, jelas Romi, merupakan bagian dari toilet training.
Sumber : Artikel Lepas
Label:
parenting
Artikel : Gigit Tanda Sayang
Posted by: "pandu abyantara" pandu_abyantara@yahoo.co.id
Sun Jul 27, 2008 1:35 pm (PDT)
Semoga bermanfaat
Gigit Tanda Sayang
"Awww, sakitnya putingku digigit si kecil." Bagaimana mengatasi "kekerasan" oleh bayi?
Pernahkah Anda melihat adegan ini atau mungkin sering mengalaminya sendiri? Bayi Anda melakukan "kekerasan" seperti "meremas" pipi pengasuhnya, "menjambak" rambut Anda yang menjuntai di hadapannya, "menggigit" puting susu saat menikmati ASI dan sebagainya. Aduh... kecil-kecil kok hobi melakukan "kekerasan" ya? Apa yang sebenarnya tengah ia lakukan?
MELIHAT REAKSI
Di usia ini jelas tindak "kekerasan" yang dilakukan bayi tidaklah dimaksudkan untuk menyerang orang dewasa atau menunjukkan perilaku agresif. Saat melakukan hal-hal tersebut, sebenarnya bayi sedang:
* Berkomunikasi
Di usia ini komunikasi yang bisa dilakukan bayi masih sangat terbatas. Tangan dan mulut merupakan perangkat sosial pertama bayi untuk menyentuh objek apa saja yang ada di hadapannya atau dalam jangkauannya. Tak heran kalau wajah Anda, mainan atau benda apa saja yang ada di dekatnya langsung jadi sasaran.
* Melihat reaksi
Yang dinanti si bayi adalah reaksi orang dewasa yang menjadi "korbannya". Meski belum mengerti benar, tapi ia akan merasa gembira bila orangtua/pengasuhnya meresponsnya dengan meringis kesakitan, kaget, marah, dan sebagainya. Tak heran meski Anda sudah mengatakan "jangan" berulang kali ia tetap mengulanginya kembali karena menikmati respons yang diberikan atas perilaku tersebut.
* Perkembangan kemampuan motorik
Di usia 10 bulan, kemampuan motorik bayi semakin bertambah, temasuk mengayunkan tangan, menjatuhkan, melempar benda dan sebagainya. "Menampar" muka dan "menjambak" rambut juga termasuk dalam bagian perkembangan di usia ini.
TAK CUKUP BILANG "JANGAN"
Seperti disebutkan di atas, "kekerasan" yang dilakukan bayi termasuk wajar dan bukan bagian dari agresivitas atau dorongan untuk bertingkah kurang ajar. Berikut beberapa
langkah yang disarankan untuk menghentikan tindakan yang kurang berkenan tersebut:
* "Menampar" pipi
- Langkah pertama
katakan "jangan" atau "stop" dan segera jauhkan muka Anda dari jangkauannya. Tapi ingat, jangan menunjukkan reaksi berlebihan, misalnya kaget atau marah berlebihan. Sebab seperti penjelasan di atas, bisa jadi bayi tambah senang dengan reaksi "korbannya".
- Alihkan perhatiannya
dengan mainan bergemerincing. Usahakan sumber suara berasal dari samping kepalanya hingga bayi segera melepaskan pan- dangan dari objek di depannya.
- Bila bayi terlihat sangat suka "menampar", siapkan sasaran pengganti. Misalnya dengan
meniupkan balon karet seukuran kepala manusia (usahakan balon terbuat dari karet yang kuat sehingga tidak mudah meletus). Pegang balon di depan bayi berjarak sesuai jangkauan lengannya. Contohkan padanya bagaimana menepuk balon dengan menggunakan salah satu tangannya. Bila bayi terlihat suka, biarkan ia menikmati mainan barunya.
* "Menjambak" rambut
Langkah pertama tetap katakan "jangan" atau "stop" lalu segera jauhkan rambut Anda dari jangkauannya. Sekali lagi, tak perlu menunjukkan reaksi ber- lebihan.Bukan tidak mungkin bayi justru tambah semangat.
- Sebaiknya kepang/kuncir rambut Anda saat menimangnya. Bisa jadi bayi bereaksi "menjambak" rambut karena ada rambut yang terurai yang "menggodanya" untuk dijambak.
- Berikan mainan yang bisa digenggamnya. Keinginan untuk menggenggam sesuatu adalah bagian dari perkembangan motoriknya. Karenanya bila ada sesuatu dalam genggaman tangannya, ia tidak tertarik lagi pada rambut orangtua/pengasuhnya.
* "Menggigit" puting saat minum ASI
Bila giginya belum tumbuh benar, coba tahan sejenak, karena belum terlalu sakit. Keinginan menggigit puting saat minum ASI ini tidak akan lama (tak lebih dari 2 menit).
- Usahakan memberikan ASI dengan posisi yang benar (seluruh aerola masuk ke mulut bayi) sekaligus memperkecil kemungkinan si kecil menggigit.
- Bila kebiasaan menggigit tersebut masih berlanjut, saat menggigit, coba pencet ujung hidungnya sejenak sehingga bayi akan membuka mulut dan melepaskan gigitannya.
HARUSNYA TIDAK BERLANJUT
Meski tidak dimaksudkan untuk menyakiti orangtua/pengasuhnya, tetap saja akan terasa sakit bila bayi melakukan "kekerasan" seperti yang dicontohkan. Supaya tidak berkelanjutan sampai usia batita dan seterusnya, orangtua disarankan untuk mengabaikan tingkah laku semacam ini. Tentu saja tak sekadar mengabaikannya begitu saja. Sebab bisa jadi respons berupa pengabaian yang tidak menaruh peduli sama sekali akan ditangkap bayi sebagai pembenaran atas tingkah lakunya.
Salah-salah di usia selanjutnya ia akan menganggap apa yang dilakukannya ini benar. Buktinya, mama-papa tidak melarangnya.
Sebaliknya, mengabaikan yang dimaksud di sini adalah tidak bereaksi berlebihan. Namun tetap menunjukkan sikap tegas bahwa yang dilakukan anak bukanlah sesuatu yang baik. Orangtua harus hati-hati di titik ini. Sebab pada prinsipnya tindakan "kekerasan" tersebut tidak bermakna apa-apa bagi bayi dan tidak akan terbawa sampai usia selanjutnya. Tentu saja dengan syarat ada ketegasan sikap yang ditunjukkan orangtua.
Contohkan terus bagaimana seharusnya mengungkapkan perasaan. Misalnya dengan memeluk, membelai, mencium dan sebagainya. Siapa pun akan merasa nyaman dengan bentuk perhatian seperti itu. Bila terus diulang secara konsisten, dengan sendirinya anak akan meniru. Kalaupun di usia selanjutnya, anak tetap memukul, menjambak atau
menggigit, mungkin saja itu merupakan ekspresi kemarahannya. Jadi, bukan merupakan kelanjutan dari kebiasaan yang dilakukannya semasa bayi.
Marfuah Panji Astuti.
Foto: Iman/nakita
Narasumber:
Anna Surti Ariani, Psi.,
psikolog keluarga yang berpraktik
di beberapa tempat
Sun Jul 27, 2008 1:35 pm (PDT)
Semoga bermanfaat
Gigit Tanda Sayang
"Awww, sakitnya putingku digigit si kecil." Bagaimana mengatasi "kekerasan" oleh bayi?
Pernahkah Anda melihat adegan ini atau mungkin sering mengalaminya sendiri? Bayi Anda melakukan "kekerasan" seperti "meremas" pipi pengasuhnya, "menjambak" rambut Anda yang menjuntai di hadapannya, "menggigit" puting susu saat menikmati ASI dan sebagainya. Aduh... kecil-kecil kok hobi melakukan "kekerasan" ya? Apa yang sebenarnya tengah ia lakukan?
MELIHAT REAKSI
Di usia ini jelas tindak "kekerasan" yang dilakukan bayi tidaklah dimaksudkan untuk menyerang orang dewasa atau menunjukkan perilaku agresif. Saat melakukan hal-hal tersebut, sebenarnya bayi sedang:
* Berkomunikasi
Di usia ini komunikasi yang bisa dilakukan bayi masih sangat terbatas. Tangan dan mulut merupakan perangkat sosial pertama bayi untuk menyentuh objek apa saja yang ada di hadapannya atau dalam jangkauannya. Tak heran kalau wajah Anda, mainan atau benda apa saja yang ada di dekatnya langsung jadi sasaran.
* Melihat reaksi
Yang dinanti si bayi adalah reaksi orang dewasa yang menjadi "korbannya". Meski belum mengerti benar, tapi ia akan merasa gembira bila orangtua/pengasuhnya meresponsnya dengan meringis kesakitan, kaget, marah, dan sebagainya. Tak heran meski Anda sudah mengatakan "jangan" berulang kali ia tetap mengulanginya kembali karena menikmati respons yang diberikan atas perilaku tersebut.
* Perkembangan kemampuan motorik
Di usia 10 bulan, kemampuan motorik bayi semakin bertambah, temasuk mengayunkan tangan, menjatuhkan, melempar benda dan sebagainya. "Menampar" muka dan "menjambak" rambut juga termasuk dalam bagian perkembangan di usia ini.
TAK CUKUP BILANG "JANGAN"
Seperti disebutkan di atas, "kekerasan" yang dilakukan bayi termasuk wajar dan bukan bagian dari agresivitas atau dorongan untuk bertingkah kurang ajar. Berikut beberapa
langkah yang disarankan untuk menghentikan tindakan yang kurang berkenan tersebut:
* "Menampar" pipi
- Langkah pertama
katakan "jangan" atau "stop" dan segera jauhkan muka Anda dari jangkauannya. Tapi ingat, jangan menunjukkan reaksi berlebihan, misalnya kaget atau marah berlebihan. Sebab seperti penjelasan di atas, bisa jadi bayi tambah senang dengan reaksi "korbannya".
- Alihkan perhatiannya
dengan mainan bergemerincing. Usahakan sumber suara berasal dari samping kepalanya hingga bayi segera melepaskan pan- dangan dari objek di depannya.
- Bila bayi terlihat sangat suka "menampar", siapkan sasaran pengganti. Misalnya dengan
meniupkan balon karet seukuran kepala manusia (usahakan balon terbuat dari karet yang kuat sehingga tidak mudah meletus). Pegang balon di depan bayi berjarak sesuai jangkauan lengannya. Contohkan padanya bagaimana menepuk balon dengan menggunakan salah satu tangannya. Bila bayi terlihat suka, biarkan ia menikmati mainan barunya.
* "Menjambak" rambut
Langkah pertama tetap katakan "jangan" atau "stop" lalu segera jauhkan rambut Anda dari jangkauannya. Sekali lagi, tak perlu menunjukkan reaksi ber- lebihan.Bukan tidak mungkin bayi justru tambah semangat.
- Sebaiknya kepang/kuncir rambut Anda saat menimangnya. Bisa jadi bayi bereaksi "menjambak" rambut karena ada rambut yang terurai yang "menggodanya" untuk dijambak.
- Berikan mainan yang bisa digenggamnya. Keinginan untuk menggenggam sesuatu adalah bagian dari perkembangan motoriknya. Karenanya bila ada sesuatu dalam genggaman tangannya, ia tidak tertarik lagi pada rambut orangtua/pengasuhnya.
* "Menggigit" puting saat minum ASI
Bila giginya belum tumbuh benar, coba tahan sejenak, karena belum terlalu sakit. Keinginan menggigit puting saat minum ASI ini tidak akan lama (tak lebih dari 2 menit).
- Usahakan memberikan ASI dengan posisi yang benar (seluruh aerola masuk ke mulut bayi) sekaligus memperkecil kemungkinan si kecil menggigit.
- Bila kebiasaan menggigit tersebut masih berlanjut, saat menggigit, coba pencet ujung hidungnya sejenak sehingga bayi akan membuka mulut dan melepaskan gigitannya.
HARUSNYA TIDAK BERLANJUT
Meski tidak dimaksudkan untuk menyakiti orangtua/pengasuhnya, tetap saja akan terasa sakit bila bayi melakukan "kekerasan" seperti yang dicontohkan. Supaya tidak berkelanjutan sampai usia batita dan seterusnya, orangtua disarankan untuk mengabaikan tingkah laku semacam ini. Tentu saja tak sekadar mengabaikannya begitu saja. Sebab bisa jadi respons berupa pengabaian yang tidak menaruh peduli sama sekali akan ditangkap bayi sebagai pembenaran atas tingkah lakunya.
Salah-salah di usia selanjutnya ia akan menganggap apa yang dilakukannya ini benar. Buktinya, mama-papa tidak melarangnya.
Sebaliknya, mengabaikan yang dimaksud di sini adalah tidak bereaksi berlebihan. Namun tetap menunjukkan sikap tegas bahwa yang dilakukan anak bukanlah sesuatu yang baik. Orangtua harus hati-hati di titik ini. Sebab pada prinsipnya tindakan "kekerasan" tersebut tidak bermakna apa-apa bagi bayi dan tidak akan terbawa sampai usia selanjutnya. Tentu saja dengan syarat ada ketegasan sikap yang ditunjukkan orangtua.
Contohkan terus bagaimana seharusnya mengungkapkan perasaan. Misalnya dengan memeluk, membelai, mencium dan sebagainya. Siapa pun akan merasa nyaman dengan bentuk perhatian seperti itu. Bila terus diulang secara konsisten, dengan sendirinya anak akan meniru. Kalaupun di usia selanjutnya, anak tetap memukul, menjambak atau
menggigit, mungkin saja itu merupakan ekspresi kemarahannya. Jadi, bukan merupakan kelanjutan dari kebiasaan yang dilakukannya semasa bayi.
Marfuah Panji Astuti.
Foto: Iman/nakita
Narasumber:
Anna Surti Ariani, Psi.,
psikolog keluarga yang berpraktik
di beberapa tempat
Rabu, Juni 04, 2008
9 Rasa Takut Balita dan Tips Mengatasinya
( Senin, 07/04/2008 17:09 )
Berikut 9 jenis rasa takut yang kerap dialami batita dan tips mengatasi yang diberikan Ika.
1. TAKUT BERPISAH (SEPARATION ANXIETY)
Anak cemas harus berpisah dengan orang terdekatnya. Terutama ibunya, yang selama 3 tahun pertama menjadi figur paling dekat. Figur ibu, tak selalu harus berarti ibu kandung, melainkan pengasuh, kakek-nenek, ayah, atau siapa saja yang memang dekat dengan anak.
Kelekatan anak dengan sosok ibu yang semula terasa amat kental, biasanya akan berkurang di tahun-tahun berikutnya. Bahkan di usia 2 tahunan, kala sudah bereksplorasi, anak akan melepaskan diri dari keterikatan dengan ibunya. Justru akan jadi masalah bila si ibu kelewat melindungi/overprotektif atau hobi mengatur segala hal, hingga tak bisa mempercayakan anaknya pada orang lain.
Perlakuan semacam itu justru akan membuat kelekatan ibu-anak terus bertahan dan akhirnya menimbulkan kelekatan patologis sampai si anak besar. Akibatnya, anak tak mau sekolah, gampang nangis, dan sulit dibujuk saat ditinggal ibunya.Bahkan si ibu beranjak ke dapur atau ke kamar mandi pun, diikuti si anak terus. Repot, kan? Belum lagi ia jadi susah makan dan sulit tidur jika bukan dengan ibunya.
Cara Mengatasi:
Jelaskan pada si kecil, mengapa ibu harus pergi/bekerja. Begitu juga penjelasan tentang waktu meski anak usia ini belum sepenuhnya mengerti alias belum tahu persis kapan pagi, siang, sore, dan malam serta pengertian mengenai berapa lama masing-masing tenggang waktu tersebut. Akan sangat memudahkan bila orang tua menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Semisal, "Nanti, waktu kamu makan sore, Ibu sudah pulang." Jika tak bisa pulang sesuai waktu yang dijanjikan, beri tahu anak lewat telepon. Sebab, anak akan terus menunggu dan ini justru bisa menambah rasa takut anak. Ia akan terus cemas bertanya-tanya, kenapa sang ibu belum datang
2. TAKUT MASUK "SEKOLAH"
Bukan soal mudah melepas anak usia batita masuk playgroup. Sebab, ia harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Padahal, tak semua anak bisa gampang beradaptasi. Dari pihak orang tua, tidak sedikit pula yang justru tak rela melepas anaknya "sekolah" karena khawatir anaknya terjatuh kala bermain atau didorong temannya.
Cara Mengatasi:
Orang tua tetap perlu mengantar anak ke "sekolah" karena ini menyangkut soal pembiasaan. Kalaupun di hari-hari berikutnya ada sekolah-sekolah yang bersikap tegas hanya membolehkan orang tua menunggu di luar, sampaikan informasi ini pada anak. Guru pun harus bisa menarik perhatian anak agar tidak terfokus pada ketiadaan pendampingan orang tuanya dengan bermain. Di saat asyik bermain dengan teman-temannya niscaya ia akan lupa.
3. TAKUT PADA ORANG ASING
Di usia-usia awal, anak memang mau digendong/dekat dengan siapa saja. Namun di usia 8-9 bulan biasanya mulai muncul ketakutan atau sikap menjaga jarak pada orang yang belum begitu dikenalnya. Ini normal karena anak sudah mengerti/mengenali orang. Ia mulai sadar, mana orang tuanya dan mana orang lain yang jarang dilihatnya.
Cara Mengatasi:
Di usia batita seharusnya rasa takut pada orang asing sudah mulai berangsur hilang karena, toh, ia sudah bereksplorasi. Semestinya anak sudah memperoleh cukup pengetahuan untuk menyadari bahwa tak semua orang asing/yang belum begitu dikenalnya merupakan ancaman baginya.
Biasanya, justru karena orang tua kerap menakut-nakuti, sehingga anak bersikap seperti itu. "Awas, jangan deket-deket sama orang yang belum kamu kenal. Nanti diculik, lo!" Memang boleh-boleh saja orang tua menasehati anak untuk berhati-hati/bersikap waspada pada orang asing, tapi sewajarnya saja dan bukan dengan cara menakut-nakutinya.
4. TAKUT PADA DOKTER
Mungkin pernah mengalami hal tak mengenakkan seperti disuntik, anak jadi takut pada sosok tertentu. Belum lagi kalau orang tua rajin "mengancam" setiap kali anak dianggap nakal. "Nanti disuntik Bu Dokter, lo, kalau makannya enggak habis!" atau "Nanti Mama bilangin Pak Satpam, ya!
Cara Mengatasi:
Izinkan anak membawa benda atau mainan kesayangannya saat datang ke dokter sehingga ia merasa aman dan nyaman. Di rumah, orang tua bisa membantunya dengan menyediakan mainan berupa perangkat dokter-dokteran. Biarkan anak menjalani peran dokter dengan boneka sebagai pasiennya. Secara berkala ajak anak ke dokter gigi untuk menjaga kesehatan giginya. Tak ada salahnya juga mengajak dia saat orang tua atau kakak/adiknya berobat gigi. Dengan begitu anak memperoleh infomasi bagaimana dan ke mana ia harus pergi untuk menjaga kesehatan giginya.. Lambat laun ketakutannya pada sosok dokter justru berganti menjadi kekaguman.
5. TAKUT HANTU
"Hi, di situ ada hantunya. Ayo, jangan main di situ!" Gara-gara sering diancam dan ditakuti seperti itu, batita yang sebetulnya belum mengerti sama sekali tentang hantu, jadi tahu dan takut. Bisa juga karena ia menonton film horor di televisi.
Cara Mengatasi:
Jauhkan anak dari tontonan tentang hantu. Orang tua pun seyogyanya jangan pernah menakut-nakuti anak hanya demi kepentingannya. Bisa pula dengan membelikan buku-buku cerita atau tontonan anak mengenai karakter hantu atau penyihir yang baik hati.
6. TAKUT GELAP
Biasanya juga gara-gara orang tua. "Mama takut, ah. Lihat, deh, gelap, kan?" Takut pada gelap bisa juga karena anak pernah dihukum dengan dikurung di ruang gelap. Bila pengalaman pahit itu begitu membekas, bukan tidak mungkin rasa takutnya akan menetap sampai usia dewasa. Semisal keluar keringat dingin atau malah jadi sesak napas setiap kali berada di ruang gelap atau menjerit-jerit kala listrik mendadak padam.
Cara Mengatasi:
Saat tidur malam, jangan biarkan kamarnya dalam keadaan gelap gulita. Paling tidak, biarkan lampu tidur yang redup tetap menyala. Cara lain, biarkan boneka atau benda kesayangannya tetap menemaninya, seolah bertindak sebagai penjaganya hingga anak tak perlu takut.
7. TAKUT BERENANG
Sangat jarang anak usia batita takut air. Kecuali kalau dia pernah mengalami hal tak mengenakkan semisal tersedak atau malah nyaris tenggelam saat berenang hingga hidungnya banyak kemasukan air.
Cara Mengatasi:
Lakukan pembiasaan secara bertahap. Semisal, awalnya biarkan anak sekadar merendam kakinya atau menciprat-cipratkan air di kolam mainan sambil tetap mengenakan pakaian renang. Bisa juga dengan memasukkan anak ke klub renang yang ditangani ahlinya. Atau dengan sering mengajaknya berenang bersama dengan saudara/teman-teman seusianya. Tentu saja sambil terus didampingi dan dibangun keyakinan dirinya bahwa berenang sungguh menyenangkan, hingga tak perlu takut. Kalaupun anak tetap takut, jangan pernah memaksa apalagi memarahi atau melecehkan rasa takutnya. Semisal, "Payah, ah! Berenang, kok, takut!"
8. TAKUT SERANGGA
Tak sedikit anak yang takut pada jangkrik, kecoa atau serangga terbang lainnya. Sebetulnya ini wajar, hingga orang tua jangan tambah menakut-nakutinya, "Awas, nanti ada kecoa, lo." Hendaknya justru bisa memahami karena anak usia ini mungkin saja menemukan banyak hal yang dapat membuatnya takut.
Cara Mengatasi:
Boleh saja orang tua memberi pengenalan tentang alam binatang pada anak. Tak perlu kelewat detail seperti halnya profesor memberi kuliah. Tugas orang tua sebatas memahami ketakutan anak sekaligus membantunya merasa aman. Boleh saja katakan, "Ayah tahu kamu takut jangkrik." Cukup segitu dan jangan paksa anak berada terus-menerus dalam pembicaraan mengenai rasa takutnya. Jangan pula memaksa anak bersikap sok berani menghadapi ketakutannya. "Belum saatnya mencobakan anak melihat atau malah menyentuhkan serangga yang ditakutinya. Ini hanya akan membuat anak semakin takut." Bila dipaksakan terus, anak malah bisa fobia pada serangga. Biarkan anak tertarik dengan sendirinya dan biasanya ini terjadi setelah anak berusia 2 tahunan. Jika anak memang takut kala ada serangga yang terbang di dekatnya, bantulah untuk mengusirnya bersama
9. TAKUT ANJING
Wajar anak batita takut anjing mengingat penampilan binatang ini memang terkesan galak dengan gonggongan dan tampang yang garang. Belum lagi kebiasaannya suka melompat, menjilat atau malah mengejar. Tugas orang tualah untuk memahami sekaligus membantu anak mengatasi ketakutannya.
Cara Mengatasi:
Tak harus memaksa anak memelihara anjing atau mendorong anak menghadapi rasa takutnya dengan terus-menerus memberi 'ceramah', semisal "Ngapain, sih, takut sama anjing. Anjingnya, kan, baik." Menihilkan ketakutan anak justru akan membuat anak semakin takut dan bukan tidak mungkin akhirnya malah berkembang jadi fobia yang sulit diatasi.
Bila anak memang takut dan ketika berjalan bertemu anjing, pegangi tangannya untuk meyakinkannya ia bisa aman melewati binatang yang ditakutinya bersama orang tuanya. Jangan lupa untuk tetap menjaga jarak aman dari temperamen binatang yang relatif sulit diduga. Bisa juga dengan menunjukkan keakraban antara anjing sebagai hewan peliharaan dengan majikannya lewat cerita/dongeng. Atau kenalkan pada anjing tetangga dan tak ada salahnya meminta si pemilik memperlihatkan bagaimana menjalin keakraban dengan anjingnya tanpa harus merasa takut.
Berikut 9 jenis rasa takut yang kerap dialami batita dan tips mengatasi yang diberikan Ika.
1. TAKUT BERPISAH (SEPARATION ANXIETY)
Anak cemas harus berpisah dengan orang terdekatnya. Terutama ibunya, yang selama 3 tahun pertama menjadi figur paling dekat. Figur ibu, tak selalu harus berarti ibu kandung, melainkan pengasuh, kakek-nenek, ayah, atau siapa saja yang memang dekat dengan anak.
Kelekatan anak dengan sosok ibu yang semula terasa amat kental, biasanya akan berkurang di tahun-tahun berikutnya. Bahkan di usia 2 tahunan, kala sudah bereksplorasi, anak akan melepaskan diri dari keterikatan dengan ibunya. Justru akan jadi masalah bila si ibu kelewat melindungi/overprotektif atau hobi mengatur segala hal, hingga tak bisa mempercayakan anaknya pada orang lain.
Perlakuan semacam itu justru akan membuat kelekatan ibu-anak terus bertahan dan akhirnya menimbulkan kelekatan patologis sampai si anak besar. Akibatnya, anak tak mau sekolah, gampang nangis, dan sulit dibujuk saat ditinggal ibunya.Bahkan si ibu beranjak ke dapur atau ke kamar mandi pun, diikuti si anak terus. Repot, kan? Belum lagi ia jadi susah makan dan sulit tidur jika bukan dengan ibunya.
Cara Mengatasi:
Jelaskan pada si kecil, mengapa ibu harus pergi/bekerja. Begitu juga penjelasan tentang waktu meski anak usia ini belum sepenuhnya mengerti alias belum tahu persis kapan pagi, siang, sore, dan malam serta pengertian mengenai berapa lama masing-masing tenggang waktu tersebut. Akan sangat memudahkan bila orang tua menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Semisal, "Nanti, waktu kamu makan sore, Ibu sudah pulang." Jika tak bisa pulang sesuai waktu yang dijanjikan, beri tahu anak lewat telepon. Sebab, anak akan terus menunggu dan ini justru bisa menambah rasa takut anak. Ia akan terus cemas bertanya-tanya, kenapa sang ibu belum datang
2. TAKUT MASUK "SEKOLAH"
Bukan soal mudah melepas anak usia batita masuk playgroup. Sebab, ia harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Padahal, tak semua anak bisa gampang beradaptasi. Dari pihak orang tua, tidak sedikit pula yang justru tak rela melepas anaknya "sekolah" karena khawatir anaknya terjatuh kala bermain atau didorong temannya.
Cara Mengatasi:
Orang tua tetap perlu mengantar anak ke "sekolah" karena ini menyangkut soal pembiasaan. Kalaupun di hari-hari berikutnya ada sekolah-sekolah yang bersikap tegas hanya membolehkan orang tua menunggu di luar, sampaikan informasi ini pada anak. Guru pun harus bisa menarik perhatian anak agar tidak terfokus pada ketiadaan pendampingan orang tuanya dengan bermain. Di saat asyik bermain dengan teman-temannya niscaya ia akan lupa.
3. TAKUT PADA ORANG ASING
Di usia-usia awal, anak memang mau digendong/dekat dengan siapa saja. Namun di usia 8-9 bulan biasanya mulai muncul ketakutan atau sikap menjaga jarak pada orang yang belum begitu dikenalnya. Ini normal karena anak sudah mengerti/mengenali orang. Ia mulai sadar, mana orang tuanya dan mana orang lain yang jarang dilihatnya.
Cara Mengatasi:
Di usia batita seharusnya rasa takut pada orang asing sudah mulai berangsur hilang karena, toh, ia sudah bereksplorasi. Semestinya anak sudah memperoleh cukup pengetahuan untuk menyadari bahwa tak semua orang asing/yang belum begitu dikenalnya merupakan ancaman baginya.
Biasanya, justru karena orang tua kerap menakut-nakuti, sehingga anak bersikap seperti itu. "Awas, jangan deket-deket sama orang yang belum kamu kenal. Nanti diculik, lo!" Memang boleh-boleh saja orang tua menasehati anak untuk berhati-hati/bersikap waspada pada orang asing, tapi sewajarnya saja dan bukan dengan cara menakut-nakutinya.
4. TAKUT PADA DOKTER
Mungkin pernah mengalami hal tak mengenakkan seperti disuntik, anak jadi takut pada sosok tertentu. Belum lagi kalau orang tua rajin "mengancam" setiap kali anak dianggap nakal. "Nanti disuntik Bu Dokter, lo, kalau makannya enggak habis!" atau "Nanti Mama bilangin Pak Satpam, ya!
Cara Mengatasi:
Izinkan anak membawa benda atau mainan kesayangannya saat datang ke dokter sehingga ia merasa aman dan nyaman. Di rumah, orang tua bisa membantunya dengan menyediakan mainan berupa perangkat dokter-dokteran. Biarkan anak menjalani peran dokter dengan boneka sebagai pasiennya. Secara berkala ajak anak ke dokter gigi untuk menjaga kesehatan giginya. Tak ada salahnya juga mengajak dia saat orang tua atau kakak/adiknya berobat gigi. Dengan begitu anak memperoleh infomasi bagaimana dan ke mana ia harus pergi untuk menjaga kesehatan giginya.. Lambat laun ketakutannya pada sosok dokter justru berganti menjadi kekaguman.
5. TAKUT HANTU
"Hi, di situ ada hantunya. Ayo, jangan main di situ!" Gara-gara sering diancam dan ditakuti seperti itu, batita yang sebetulnya belum mengerti sama sekali tentang hantu, jadi tahu dan takut. Bisa juga karena ia menonton film horor di televisi.
Cara Mengatasi:
Jauhkan anak dari tontonan tentang hantu. Orang tua pun seyogyanya jangan pernah menakut-nakuti anak hanya demi kepentingannya. Bisa pula dengan membelikan buku-buku cerita atau tontonan anak mengenai karakter hantu atau penyihir yang baik hati.
6. TAKUT GELAP
Biasanya juga gara-gara orang tua. "Mama takut, ah. Lihat, deh, gelap, kan?" Takut pada gelap bisa juga karena anak pernah dihukum dengan dikurung di ruang gelap. Bila pengalaman pahit itu begitu membekas, bukan tidak mungkin rasa takutnya akan menetap sampai usia dewasa. Semisal keluar keringat dingin atau malah jadi sesak napas setiap kali berada di ruang gelap atau menjerit-jerit kala listrik mendadak padam.
Cara Mengatasi:
Saat tidur malam, jangan biarkan kamarnya dalam keadaan gelap gulita. Paling tidak, biarkan lampu tidur yang redup tetap menyala. Cara lain, biarkan boneka atau benda kesayangannya tetap menemaninya, seolah bertindak sebagai penjaganya hingga anak tak perlu takut.
7. TAKUT BERENANG
Sangat jarang anak usia batita takut air. Kecuali kalau dia pernah mengalami hal tak mengenakkan semisal tersedak atau malah nyaris tenggelam saat berenang hingga hidungnya banyak kemasukan air.
Cara Mengatasi:
Lakukan pembiasaan secara bertahap. Semisal, awalnya biarkan anak sekadar merendam kakinya atau menciprat-cipratkan air di kolam mainan sambil tetap mengenakan pakaian renang. Bisa juga dengan memasukkan anak ke klub renang yang ditangani ahlinya. Atau dengan sering mengajaknya berenang bersama dengan saudara/teman-teman seusianya. Tentu saja sambil terus didampingi dan dibangun keyakinan dirinya bahwa berenang sungguh menyenangkan, hingga tak perlu takut. Kalaupun anak tetap takut, jangan pernah memaksa apalagi memarahi atau melecehkan rasa takutnya. Semisal, "Payah, ah! Berenang, kok, takut!"
8. TAKUT SERANGGA
Tak sedikit anak yang takut pada jangkrik, kecoa atau serangga terbang lainnya. Sebetulnya ini wajar, hingga orang tua jangan tambah menakut-nakutinya, "Awas, nanti ada kecoa, lo." Hendaknya justru bisa memahami karena anak usia ini mungkin saja menemukan banyak hal yang dapat membuatnya takut.
Cara Mengatasi:
Boleh saja orang tua memberi pengenalan tentang alam binatang pada anak. Tak perlu kelewat detail seperti halnya profesor memberi kuliah. Tugas orang tua sebatas memahami ketakutan anak sekaligus membantunya merasa aman. Boleh saja katakan, "Ayah tahu kamu takut jangkrik." Cukup segitu dan jangan paksa anak berada terus-menerus dalam pembicaraan mengenai rasa takutnya. Jangan pula memaksa anak bersikap sok berani menghadapi ketakutannya. "Belum saatnya mencobakan anak melihat atau malah menyentuhkan serangga yang ditakutinya. Ini hanya akan membuat anak semakin takut." Bila dipaksakan terus, anak malah bisa fobia pada serangga. Biarkan anak tertarik dengan sendirinya dan biasanya ini terjadi setelah anak berusia 2 tahunan. Jika anak memang takut kala ada serangga yang terbang di dekatnya, bantulah untuk mengusirnya bersama
9. TAKUT ANJING
Wajar anak batita takut anjing mengingat penampilan binatang ini memang terkesan galak dengan gonggongan dan tampang yang garang. Belum lagi kebiasaannya suka melompat, menjilat atau malah mengejar. Tugas orang tualah untuk memahami sekaligus membantu anak mengatasi ketakutannya.
Cara Mengatasi:
Tak harus memaksa anak memelihara anjing atau mendorong anak menghadapi rasa takutnya dengan terus-menerus memberi 'ceramah', semisal "Ngapain, sih, takut sama anjing. Anjingnya, kan, baik." Menihilkan ketakutan anak justru akan membuat anak semakin takut dan bukan tidak mungkin akhirnya malah berkembang jadi fobia yang sulit diatasi.
Bila anak memang takut dan ketika berjalan bertemu anjing, pegangi tangannya untuk meyakinkannya ia bisa aman melewati binatang yang ditakutinya bersama orang tuanya. Jangan lupa untuk tetap menjaga jarak aman dari temperamen binatang yang relatif sulit diduga. Bisa juga dengan menunjukkan keakraban antara anjing sebagai hewan peliharaan dengan majikannya lewat cerita/dongeng. Atau kenalkan pada anjing tetangga dan tak ada salahnya meminta si pemilik memperlihatkan bagaimana menjalin keakraban dengan anjingnya tanpa harus merasa takut.
Label:
parenting
Anak Lelaki vs Perempuan, Haruskah Diperlakukan Beda?
Kehadiran anak pada sebuah keluarga, apa pun jenis kelaminnya, pasti akan disambut bahagia. Namun, ketika anak mulai beranjak besar, haruskah orangtua membedakan perlakuannya, terhadap anak perempuan dan anak lelaki?
Ketika sebuah pasangan tengah menyambut hadirnya momongan, jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan sang ibu pasti tak akan terlalu menjadi masalah. "Perempuan atau laki-laki, sama saja," begitu selalu jawaban yang terlontar dari sepasang suami istri ketika
ditanyai harapannya tentang kehadiran anak dalam rumahtangganya.
Ketika bayi yang diidamkannya kemudian lahir, perlakuan yang berbeda, baik berasal dari orangtuanya maupun lingkungannya mulai tampak dan makin terasa. Misalnya saja, dari pemilihan warna cat kamar bayi, sprei, hingga bungkus kado yang diberikan pun berbeda.
Secara umum, bayi perempuan akan selalu dikaitkan dengan warna pink atau merah muda, sementara warna biru sudah pasti akan ditujukan bagi bayi lelaki.
Lantas, apakah perlakuan yang berbeda ini akan selalu muncul hingga bayi-bayi ini tumbuh dan berkembang hingga beranjak besar?
A. ANAK LAKI-LAKI
Jika berulang kali anak menangis dan mengatakan Anda sebagai ibu yang tidak adil, Anda harus introspeksi diri, bagaimana Anda mengatasi segala sesuatunya. Perlakuan yang sama terhadap kakak beradik yang berbeda jenis kelaminnya, merupakan sasaran yang penting untuk diperjuangkan.
Penelitian yang dilakukan ahli kepada para remaja, membenarkan pernyataan para orang tua mereka seperti, "Kami lebih protektif terhadap anak perempuan dan lebih permisif terhadap anak laki-laki."
Walaupun ada beberapa solusi yang benar-benar aman ketika membuat beberapa keputusan terhadap anak-anak berbeda jenis kelamin ini, cobalah sesering mungkin
untuk membuat keputusan yang sama baiknya bagi anak perempuan maupun anak lelaki.
Coba perhatikan, apa yang dikatakan para ahli yang telah meneliti mengenai perbedaan perlakuan terhadap anak perempuan dengan anak lelaki berikut ini:
* Anak lelaki boleh bekerja di luar rumah sejak usia muda untuk mempercepat kemandiriannya, sementara anak perempuan tidak boleh.* Anak perempuan lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah tangga dibanding anak lelaki. Hal ini sudah sejak lama menunjukkan, rumah merupakan daerah kekuasaan perempuan, dan membuat anak lelaki seakan tak berdaya mengurus rumah.* Ayah memberikan dukungan yang lebih kepada anak lelaki dibanding kepada anak perempuannya, untuk ikut berpartisipasi di bidang olahraga yang lebih kompetitif.* Anak lelaki merasa lebih diberi kesempatan untuk mengendarai mobil dibandingkan anak perempuan, dan hal ini membuat anak lelaki jadi lebih mandiri.
Melihat perbedaan perlakuan atau stigma yang sudah menjadi pakem di dalam masyarakat, bagaimana Anda sebagai orangtua memandang hal ini melalui kepekaan Anda terhadap gender mereka? Cobalah ikuti "latihan" berikut ini, dan isilah titik-titik di belakang pernyataan yang ada, sesuai yang Anda rasa dan pikirkan!
1. "Anak perempuan saya sangat rindu rumah pada saat berlibur ke luar kota. Jadi, saya bersama pasangan memutuskan untuk ............ ......... ......... ......... ......... ......... "
2. "Anak lelaki saya sangat rindu rumah pada saat berkemah dengan teman-teman sekolahnya, sehingga saya dan pasangan memutuskan untuk ............ ......... ......"
Jawaban Anda:
"Ayo, kita jemput dia sekarang!" merupakan reaksi pertama dari para ibu ketika hal di
atas terjadi kepada anak perempuannya. Tetapi, apakah Anda dan pasangan juga akan menjemput anak lelaki yang sangat ingin pulang? Hampir sebagian besar akan menjawab "Rasanya tidak, ya".
Jelas sekali, bukan, anak lelaki diharapkan untuk lebih kuat dan tidak "cengeng" ketika merasa terlalu rindu akan rumah.
Berdasarkan budaya yang ada, anak lelaki dibesarkan untuk dapat mengandalkan diri
sendiri, kuat, agresif, berhasil, dan dapat mengendalikan emosinya.
Artinya, mereka harus menghindari semua hal yang berbau kewanita-wanitaan atau menurut perasaan. Betapa sulitnya bagi anak lelaki, yang juga memiliki perasaan dan emosi.
B. ANAK PEREMPUAN
Sebaliknya, anak perempuan mempunyai beban lain. Ketika orangtuanya mengatakan,
mereka harus kuat, mandiri, sejajar dengan lelaki di segala bidang, dan sebagainya, di sisi lain masyarakat juga mengatakan, "Ya, perempuan harus kuat dan mandiri, tetapi tetap harus feminin, pasif, dan terpenting lagi, harus sopan (yang kadangkala lebih sering diartikan sebagai mengalah) di saat yang sama."
Jadi, sebaiknya berikanlah dukungan kepada anak perempuan Anda untuk ikut berkompetisi dan berloma di bidang akademi, mulai dari olahraga, Bahasa Inggris, ilmu
pengetahuan umum, sampai matematika. Tak ada alasan bagi anak perempuan untuk kurang berhasil di bidang akademi, yang biasanya lebih dikuasai anak lelaki.
Pastikan anak perempuan Anda juga tahu, sebagai orangtua Anda yakin akan kemampuan mereka dalam berkompetisi di bidang akademik maupun bidang lainnya. Sebab, data hasil penelitian justru memperlihatkan, ternyata anak perempuan lebih pintar dibanding anak lelaki dalam bidang matematika, lho!
Oleh karena itu, hal terbaik yang dapat Anda dan pasangan lakukan untuk membangun rasa percaya diri kepada anak lelaki dan perempuan adalah dengan menghilangkan stereotipe atau stigma yang tercipta di dalam masyarakat. Jadi, jangan bedakan perlakuan Anda terhadap mereka berdasarkan jenis kelaminnya, cukup didik mereka untuk menjadi orang yang baik. Itu saja.
Ketika sebuah pasangan tengah menyambut hadirnya momongan, jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan sang ibu pasti tak akan terlalu menjadi masalah. "Perempuan atau laki-laki, sama saja," begitu selalu jawaban yang terlontar dari sepasang suami istri ketika
ditanyai harapannya tentang kehadiran anak dalam rumahtangganya.
Ketika bayi yang diidamkannya kemudian lahir, perlakuan yang berbeda, baik berasal dari orangtuanya maupun lingkungannya mulai tampak dan makin terasa. Misalnya saja, dari pemilihan warna cat kamar bayi, sprei, hingga bungkus kado yang diberikan pun berbeda.
Secara umum, bayi perempuan akan selalu dikaitkan dengan warna pink atau merah muda, sementara warna biru sudah pasti akan ditujukan bagi bayi lelaki.
Lantas, apakah perlakuan yang berbeda ini akan selalu muncul hingga bayi-bayi ini tumbuh dan berkembang hingga beranjak besar?
A. ANAK LAKI-LAKI
Jika berulang kali anak menangis dan mengatakan Anda sebagai ibu yang tidak adil, Anda harus introspeksi diri, bagaimana Anda mengatasi segala sesuatunya. Perlakuan yang sama terhadap kakak beradik yang berbeda jenis kelaminnya, merupakan sasaran yang penting untuk diperjuangkan.
Penelitian yang dilakukan ahli kepada para remaja, membenarkan pernyataan para orang tua mereka seperti, "Kami lebih protektif terhadap anak perempuan dan lebih permisif terhadap anak laki-laki."
Walaupun ada beberapa solusi yang benar-benar aman ketika membuat beberapa keputusan terhadap anak-anak berbeda jenis kelamin ini, cobalah sesering mungkin
untuk membuat keputusan yang sama baiknya bagi anak perempuan maupun anak lelaki.
Coba perhatikan, apa yang dikatakan para ahli yang telah meneliti mengenai perbedaan perlakuan terhadap anak perempuan dengan anak lelaki berikut ini:
* Anak lelaki boleh bekerja di luar rumah sejak usia muda untuk mempercepat kemandiriannya, sementara anak perempuan tidak boleh.* Anak perempuan lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah tangga dibanding anak lelaki. Hal ini sudah sejak lama menunjukkan, rumah merupakan daerah kekuasaan perempuan, dan membuat anak lelaki seakan tak berdaya mengurus rumah.* Ayah memberikan dukungan yang lebih kepada anak lelaki dibanding kepada anak perempuannya, untuk ikut berpartisipasi di bidang olahraga yang lebih kompetitif.* Anak lelaki merasa lebih diberi kesempatan untuk mengendarai mobil dibandingkan anak perempuan, dan hal ini membuat anak lelaki jadi lebih mandiri.
Melihat perbedaan perlakuan atau stigma yang sudah menjadi pakem di dalam masyarakat, bagaimana Anda sebagai orangtua memandang hal ini melalui kepekaan Anda terhadap gender mereka? Cobalah ikuti "latihan" berikut ini, dan isilah titik-titik di belakang pernyataan yang ada, sesuai yang Anda rasa dan pikirkan!
1. "Anak perempuan saya sangat rindu rumah pada saat berlibur ke luar kota. Jadi, saya bersama pasangan memutuskan untuk ............ ......... ......... ......... ......... ......... "
2. "Anak lelaki saya sangat rindu rumah pada saat berkemah dengan teman-teman sekolahnya, sehingga saya dan pasangan memutuskan untuk ............ ......... ......"
Jawaban Anda:
"Ayo, kita jemput dia sekarang!" merupakan reaksi pertama dari para ibu ketika hal di
atas terjadi kepada anak perempuannya. Tetapi, apakah Anda dan pasangan juga akan menjemput anak lelaki yang sangat ingin pulang? Hampir sebagian besar akan menjawab "Rasanya tidak, ya".
Jelas sekali, bukan, anak lelaki diharapkan untuk lebih kuat dan tidak "cengeng" ketika merasa terlalu rindu akan rumah.
Berdasarkan budaya yang ada, anak lelaki dibesarkan untuk dapat mengandalkan diri
sendiri, kuat, agresif, berhasil, dan dapat mengendalikan emosinya.
Artinya, mereka harus menghindari semua hal yang berbau kewanita-wanitaan atau menurut perasaan. Betapa sulitnya bagi anak lelaki, yang juga memiliki perasaan dan emosi.
B. ANAK PEREMPUAN
Sebaliknya, anak perempuan mempunyai beban lain. Ketika orangtuanya mengatakan,
mereka harus kuat, mandiri, sejajar dengan lelaki di segala bidang, dan sebagainya, di sisi lain masyarakat juga mengatakan, "Ya, perempuan harus kuat dan mandiri, tetapi tetap harus feminin, pasif, dan terpenting lagi, harus sopan (yang kadangkala lebih sering diartikan sebagai mengalah) di saat yang sama."
Jadi, sebaiknya berikanlah dukungan kepada anak perempuan Anda untuk ikut berkompetisi dan berloma di bidang akademi, mulai dari olahraga, Bahasa Inggris, ilmu
pengetahuan umum, sampai matematika. Tak ada alasan bagi anak perempuan untuk kurang berhasil di bidang akademi, yang biasanya lebih dikuasai anak lelaki.
Pastikan anak perempuan Anda juga tahu, sebagai orangtua Anda yakin akan kemampuan mereka dalam berkompetisi di bidang akademik maupun bidang lainnya. Sebab, data hasil penelitian justru memperlihatkan, ternyata anak perempuan lebih pintar dibanding anak lelaki dalam bidang matematika, lho!
Oleh karena itu, hal terbaik yang dapat Anda dan pasangan lakukan untuk membangun rasa percaya diri kepada anak lelaki dan perempuan adalah dengan menghilangkan stereotipe atau stigma yang tercipta di dalam masyarakat. Jadi, jangan bedakan perlakuan Anda terhadap mereka berdasarkan jenis kelaminnya, cukup didik mereka untuk menjadi orang yang baik. Itu saja.
Label:
parenting
Mengapa PutraPutri anda berperilaku buruk?
Berperilaku buruk seperti berkelahi, rewel dan menangis pada anak usia 2 - 3 tahun seringkali adalah cara efektif untuk mendapatkan perhatian orang tua. Aturan dasar yang harus dilakukan adalah sbb:
* Bertindak saat itu juga
* Hilangkan sumber pertengkaran
* Pindahkan anak anda dan lakukan dengan tegas
* Di saat yang sama arahkan perhatian anak anda pada mainan atau aktivitas lainnya
* Konsisten dan tegas, dan bukan marah sehingga anak anda mendapatkan pesan yang jelas bahwa dia tidak diperbolehkan berperilaku seperti itu
Kadang-kadang perilaku buruk sebaiknya diabaikan (ignored). Jika anak anda tahu bahwa dia tidak akan mendapatkan perhatian dengan berperilaku buruk, dengan sendirinya dia akan berhenti melakukannya.
Merengek/rewel juga sebaiknya diabaikan termasuk jika anak anda berguling-guling di lantai. Jika perlu, tempatkan anak anda sendirian ke suatu tempat yang aman sampai dia tenang.
Perilaku buruk harus dihukum, tetapi yang lebih penting adalah memberikan reward atas perilaku yang baik. Reward yang paling baik adalah memberikannya waktu, perhatian dan kasih sayang anda. Pujian dan pelukan akan membuat anak anda merasa senang dan spesial.
Jangan biasakan PutraPutri anda mendapatkan perhatian lebih jika berperilaku buruk dibandingkan dengan jika berperilaku manis. Anda harus memberikan penghargaan jika ia berperilaku baik. Hal ini akan mendorong PutraPutri anda untuk melakukannya lagi.
Dengan memberi penghargaan atas perilaku baiknya, anda memberikan pelajaran yang baik dan bermanfaat bagi PutraPutri anda.
Perilaku buruk harus dihukum saat itu terjadi agar ada hasilnya. Mengancam anak anda agar tidak melakukannya lagi adalah tidak bermanfaat. Jika tidak dilakukan saat itu juga, batita tidak akan mengerti mengapa ia dihukum.
Jika perilaku buruk tersebut dilakukan secara terus menerus dan tidak lagi dapat diabaikan, atau anak anda sudah mulai histeris, hukumannya adalah menempatkan anak anda sendirian ke suatu tempat yang aman selama 15 menit akan membuatnya tenang kembali.
Memukul PutraPutri anda bukanlah tindakan yang tepat untuk menghilangkan perilaku buruk. Sebaliknya, itu adalah pertanda bahwa anda sudah mulai kehilangan kendali. Pukulan tidak akan menghentikan anak anda untuk melakukannya lagi. Apakah anda akan memukulnya dengan lebih keras? Dengan melakukan ini, PutraPutri anda akan belajar bahwa kekerasan boleh digunakan untuk memaksakan kehendaknya pada orang lain.
Ketika perilaku buruk anda sudah sangat sulit diatasi, ajaklah PutraPutri anda berjalan-jalan di taman, shopping ke supermarket, atau mengunjungi temannya. Kegiatan itu akan merubah suasana hati anda dan PutraPutri anda.
* Bertindak saat itu juga
* Hilangkan sumber pertengkaran
* Pindahkan anak anda dan lakukan dengan tegas
* Di saat yang sama arahkan perhatian anak anda pada mainan atau aktivitas lainnya
* Konsisten dan tegas, dan bukan marah sehingga anak anda mendapatkan pesan yang jelas bahwa dia tidak diperbolehkan berperilaku seperti itu
Kadang-kadang perilaku buruk sebaiknya diabaikan (ignored). Jika anak anda tahu bahwa dia tidak akan mendapatkan perhatian dengan berperilaku buruk, dengan sendirinya dia akan berhenti melakukannya.
Merengek/rewel juga sebaiknya diabaikan termasuk jika anak anda berguling-guling di lantai. Jika perlu, tempatkan anak anda sendirian ke suatu tempat yang aman sampai dia tenang.
Perilaku buruk harus dihukum, tetapi yang lebih penting adalah memberikan reward atas perilaku yang baik. Reward yang paling baik adalah memberikannya waktu, perhatian dan kasih sayang anda. Pujian dan pelukan akan membuat anak anda merasa senang dan spesial.
Jangan biasakan PutraPutri anda mendapatkan perhatian lebih jika berperilaku buruk dibandingkan dengan jika berperilaku manis. Anda harus memberikan penghargaan jika ia berperilaku baik. Hal ini akan mendorong PutraPutri anda untuk melakukannya lagi.
Dengan memberi penghargaan atas perilaku baiknya, anda memberikan pelajaran yang baik dan bermanfaat bagi PutraPutri anda.
Perilaku buruk harus dihukum saat itu terjadi agar ada hasilnya. Mengancam anak anda agar tidak melakukannya lagi adalah tidak bermanfaat. Jika tidak dilakukan saat itu juga, batita tidak akan mengerti mengapa ia dihukum.
Jika perilaku buruk tersebut dilakukan secara terus menerus dan tidak lagi dapat diabaikan, atau anak anda sudah mulai histeris, hukumannya adalah menempatkan anak anda sendirian ke suatu tempat yang aman selama 15 menit akan membuatnya tenang kembali.
Memukul PutraPutri anda bukanlah tindakan yang tepat untuk menghilangkan perilaku buruk. Sebaliknya, itu adalah pertanda bahwa anda sudah mulai kehilangan kendali. Pukulan tidak akan menghentikan anak anda untuk melakukannya lagi. Apakah anda akan memukulnya dengan lebih keras? Dengan melakukan ini, PutraPutri anda akan belajar bahwa kekerasan boleh digunakan untuk memaksakan kehendaknya pada orang lain.
Ketika perilaku buruk anda sudah sangat sulit diatasi, ajaklah PutraPutri anda berjalan-jalan di taman, shopping ke supermarket, atau mengunjungi temannya. Kegiatan itu akan merubah suasana hati anda dan PutraPutri anda.
Label:
parenting
Senin, Juni 02, 2008
Jangan Sebar Ranjau Mental Pada Anak!
SETIAP perilaku anak sebagian besar hasil didikan atau penularan dari orangtua. Karena itu anak yang baik muncul karena orangtua yang baik. Sebaliknya, anakberperilaku buruk juga muncul dari orangtua yang buruk. Jangan salahkan anak bila mereka menjadi jahat atau kurang ajar. Mungkin Anda sebagai orangtua yang harus introspeksi. Bisa jadi Andalah yang kurang ajar dan menularkan pada anak. Mana yang Mengandung Ranjau Mental?Berikut adalah kuis yang dibuat oleh psikolog Kevin Steede, Ph.D, untuk mengetahui mana ranjau mental yang sering terjadi.
Pertanyaan:
1. “Sayang, ini mengagumkan sekali. Semua nilai rapormu bagus. Mama/Papa sayang deh sama kamu.”
A. Saya harus baik dalam segala hal.
B. Diri saya adalah prestasi-prestasi saya.
C. Emosi-emosi negatif adalah buruk.
D. Semua orang harus menyukai saya.
E. Melakukan kesalahan atau minta pertolongan adalah salah.
2. “Sekarang dengarkan ya, Nak, saya tahu berlatih musik (atau yang lain) itu berat, tetapi saya dulu belajar menyukainya. Karena itu kamu pun pasti bisa.”
A. Saya harus baik dalam segala hal.
B. Diri saya adalah prestasi-prestasi saya.
C. Emosi-emosi negatif adalah buruk.
D. Semua orang harus menyukai saya.
E. Melakukan kesalahan atau minta pertolongan adalah salah.
3. “Ma/Pa, dia tidak mau main lagi dengan saya. Mungkin dia marah karena saya kemarin main sama teman yang lain,” kata si anak. “Dengar sayang, kamu sekarang temui dia dan minta maaf. Kamu tidak mau dia marah sama kamu, ‘kan?”
A. Saya harus baik dalam segala hal.
B. Diri saya adalah prestasi-prestasi saya.
C. Emosi-emosi negatif adalah buruk.
D. Semua orang harus menyukai saya.
E. Melakukan kesalahan atau minta pertolongan adalah salah.
4. “Pa/Ma, mau nggak menolong saya menyusun mainan ini?” tanya si anak. “Tidak, Papa/Mama tidak bisa membantu. Dulu Papa/Mama dibiarkan Kakek/Nenek menyelesaikan mainan itu sendiri. Begitu cara mereka mengajar Mama/Papa jadi ‘orang bener’.”
A. Saya harus baik dalam segala hal.
B. Diri saya adalah prestasi-prestasi saya.
C. Emosi-emosi negatif adalah buruk.
D. Semua orang harus menyukai saya.
E. Melakukan kesalahan atau minta pertolongan adalah salah.
5. “Sudahlah sayang, tidak usah terlalu pusing. Mama/Papa yakin kamu nanti akan dapat nilai baik.”
A. Saya harus baik dalam segala hal.
B. Diri saya adalah prestasi-prestasi saya.
C. Emosi-emosi negatif adalah buruk.
D. Semua orang harus menyukai saya.
E. Melakukan kesalahan atau minta pertolongan adalah salah.
6. Apakah jalan terbaik untuk menghindari penanaman ranjau mental pada anak-anak?
A. Banyak menonton tayangan film anak-anak.
B. Melakukan koreksi hanya pada saat benar-benar diperlukan.
C. Mengenal ranjau mental pada diri kita sendiri dan gaya pengasuhan kita.
7. Konsep kritis yang menjadikan anak-anak mengerti bahwa orangtua mereka mencintai mereka, apa pun yang terjadi, disebut:
A. Perubahan paradigma.
B. Cinta tanpa syarat.
C. Cinta tak berbalas.
Jawaban:
1. B. Pernyataan orangtua ini menegaskan bahwa cinta mereka kepada anak didasarkan pada sebaik apa prestasi si anak di sekolah.
2. A. Pernyataan ini menegaskan, jika anak tidak suka dan tidak pandai bermain musik (atau yang lain seperti diinginkan orangtua), berarti ada yang salah pada dirinya.
3. D. Pernyataan ini menegaskan bahwa karena temannya marah, si anak pasti telah melakukan sesuatu yang salah.
4. E. Pernyataan itu menegaskan bahwa si anak bukan “orang bener” jika dibantu menyelesaikan pekerjaannya itu.
5. C. Dengan pernyataan itu anak akan menangkap pesan bahwa merasa cemas sebelum menghadapi ujian penting adalah hal yang tidak normal.
6. C. Jika orangtua menyadari keyakinan irasional pada diri mereka, akan lebih sensitif terhadap pentingnya menghindari penanaman ranjau mental kepada anak-anak.
7. B. Cinta sejati (tanpa syarat) mengomunikasikan kepada anak pesan bahwa mereka memiliki nilai dan berharga, lepas dari bagaimana perilaku mereka di saat apa pun
Pertanyaan:
1. “Sayang, ini mengagumkan sekali. Semua nilai rapormu bagus. Mama/Papa sayang deh sama kamu.”
A. Saya harus baik dalam segala hal.
B. Diri saya adalah prestasi-prestasi saya.
C. Emosi-emosi negatif adalah buruk.
D. Semua orang harus menyukai saya.
E. Melakukan kesalahan atau minta pertolongan adalah salah.
2. “Sekarang dengarkan ya, Nak, saya tahu berlatih musik (atau yang lain) itu berat, tetapi saya dulu belajar menyukainya. Karena itu kamu pun pasti bisa.”
A. Saya harus baik dalam segala hal.
B. Diri saya adalah prestasi-prestasi saya.
C. Emosi-emosi negatif adalah buruk.
D. Semua orang harus menyukai saya.
E. Melakukan kesalahan atau minta pertolongan adalah salah.
3. “Ma/Pa, dia tidak mau main lagi dengan saya. Mungkin dia marah karena saya kemarin main sama teman yang lain,” kata si anak. “Dengar sayang, kamu sekarang temui dia dan minta maaf. Kamu tidak mau dia marah sama kamu, ‘kan?”
A. Saya harus baik dalam segala hal.
B. Diri saya adalah prestasi-prestasi saya.
C. Emosi-emosi negatif adalah buruk.
D. Semua orang harus menyukai saya.
E. Melakukan kesalahan atau minta pertolongan adalah salah.
4. “Pa/Ma, mau nggak menolong saya menyusun mainan ini?” tanya si anak. “Tidak, Papa/Mama tidak bisa membantu. Dulu Papa/Mama dibiarkan Kakek/Nenek menyelesaikan mainan itu sendiri. Begitu cara mereka mengajar Mama/Papa jadi ‘orang bener’.”
A. Saya harus baik dalam segala hal.
B. Diri saya adalah prestasi-prestasi saya.
C. Emosi-emosi negatif adalah buruk.
D. Semua orang harus menyukai saya.
E. Melakukan kesalahan atau minta pertolongan adalah salah.
5. “Sudahlah sayang, tidak usah terlalu pusing. Mama/Papa yakin kamu nanti akan dapat nilai baik.”
A. Saya harus baik dalam segala hal.
B. Diri saya adalah prestasi-prestasi saya.
C. Emosi-emosi negatif adalah buruk.
D. Semua orang harus menyukai saya.
E. Melakukan kesalahan atau minta pertolongan adalah salah.
6. Apakah jalan terbaik untuk menghindari penanaman ranjau mental pada anak-anak?
A. Banyak menonton tayangan film anak-anak.
B. Melakukan koreksi hanya pada saat benar-benar diperlukan.
C. Mengenal ranjau mental pada diri kita sendiri dan gaya pengasuhan kita.
7. Konsep kritis yang menjadikan anak-anak mengerti bahwa orangtua mereka mencintai mereka, apa pun yang terjadi, disebut:
A. Perubahan paradigma.
B. Cinta tanpa syarat.
C. Cinta tak berbalas.
Jawaban:
1. B. Pernyataan orangtua ini menegaskan bahwa cinta mereka kepada anak didasarkan pada sebaik apa prestasi si anak di sekolah.
2. A. Pernyataan ini menegaskan, jika anak tidak suka dan tidak pandai bermain musik (atau yang lain seperti diinginkan orangtua), berarti ada yang salah pada dirinya.
3. D. Pernyataan ini menegaskan bahwa karena temannya marah, si anak pasti telah melakukan sesuatu yang salah.
4. E. Pernyataan itu menegaskan bahwa si anak bukan “orang bener” jika dibantu menyelesaikan pekerjaannya itu.
5. C. Dengan pernyataan itu anak akan menangkap pesan bahwa merasa cemas sebelum menghadapi ujian penting adalah hal yang tidak normal.
6. C. Jika orangtua menyadari keyakinan irasional pada diri mereka, akan lebih sensitif terhadap pentingnya menghindari penanaman ranjau mental kepada anak-anak.
7. B. Cinta sejati (tanpa syarat) mengomunikasikan kepada anak pesan bahwa mereka memiliki nilai dan berharga, lepas dari bagaimana perilaku mereka di saat apa pun
Label:
parenting
Kamis, Mei 15, 2008
Playgroup, Jaminan Anak Unggul?
Selasa, 13 Mei 2008 | 10:33 WIB , Kompas.com
Menjelang tahun ajaran baru, banyak orangtua yang memiliki anak berusia 2-5 tahun ikut sibuk mencari kelompok bermain (playgroup). Melihat tren tersebut, muncul kesan kelompok bermain merupakan jenjang pendidikan sebelum anak masuk TK. Benarkah anak lulusan kelompok bermain lebih unggul dibanding anak yang diam di rumah saja?
Menurut psikolog Jacinta Rini, Msi, sekolah usia dini memang bisa memberikan stimulasi yang baik untuk mengembangkan intelegensi, emosi, sosial, kemandirian, rasa percaya diri, rasa tanggung jawab, serta kematangan motorik. Namun, efek positif dari menyekolahkan anak usia dini juga tergantung pada kualitas sekolah dan pola asuh anak di rumah.
"Kalau sekolahnya bagus, tapi di rumah sejak awal anak sudah dimanjakan, menjadi the Prince, tidak mau diatur, semua harus dilayani dan tunduk pada dia, ya sekolah tidak akan banyak membantu," papar psikolog yang aktif menulis di situs e-psikologi. com ini.
Bahkan, imbuhnya, mungkin saja dia jadi trouble maker di sekolah, atau dia tidak suka di sekolah. Banyak alasan dibuat agar dia tidak sekolah, dan kalau mau sekolah pun ogah-ogahan.
Tak Harus Playgroup
Sebenarnya, lanjut Jacinta, fungsi kelompok bermain atau "sekolah usia dini" adalah untuk merangsang atau memfasilitasi munculnya kesempatan tumbuh kembang anak. "Di sekolah anak diajarkan berbagai hal, misalnya menyanyi, bermain, menyusun, membuat, membersihkan, atau membunyikan sesuatu," kata Jacinta.
Keterampilan dan stimulasi yang diterima anak di kelompok bermain, pada dasarnya bisa diajarkan orangtua di rumah. Bahkan, jika orangtua bisa memberikan stimulasi yang lebih padat dan berkualitas, bukan tidak mungkin hasilnya lebih bagus, dibandingkan anak yang dimasukkan ke sekolah mahal tetapi tidak memberikan pendidikan optimal untuk tumbuh kembang anak.
"Syaratnya, ibu dan ayahnya bijak dan pandai. Pintar di sini maksudnya,bisa menjamin perkembangan wawasan anak dan bisa mengenalkan anak pada berbagai permainan yang kreatif dan inovatif. Jadi, tidak ada istilah anak yang masuk playgroup akan lebih cerdas dari anak yang langsung TK," imbuh Jacinta.
Dampak Buruk
Meski secara teori banyak manfaat positif yang bisa dipetik anak di kelompok bermain, Jacinta mengingatkan para orangtua akan dampak negatifnya. Yakni, bertemunya anak dengan teman-teman yang berlatarbelakang "wawasan" berbeda.
Misalnya, anak Anda tidak boleh nonton teve - tapi anak lain kecanduan hal itu. Anak Anda tidak boleh main PS, tapi anak lain justru sebaliknya, dan sebagainya. "Juga masalah kesehatan (ketularan sakit), masalah guru (karakter/kepribadi an guru), atau kebijakan sekolah yang terkadang tidak bisa diganggu gugat," papar Jacinta.
Menimbang plus-minus dari kelompok bermain, semua kembali pada kebutuhan anak dan pertimbangan orangtua.
Menjelang tahun ajaran baru, banyak orangtua yang memiliki anak berusia 2-5 tahun ikut sibuk mencari kelompok bermain (playgroup). Melihat tren tersebut, muncul kesan kelompok bermain merupakan jenjang pendidikan sebelum anak masuk TK. Benarkah anak lulusan kelompok bermain lebih unggul dibanding anak yang diam di rumah saja?
Menurut psikolog Jacinta Rini, Msi, sekolah usia dini memang bisa memberikan stimulasi yang baik untuk mengembangkan intelegensi, emosi, sosial, kemandirian, rasa percaya diri, rasa tanggung jawab, serta kematangan motorik. Namun, efek positif dari menyekolahkan anak usia dini juga tergantung pada kualitas sekolah dan pola asuh anak di rumah.
"Kalau sekolahnya bagus, tapi di rumah sejak awal anak sudah dimanjakan, menjadi the Prince, tidak mau diatur, semua harus dilayani dan tunduk pada dia, ya sekolah tidak akan banyak membantu," papar psikolog yang aktif menulis di situs e-psikologi. com ini.
Bahkan, imbuhnya, mungkin saja dia jadi trouble maker di sekolah, atau dia tidak suka di sekolah. Banyak alasan dibuat agar dia tidak sekolah, dan kalau mau sekolah pun ogah-ogahan.
Tak Harus Playgroup
Sebenarnya, lanjut Jacinta, fungsi kelompok bermain atau "sekolah usia dini" adalah untuk merangsang atau memfasilitasi munculnya kesempatan tumbuh kembang anak. "Di sekolah anak diajarkan berbagai hal, misalnya menyanyi, bermain, menyusun, membuat, membersihkan, atau membunyikan sesuatu," kata Jacinta.
Keterampilan dan stimulasi yang diterima anak di kelompok bermain, pada dasarnya bisa diajarkan orangtua di rumah. Bahkan, jika orangtua bisa memberikan stimulasi yang lebih padat dan berkualitas, bukan tidak mungkin hasilnya lebih bagus, dibandingkan anak yang dimasukkan ke sekolah mahal tetapi tidak memberikan pendidikan optimal untuk tumbuh kembang anak.
"Syaratnya, ibu dan ayahnya bijak dan pandai. Pintar di sini maksudnya,bisa menjamin perkembangan wawasan anak dan bisa mengenalkan anak pada berbagai permainan yang kreatif dan inovatif. Jadi, tidak ada istilah anak yang masuk playgroup akan lebih cerdas dari anak yang langsung TK," imbuh Jacinta.
Dampak Buruk
Meski secara teori banyak manfaat positif yang bisa dipetik anak di kelompok bermain, Jacinta mengingatkan para orangtua akan dampak negatifnya. Yakni, bertemunya anak dengan teman-teman yang berlatarbelakang "wawasan" berbeda.
Misalnya, anak Anda tidak boleh nonton teve - tapi anak lain kecanduan hal itu. Anak Anda tidak boleh main PS, tapi anak lain justru sebaliknya, dan sebagainya. "Juga masalah kesehatan (ketularan sakit), masalah guru (karakter/kepribadi an guru), atau kebijakan sekolah yang terkadang tidak bisa diganggu gugat," papar Jacinta.
Menimbang plus-minus dari kelompok bermain, semua kembali pada kebutuhan anak dan pertimbangan orangtua.
Label:
parenting
Jumat, April 11, 2008
KETERHAMBATAN SI PRASEKOLAH
Amati supaya masalah ini tidak menjadi pelik.
Terlambat mengenali hambatan anak, tentu tak ingin kita alami. Namun bukan tidak mungkin, orangtua sama sekali tidak tahu kalau perkembangan anaknya tak semulus teori. Jadi bagaimana caranya mengenali munculnya hambatan di usia prasekolah? Ikuti tahapan-tahapan perkembangan normal anak usia 3-5 tahun lebih dahulu:
Dengan mengetahui tahapan perkembangan anak, orangtua akan sangat terbantu dalam memantau apakah buah hatinya termasuk anak yang percepatan pertumbuhannya terlambat, pesat, atau normal saja. Untuk memudahkan, ada metode sederhana yang bisa dijadikan panduan. Anda perlu memberikan perhatian lebih jika anak prasekolah:
1. Tidak mau berinteraksi dengan orang lain di luar lingkungan keluarganya.
2. Tidak bisa memegang pensil atau krayon dengan ibu jari dan telunjuk.
3. Tidak menunjukkan ketertarikan pada permainan interaktif.
4. Bersikap agresif, tidak memiliki pengendalian diri saat marah atau selagi kesal.
5. Tak mampu menggunakan kata "saya" dan "kamu" secara tepat.
6. Enggan bermain dengan anak-anak sebaya.
7. Tidak bisa dipisahkan dari orangtua.
Sebenarnya, tanda-tanda perkembangan anak terhambat bisa lebih banyak dari itu. Namun, jika si prasekolah memiliki ciri-ciri tersebut atau jika ada 1 saja jawaban "ya" dari 7 kriteria di atas, orangtua harus siap melakukan intervensi. Tujuh poin tadi merupakan ini yang paling sering terjadi dan paling mudah ditangkap kalangan awam.
Kendati begitu, psikolog yang juga dosen di UKRIDA Jakarta, Rani Agias Fitri, MSi menekankan agar orangtua tak mudah terpancing panik. "Sebaiknya konsultasikan ke ahlinya." Di tangan mereka, penelusuran secara detail dan mendalam diharapkan dapat mengatasi hambatan yang ada.
KISI-KISI PERKEMBANGAN
Memang sih orangtua bisa saja melakukan penelusuran sendiri secara lebih mendalam ketimbang sekadar memantau berdasarkan 7 poin di atas. Berikut kisi-kisi yang bisa dijadikan pegangan orangtua dalam melakukan penelusuran terhadap perkembangan anak.
* Dari aspek fisik
Di rentang usia 3-5 tahun dengan titik puncak di usia 5 tahun, kemampuan motorik anak, baik kasar maupun halus, sudah mencapai tingkat kematangan. Untuk motorik kasar, anak sudah bisa berjalan, berlari, melompat, berdiri dengan satu kaki, bahkan memanjat. Sedangkan untuk motorik halus, anak sudah bisa menjimpit benda-benda kecil, semisal koin. Mulai usia 5 tahun ke atas seharusnya anak sudah mampu memegang pensil dengan benar seperti yang dilakukan orang dewasa pada umumnya. Namun ingat, kemampuan memegang pensil dengan benar ini bukan berarti anak juga wajib bisa menulis lo.
Bila orangtua menemukan hambatan pada diri anaknya berarti si prasekolah terhambat perkembangannya di aspek fisik. Selanjutnya, lekaslah lakukan intervensi sesuai dengan kekurangan si anak. Jika terham-batnya di motorik halus, inter-vensinya cukup di aspek motorik halus. Sedangkan jika di usia 3-4 tahun saat mewarnai, gambar coretannya masih keluar garis, keterlambatannya masih dalam kategori ringan. Sedangkan di usia 5 tahun, semestinya sudah tidak seperti itu lagi. Tak perlu kelewat dipermasalahkan pula bila anak usia 5 tahun masih belum bisa menulis. Setidaknya ia bisa menirukan bentuk-bentuk tertentu, seperti garis lurus, lengkung dan sebagainya yang merupakan dasar kemampuan menulis.
* Dari aspek sosial
Di usia ini anak seharusnya sudah terampil berinteraksi dengan teman sebayanya. Peran peer group mulai terlihat penting. Jadi, jika anak di rentang usia ini masih soliter alias asyik dengan dunianya sendiri, khususnya bagi anak usia 4 tahun ke atas, berarti dia mengalami keterhambatan dalam perkembangan sosial. Namun, bila sebatas suka bersikap bossy dan tak mau sharing, hal itu bisa dikelompokkan sebagai keter-lambatan ringan. Barulah bila si prasekolah benar-benar sangat individualis, bisa dibilang tingkat keterlambatannya berat.
* Dari aspek kognisi
Wajarnya anak di rentang usia ini sudah masuk fase praope-rasional. Dalam bahasa awamnya, anak sudah dapat membayangkan objek tertentu atau seseorang hanya dari deskripsi, nama atau suaranya. Saat kita menyebut kata "jeruk", contohnya, anak bisa tahu bentuk jeruk seperti apa, bahkan tahu pula rasa dan aromanya. Begitu juga pengenalan suara. Saat meneleponnya, meski tidak bertatap muka, ia bisa mengatakan, "Ini ayah ya?" Artinya, anak mampu membuat kesimpulan deduktif (umum ke khusus) ataupun induktif (khusus ke umum). Jika si prasekolah masih memerlukan waktu cukup lama untuk membayangkan sebuah konsep yang diterimanya, dikatakan ia mengalami keterlambatan ringan. Barulah jika sampai harus selalu ditunjukkan bentuk konkretnya seperti apa, maka keterlambatannya bisa dikategorikan berat.
* Dari aspek bahasa
Di masa prasekolah, keingintahuan anak sangatlah besar. Cirinya, bawel bertanya dan kritis. Bagaimana tahapan perkembangan bahasa anak prasekolah?
3-4 tahun : Menguasai lebih dari 1.000 kosakata. Penguasaan tata bahasanya pun meningkat pesat. Contohnya, sudah bisa mengatakan, "Aku mau makan pisang manis."
4-6 tahun : Anak mulai kenal sopan santun saat bicara. Misalnya, ketika menjawab pertanyaan guru atau orang dewasa, ia sudah bisa memilih kata yang lebih santun.
Masih termasuk keterlambatan ringan jika si kecil memiliki banyak kata yang ingin diungkapkan tapi tidak tersusun secara komprehensif. Contohnya, "Ibu masak, pisau hilang." Begitu juga bila ia kehilangan sebuah kata saat ingin memperjelas kalimatnya. Misal, "Aku di kandang ayam.", tapi anak menyebutkannya, "Aku di ayam." Lain halnya jika si prasekolah bicaranya sepotong-sepotong atau belum jelas dan belum bisa dimengerti. Ini pertanda si prasekolah berada dalam kategori keterlambatan berat.
* Dari aspek kepribadian
Di rentang usia ini anak diharapkan memiliki inisiatif untuk bereksplorasi sebanyak dan sejauh mungkin. Sayangnya, anak kerap dihadang oleh aturan-aturan tertentu yang membatasi eksplorasinya.
Sekalipun begitu, kata Rani, seharusnya anak bisa mengatasi rintangan tersebut. Dengan demikian anak tetap dapat melakukan eksplorasi tanpa melanggar batasan, disamping tak harus surut semangat hanya karena adanya aturan.
Anak yang tidak memiliki kemandirian umumnya akan sangat takut berpisah dengan orangtua atau pengasuhnya. Ini merupakan ciri si prasekolah memiliki keterhambatan dalam perkembangan, khususnya untuk hal kepribadian. Akan tetapi bila di lingkungan A si prasekolah berani tapi di lingkungan B atau lainnya dia berubah jadi tertutup atau pendiam, itu artinya masih dalam kelompok keterlambatan ringan. Lain hal bila si prasekolah menarik diri sama sekali dari lingkungan mana pun, berarti masalahnya cukup berat.
PENYEBAB KETERLAMBATAN
Mengenai keterlambatan ini ada 2 penyebabnya, yakni:
* Masalah lingkungan
Apakah orangtua sudah memberi stimulasi dengan baik? Apakah orangtua memberi kesempatan yang cukup kepada si prasekolah untuk mengasah dan mengembangkan kemampuannya? Kalau jawabannya tidak, maka wajar saja muncul keterhambatan pada perkembangan anak. Bagaimana dengan
Anda dan si kecil di rumah? Kalau tampak hambatan-hambatan pada dirinya, jawablah pertanyaan-pertanya an di atas dan segera perbaiki pola asuh Anda.
* Aspek fisik
Apakah anak mendapat kesempatan mengenakan pakaian sendiri? Apakah orangtua sering mengajaknya bereksplorasi? Dengan bermain menyusun balok, mewarnai, menggambar atau permainan di atas kertas lainnya?
* Aspek sosial
Apakah kondisi lingkungan kondusif, dalam arti cukup banyak anak yang seusia dengan anaknya? Apakah orangtua memberi banyak kesempatan pada anak untuk bermain dengan temannya di luar rumah?
* Aspek kognisi
Apakah orangtua cukup intens mengajak anak berdiskusi, memotivasi anak untuk bercerita tentang apa saja yang baru dialaminya.
* Aspek bahasa
Keterlambatan bicara bisa terjadi akibat gangguan organ bicara atau saraf bicara. Sebelum ke situ, sebaiknya kita harus melihat dulu apakah orangtua rajin mengajak anaknya bicara atau menjadikan dirinya contoh dengan banyak bicara, selain mendorong anak untuk berani berpendapat.
* Sisi kepribadian
Kita bisa mengamati pergaulan anak sehari-hari apakah ia mampu berinteraksi dengan temannya. Perhatikan juga apakah anak mudah sedih atau menangis kala tidak dengan orangtuanya.
* Masalah fisik
Bisa karena kelainan genetik, kondisi neurologis/kerusaka n di otak atau kerusakan di organ-organ tertentu yang berujung pada terhambatnya kemampuan-kemampuan yang semestinya sudah bisa dicapai. Masalah fisik erat kaitannya dengan dunia medis sehingga penanganan yang perlu dilakukan adalah dengan tindakan medis, berupa pengobatan atau program terapi tertentu.
Terlambat mengenali hambatan anak, tentu tak ingin kita alami. Namun bukan tidak mungkin, orangtua sama sekali tidak tahu kalau perkembangan anaknya tak semulus teori. Jadi bagaimana caranya mengenali munculnya hambatan di usia prasekolah? Ikuti tahapan-tahapan perkembangan normal anak usia 3-5 tahun lebih dahulu:
Dengan mengetahui tahapan perkembangan anak, orangtua akan sangat terbantu dalam memantau apakah buah hatinya termasuk anak yang percepatan pertumbuhannya terlambat, pesat, atau normal saja. Untuk memudahkan, ada metode sederhana yang bisa dijadikan panduan. Anda perlu memberikan perhatian lebih jika anak prasekolah:
1. Tidak mau berinteraksi dengan orang lain di luar lingkungan keluarganya.
2. Tidak bisa memegang pensil atau krayon dengan ibu jari dan telunjuk.
3. Tidak menunjukkan ketertarikan pada permainan interaktif.
4. Bersikap agresif, tidak memiliki pengendalian diri saat marah atau selagi kesal.
5. Tak mampu menggunakan kata "saya" dan "kamu" secara tepat.
6. Enggan bermain dengan anak-anak sebaya.
7. Tidak bisa dipisahkan dari orangtua.
Sebenarnya, tanda-tanda perkembangan anak terhambat bisa lebih banyak dari itu. Namun, jika si prasekolah memiliki ciri-ciri tersebut atau jika ada 1 saja jawaban "ya" dari 7 kriteria di atas, orangtua harus siap melakukan intervensi. Tujuh poin tadi merupakan ini yang paling sering terjadi dan paling mudah ditangkap kalangan awam.
Kendati begitu, psikolog yang juga dosen di UKRIDA Jakarta, Rani Agias Fitri, MSi menekankan agar orangtua tak mudah terpancing panik. "Sebaiknya konsultasikan ke ahlinya." Di tangan mereka, penelusuran secara detail dan mendalam diharapkan dapat mengatasi hambatan yang ada.
KISI-KISI PERKEMBANGAN
Memang sih orangtua bisa saja melakukan penelusuran sendiri secara lebih mendalam ketimbang sekadar memantau berdasarkan 7 poin di atas. Berikut kisi-kisi yang bisa dijadikan pegangan orangtua dalam melakukan penelusuran terhadap perkembangan anak.
* Dari aspek fisik
Di rentang usia 3-5 tahun dengan titik puncak di usia 5 tahun, kemampuan motorik anak, baik kasar maupun halus, sudah mencapai tingkat kematangan. Untuk motorik kasar, anak sudah bisa berjalan, berlari, melompat, berdiri dengan satu kaki, bahkan memanjat. Sedangkan untuk motorik halus, anak sudah bisa menjimpit benda-benda kecil, semisal koin. Mulai usia 5 tahun ke atas seharusnya anak sudah mampu memegang pensil dengan benar seperti yang dilakukan orang dewasa pada umumnya. Namun ingat, kemampuan memegang pensil dengan benar ini bukan berarti anak juga wajib bisa menulis lo.
Bila orangtua menemukan hambatan pada diri anaknya berarti si prasekolah terhambat perkembangannya di aspek fisik. Selanjutnya, lekaslah lakukan intervensi sesuai dengan kekurangan si anak. Jika terham-batnya di motorik halus, inter-vensinya cukup di aspek motorik halus. Sedangkan jika di usia 3-4 tahun saat mewarnai, gambar coretannya masih keluar garis, keterlambatannya masih dalam kategori ringan. Sedangkan di usia 5 tahun, semestinya sudah tidak seperti itu lagi. Tak perlu kelewat dipermasalahkan pula bila anak usia 5 tahun masih belum bisa menulis. Setidaknya ia bisa menirukan bentuk-bentuk tertentu, seperti garis lurus, lengkung dan sebagainya yang merupakan dasar kemampuan menulis.
* Dari aspek sosial
Di usia ini anak seharusnya sudah terampil berinteraksi dengan teman sebayanya. Peran peer group mulai terlihat penting. Jadi, jika anak di rentang usia ini masih soliter alias asyik dengan dunianya sendiri, khususnya bagi anak usia 4 tahun ke atas, berarti dia mengalami keterhambatan dalam perkembangan sosial. Namun, bila sebatas suka bersikap bossy dan tak mau sharing, hal itu bisa dikelompokkan sebagai keter-lambatan ringan. Barulah bila si prasekolah benar-benar sangat individualis, bisa dibilang tingkat keterlambatannya berat.
* Dari aspek kognisi
Wajarnya anak di rentang usia ini sudah masuk fase praope-rasional. Dalam bahasa awamnya, anak sudah dapat membayangkan objek tertentu atau seseorang hanya dari deskripsi, nama atau suaranya. Saat kita menyebut kata "jeruk", contohnya, anak bisa tahu bentuk jeruk seperti apa, bahkan tahu pula rasa dan aromanya. Begitu juga pengenalan suara. Saat meneleponnya, meski tidak bertatap muka, ia bisa mengatakan, "Ini ayah ya?" Artinya, anak mampu membuat kesimpulan deduktif (umum ke khusus) ataupun induktif (khusus ke umum). Jika si prasekolah masih memerlukan waktu cukup lama untuk membayangkan sebuah konsep yang diterimanya, dikatakan ia mengalami keterlambatan ringan. Barulah jika sampai harus selalu ditunjukkan bentuk konkretnya seperti apa, maka keterlambatannya bisa dikategorikan berat.
* Dari aspek bahasa
Di masa prasekolah, keingintahuan anak sangatlah besar. Cirinya, bawel bertanya dan kritis. Bagaimana tahapan perkembangan bahasa anak prasekolah?
3-4 tahun : Menguasai lebih dari 1.000 kosakata. Penguasaan tata bahasanya pun meningkat pesat. Contohnya, sudah bisa mengatakan, "Aku mau makan pisang manis."
4-6 tahun : Anak mulai kenal sopan santun saat bicara. Misalnya, ketika menjawab pertanyaan guru atau orang dewasa, ia sudah bisa memilih kata yang lebih santun.
Masih termasuk keterlambatan ringan jika si kecil memiliki banyak kata yang ingin diungkapkan tapi tidak tersusun secara komprehensif. Contohnya, "Ibu masak, pisau hilang." Begitu juga bila ia kehilangan sebuah kata saat ingin memperjelas kalimatnya. Misal, "Aku di kandang ayam.", tapi anak menyebutkannya, "Aku di ayam." Lain halnya jika si prasekolah bicaranya sepotong-sepotong atau belum jelas dan belum bisa dimengerti. Ini pertanda si prasekolah berada dalam kategori keterlambatan berat.
* Dari aspek kepribadian
Di rentang usia ini anak diharapkan memiliki inisiatif untuk bereksplorasi sebanyak dan sejauh mungkin. Sayangnya, anak kerap dihadang oleh aturan-aturan tertentu yang membatasi eksplorasinya.
Sekalipun begitu, kata Rani, seharusnya anak bisa mengatasi rintangan tersebut. Dengan demikian anak tetap dapat melakukan eksplorasi tanpa melanggar batasan, disamping tak harus surut semangat hanya karena adanya aturan.
Anak yang tidak memiliki kemandirian umumnya akan sangat takut berpisah dengan orangtua atau pengasuhnya. Ini merupakan ciri si prasekolah memiliki keterhambatan dalam perkembangan, khususnya untuk hal kepribadian. Akan tetapi bila di lingkungan A si prasekolah berani tapi di lingkungan B atau lainnya dia berubah jadi tertutup atau pendiam, itu artinya masih dalam kelompok keterlambatan ringan. Lain hal bila si prasekolah menarik diri sama sekali dari lingkungan mana pun, berarti masalahnya cukup berat.
PENYEBAB KETERLAMBATAN
Mengenai keterlambatan ini ada 2 penyebabnya, yakni:
* Masalah lingkungan
Apakah orangtua sudah memberi stimulasi dengan baik? Apakah orangtua memberi kesempatan yang cukup kepada si prasekolah untuk mengasah dan mengembangkan kemampuannya? Kalau jawabannya tidak, maka wajar saja muncul keterhambatan pada perkembangan anak. Bagaimana dengan
Anda dan si kecil di rumah? Kalau tampak hambatan-hambatan pada dirinya, jawablah pertanyaan-pertanya an di atas dan segera perbaiki pola asuh Anda.
* Aspek fisik
Apakah anak mendapat kesempatan mengenakan pakaian sendiri? Apakah orangtua sering mengajaknya bereksplorasi? Dengan bermain menyusun balok, mewarnai, menggambar atau permainan di atas kertas lainnya?
* Aspek sosial
Apakah kondisi lingkungan kondusif, dalam arti cukup banyak anak yang seusia dengan anaknya? Apakah orangtua memberi banyak kesempatan pada anak untuk bermain dengan temannya di luar rumah?
* Aspek kognisi
Apakah orangtua cukup intens mengajak anak berdiskusi, memotivasi anak untuk bercerita tentang apa saja yang baru dialaminya.
* Aspek bahasa
Keterlambatan bicara bisa terjadi akibat gangguan organ bicara atau saraf bicara. Sebelum ke situ, sebaiknya kita harus melihat dulu apakah orangtua rajin mengajak anaknya bicara atau menjadikan dirinya contoh dengan banyak bicara, selain mendorong anak untuk berani berpendapat.
* Sisi kepribadian
Kita bisa mengamati pergaulan anak sehari-hari apakah ia mampu berinteraksi dengan temannya. Perhatikan juga apakah anak mudah sedih atau menangis kala tidak dengan orangtuanya.
* Masalah fisik
Bisa karena kelainan genetik, kondisi neurologis/kerusaka n di otak atau kerusakan di organ-organ tertentu yang berujung pada terhambatnya kemampuan-kemampuan yang semestinya sudah bisa dicapai. Masalah fisik erat kaitannya dengan dunia medis sehingga penanganan yang perlu dilakukan adalah dengan tindakan medis, berupa pengobatan atau program terapi tertentu.
Label:
parenting
Langganan:
Postingan (Atom)